About This Post

Correspondent Luigi PRALANGGA

Total 2 comments

Podcast Status No podcast here!

Features Email article link

Posted 324 days ago

technorati View blog reactions

post to del.icio.us

post to digg

post to ma.gnolia

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Rating Entry

Rating: 6.0/10(2 votes cast)

Articles

Stop Abuse: I wish I can go to school

Banyak kejadian, di beberapa negara pada belahan bumi di afrika, dari Malawi terus hingga Mali, dari Mauritania hingga Liberia, banyak anak-anak yang mengalami pelecehan dan penganiayaan, dan itu dilakukan oleh mereka yang semestinya melindungi.

Setahun yang lalu, Gadis berusia 15 tahun, sebutlah namanya Milicent, ditinggalkan kedua orangtuanya akibat HIV/AIDS, kemudian dibawanya Milicent oleh sang paman untuk tinggal bersama keluarganya di Gbarnaville. Sang paman berjanji untuk mengurusnya seperti anaknya sendiri, namun demikian, fakta yang ada adalah Milicent dijadikan pembantu oleh mereka dalam rumah tangga tersebut dan sering dipekerjakan di ladang.
Menjadi anak yatim-piatu, tidak memiliki harta sepeserpun, ia dihadapkan pada situasi bekerja paling tidak 10 jam sehari.
Itulah cerita yang terdengar di radio beberapa hari yang lalu.

“I wish I could go to school and complete my education,” katanya.

Badan PBB untuk kesejahteraan anak, UNICEF, terus berupaya keras untuk meningkatkan kesadaran publik dan mendorong diterbitkannya undang-undang guna melindungi dan meningkatkan kesejahteraan anak. Seperti di Malawi, UNICEF mencanangkan sebuah kampanye nasional bertemakan: “Stop Child Abuse”.

‘We have failed our children’

Untuk Liberia, dari apayang saya saksikan selama 3 tahun lebih ini, perihal kekerasan terhadap anak, terutama sexual violence – acapkali berselimut dalam tabir kerahasiaan dan dirasa sulit untuk menghentikannya. Banyak program yang sudah dicanangkan dan diskusi publik -pun ramai terdengar di radio, baik saat pagi hari saat berada ditengah kemacetan berangkat kerja, dan saat pulang ke rumah, topik itu selalu menjadi perdebatan hangat ‘on-air’.

Argumen sengitpun tak terelakkan lagi, khususnya saat membahas perihal seperti child labour, sexual abuse, child trafficking, early marriages dan praktek kebudayaan yang membahayakan [Genital Mutilation on Younger Women], dan lain sebagainya. Untuk negeri yang baru saja keluar dari konflik kekerasan yang panjang, seperti Liberia, selama 14 tahun lamanya, hak dan kesejahteraan anak-anak sudah pasti terpinggirkan.

Masalah tak berujung yang merundung kesejahteraan anak di Liberia, gambaran globalnya adalah sbb:

Angka kematian bayi dan balita di Liberia tergolong tinggi dan termasuk dalam daftar 5 besar tertinggi di dunia. menurut data UNICEF, lebih dari 15 15% anak di Liberia meninggal sebelum berumur 1 tahun.

Jenis penyakin yang masih tergolong terobati, seperti Malaria dan Campak adalah faktor penyebab kematian utama terhadap anak di Liberia. Gizi buruk dan infeksi pernafasan adalah penyebab kematian selanjutnya tiap tahun.

Hampir 40% anak dibawah umur 5 tahun menderita kejang-kejang akibat gizi buruk.

Hampir 40% dari penduduk tidak mempunyai akses kepada sarana aiar bersih dan hampir 75% tidak memiliki sarana sanitasi/MCK [Mandi-Cuci-kakus] yang layak.

Statistics HIV/AIDS prevalence berada pada level of 5.9 per cent; namun jumlah dilapangan diduga jauh lebih tinggi.

Konflik bersenjata, HIV/AIDS dan penyakit-penyakit lainiya telah membuat 230,000 anak kehilangan orang tua mereka.

Setengah juta anak tidak bisa bersekolah, dan dua pertiga dari anak-anak sekolah diajar oleh tenaga pengajar yang tidak memenuhi standar. Jumlah anak sekolah perempuan berada jauh tertinggal dibawah ketimbang laki-laki.

Meski berakhirnya konflik bersenjata, khususnya didaerah perbatasan Guinea dan Côte d’Ivoire, terus merecruit anak-anak untuk dijadikan prajurit belia.

Terlepas dari gambaran miris tersebut diatas, sudah banyak prestasi misi pemulihan perdamaian PBB bersama dengan badan-badan spesialis PBB lainya, serta para NGOs dan mitra organisasi LSM setempat, berupaya membenahi dan membangun kembali kepingan-kepingan, menyusun-nya menjadi satu kesatuan yang utuh tahap demi tahap.

Liberia masih jauh dari kata sempurna, namun senyum si cuplis ini, sudah bisa terlihat lebih lebar dan lebih cemerlang hari ini.

by ambar at 4 October 2007, 18:44

terus ingat ibukota kita sendiri, meski udah ada larangan dr pemerintah …. masih banyak aja pengemis anak2 sambil menggendong-gendong anak kecil … BAYI bahkan ! ngerubutin kita di lampu merah. Apakah mereka dipekerjakan juga ? Trenyuh……

by Iman at 6 October 2007, 13:41

Mungkin kampanyenya harus berbunyi “Perempuan dan anak-anak adalah masyarakat kelas pertama.” Biar bisa berubah cara pandang kita terhadap perempuan dan anak-anak.