Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Suatu pagi di Panti Asuhan - Addis Ababa, Ethiopia

15 July 2008, 12:07 , by Erfan Ahmad Piliang

 

Pagi itu sama dengan pagi minggu bulan sebelumnya sebuah aktifitas sosial yang rutin dilakukan dipinggir kota Addis Ababa, 20 km dari kediaman kami di Kaliti Akaki. Tepatnya disebuah panti asuhan Asco Children Centre yang mengelola lebih kurang 300 anak balita dan remaja yang ter-infeksi oleh penyakit HIV-AIDS panti ini dikelola oleh suster lan Maria sebagai pimpinan nya dibawah kordinasi dengan Konggregasi Missionaries of charity sisters yang didirikan oleh Mother Theresa dari India Calcuta serta dibawah pengawasan Catholic Vatican Embassy Addis Ababa. Kalaupun mau disebut sebagai volunteer amatir boleh jugalah

Aktifitas rutin ini saya lakukan bersama dengan atasan saya di Ethiopia Bp. Agus WidjayaTanzil & ibu Josephine Harjanti beliau ini sudah 15 tahun bermukim di Africa (Ghana & Ethiopia) dan cukup dikenal dikalangan Gereja/Vatican sebagai sosok yang selalu hadir disetiap aktivitas Charity dan dari Gereja Vatican ada seorang Pastur Monsignore Robinson yang selalu menghilhami kami untuk selalu peduli dengan kemanusiaan dan beliau pernah bertugas di Jakarta selama 5 tahunan.

Saat ini beliau sudah pindah tugas di Vatican Embassy India. Awalnya sih ada keengganan saya untuk berkunjung kesana, rasa takut, was-was, dan jijik tetapi melihat keikhlasan hati atasan tsb akhirnya terpanggil juga untuk ikut berbagi waktu menyambangi anak anak yang dalam kondisi diujung maut tersebut.

Aktifitas yang kami lakukan adalah memberikan hiburan kepada mereka melalui dialog kasih sayang sebagai motivasi hidup dan pemutaran film anak anak yang bernuansa lelucon maupun film Spiderman dan Harry Porter biasanya kegiatan ini menyita waktu sekitar 6 s/d 8 jam yang selalu ber-akhir pada jam 5 sore.

Terlintas kenang oleh saya suatu pagi pertama kunjungan saya kesana sembari memandangi suasana sekitar panti, saya telusuri jalan setapak yang ditata laksana berjalan dipematang sawah tetapi dipenuhi warna warni bunga bunga pegunungan liar yang begitu membuat hati ini sejuk memandangnya. LALU terbayang oleh saya seandainya saya terlahir sebagai anak terlantar atau yatim piatu mungkin saja ditempat seperti inilah rumahku.

Begitu kami tiba disana kedatangan kami sudah ditunggu oleh para suster yang memang tinggal diasrama panti,ada 3 suster señior yang menunggu kedatangan kami, setelah menyerahkan sedikit buah tangan berupa biscuit untuk anak anak panti kami dibawa keruang tamu yang suasananya samalah dengan suasana gereja penuh hiasan religius catholic. Dari informasi nya tercatat jumlah anak yang pada thn 2006 lalu sekitar 300 orang yang ter-infeksi oleh penyakit mematikan HIV-AIDS dengan rincian 200 org terdiri dari balita dan 100 org remaja putra & putri.

Dalam perjalanan mengelilingi panti yang berdiri diatas lahan 1 hektar terlihat sangat bahwa panti ini dikelola oleh tangan tangan suster/management yang profesional dan telaten yang tentu saja karena adanya dukungan dana yang cukup dari berbagai pihak & jemaah gereja Vatican. Alkisah nya anak anak itu bermula dari hanya 50 orang saja yang kemudian terus berkembang baik dari titipan maupun anak yang memang sengaja dibuang oleh orang tuanya begitu mereka tau anaknya telah ter-infeksi oleh penyakit tsb,dan anak tsb dgn sengaja diletakkan didepan pintu panti yang selalu ditemukan pada keesokan paginya,kondisi ini terus bergulir sejalan dengan berkurangnya anak anak tersebut karena dipanggil oleh yang Maha Kuasa,tercatat bahwa hampir setiap minggu selalu saja ada anak yang meninggal.

Panti ini sebenarnya bukanlah pusat rehabilitasi untuk HIV-AIDS,terbentuk memang sebagai panti asuhan buat anak yatim piatu maupun anak terlantar lainnya, tetapi mengingat Ethiopia sangat rawan dengan pertumbuhan sex bebas yang tertular HIV maka untuk anak yg telah ter-infeksi pihak panti secara rutin melakukan pengobatan yang dibantu oleh pihak Dep. Kesehatan negara setempat. (dalam tanda petik).

Berjalan diseputar panti terlihat berbagai tulisan yang mendidik berikut informasi kunjungan tamu dan peraturan (setiap tamu atas dasar kemanusiaan dilarang untuk mengambil photo). Alasannya pernah terjadi photo tersebut disalah gunakan untuk tujuan komersial sepihak.

Panti ini terdiri dari ruang utama office & suster pada sisi depan dan komplek suster disayap kanan serta bangsal anak anak yang terdiri dari 5 bagian yang kemudian dipecah antara anak anak yang sedang dalam perawatan ringan maupun yang sudah pada stadium akhir, mereka tidur dalam jejeran panjang dan teratur. Kemudian ada 1 ruang yang terpisah buat anak yang sedang koma menanti ajal.

Bagi anak yang sudah dalam tahapan penyembuhan pihak panti menyekolahkan mereka dikawasan umum, tetapi selalu saja dari mereka achirnya lebih memilih tetap tinggal dipanti karena selalu menjadi olok olokan sesama teman.

Diselatan area panti terlihat juga sarana olahraga & taman bermain berupa ayunan dan ditengah area tersebut berdiri pula sebuah bangunan tradisional khas Ethiopia yang disebut Rumah Gojo tempat anak anak tsb bermain drama & sajak sajakan, disetiap saat sampai menjelang petang selalu ter-lihat sekelompok anak sedang bermain begitu gembiranya tanpa pernah tau seperti apa nasib mereka keesokan harinya. Dari terpaan hembusan angin sayup sayup terdengar tawa-cekikikan mereka yang saling bercubitan penuh kegembiraan anak anak tanpa beban, tanpa dosa tanpa impian, bebas lepas tanpa syakwasangka terhadap kekejaman dunia ini sekalipun.

Sebagai komunitas anak panti kehidupan mereka memang sudah diatur dalam ritme yang monoton, bangun pagi kemudian belajar & bermain atau menata kebun, makan bersama, mandi bersama dikamar mandi umum dan bagi anak dewasa yang sudah sehat & terbebas dari AIDS harus mendidik adik adik kecil lainnya.

Untuk berbagai kegiatan yang bersifat pendidikan agama tetap berlangsung diarea yang tersedia yang berbentuk seperti Chapel sekaligus tempat melakukan Missa pada sabtu dan minggu nya. Sering juga acara Missa dilakukan dengan tamu tamu asing yang berkunjung kesana.

Perjalanan keliling panti achirnya bermuara disatu bilik dengan ukuran 5 × 10 mtr disinilah tempat kami melakukan pemutaran film bagi mereka,terlihat sudah anak anak berkumpul dalam penantian harap harap cemas menunggu film apa yang akan kami tawarkan,biasanya kami bertanya kepada mereka maunya film apa.

Memasuki bilik ini dari hembusan angin negeri diatas awan Ethiopia sudah tercium oleh kami aroma sedap dari wewangian bau badan mereka yang aduhai tak sedapnya.

Begitu terpakunya mereka menyaksikan tayangan film yang kami sajikan melalui 4 CD yang berbeda dengan tampilan layar lebar melalui LCD salah satu paket sumbangan yang diberikan Bp. Agus Tanzil, sebuah kepuasan atas penantian panjang setiap minggu terlihat wajah wajah yang kocak dan yang kuyu sembari mengulum permen yang kami berikan , saya pandangi sorot mata mereka setiap kali film ber-achir ada sebuah harapan jangan pernah berhenti dan siang teruslah berlanjut tanpa lelah tanpa hadirnya malam hari

Kadang dihari lain kunjungan kami, saya sempatkan bercanda dengan mereka BETAPA saya rasakan kerinduan yang dalam terhadap sentuhan kasih sayang ayah ibu mereka yang mereka bahkan tidak tau bagaimana rupanya dan ada saja diantara mereka yang secara reflek ingin bermanja dengan kami… keheranan mereka adalah melihat berbagai lelucon gaya Indonesia yang selalu kami tampilkan.

Setiap kembali dari sana hati ini selalu mengharu biru bahkan keletihan tak pernah kami rasakan selalu ada kerinduan duka yang sarat dengan keprihatinan ingin berjumpa dengan mereka diminggu berikutnya. Mereka adalah anak anak ‘KURCACI HITAM’ yang lucu dengan rambut keriting tipis yang ngerungkel rungkel dan bentuk kepala kecil yang lonjong.

Kalau kemudian kita mengingat sejarah Ethiopia yang dahulu kala dikenal sebagai Negeri Abyssinia dengan Queen Sheba sebagai sang penguasa ( alkisah disebut juga pernah menikah dengan King Solomon (Nabi Sulaiman)… Tentulah tidak pernah terbayangkan oleh Queen Sheba kalau negeri yang makmur pada zamannya dengan kopi Abyssnia nya pernah mengalami kemiskinan & kelaparan disusul kemudian dengan berbagai pertumbuhan sex bebas nya yang menjadi pemicu berkembangnya sang virus maut HIV … betapa ironisnya negeri ini tak pernah berhenti dari “apakah akan kita katakan sebagai azab TUHAN”.

Ada sebuah keprihatinan dari berbagai informasi panti yang kami dapatkan bahwa selama bertahun panjang pihak pemerintah Ethiopia kurang begitu memperhatikan dari sisi penanggulangan dana , bahkan nyaris tidak ada bantuan sama sekali, sementara mereka lupa PARA usahawan kaya Ethiopia anak anak panti yang tertular HIV tsb adalah turunan bangsa Ethiopia sendiri dan bukan dari africa lainnya tetapi mereka enggan untuk menjadi donatur, bantuan selalu mengalir dari para jemaat catholic & gereja Vatican serta NGO lainnya.

Para suster selalu bilang kesaya T.I.A*…apa itu suster… *This is África, sebuah nada cemooh untuk África yang selalu identik dengan minta bantuan terus (sepertinya ada prinsif yang tersirat tapi tidak tersurat kalau bisa meminta kenapa harus memberi).

Mungkin sekali semua ini tidak terlepas dari perjuangan DUNIA untuk Ethiopia pada Era tahun 1980 an sebuah gerakan Moral “ WE ARE THE WORLD“ sebuah seruan penggalangan donasi untuk mengakhiri kelaparan di Afrika…sehingga s/d saat inipun mereka masih terus menadahkan tangan meminta bantuan Negara lainnya.

Dari pengamatan saya selama ini setelah mengunjungi beberapa charity lainnya,panti Mother Theresa ini merupakan yang terbaik kondisi & pengelolaannya dibandingkan dengan panti Charity lainnya. Dan pada musim liburan selalu saja ada pendatang dari negara lain yang secara sukarela menjadi tenaga Volunteer selama 2 mingguan s/d 1 bulanan,untuk pondokan biasanya mereka tinggal dilokasi Charity yang memang sdh dipersiapkan.

Selalu saja tanpa disadari ada tetesan kristal panas yang mengalir dipipi ini sepulang dari kunjungan kesana , betapa nikmatnya kita yang sudah mendapatkan NIKMAT dari NYA bisa ter-lahir dan berkumpul dalam satu kesatuan yang utuh dikeluarga besar dalam kehangatan selimut kasih sayang bersama ayah/ibu serta saudara lainnya selama umur dikandung badan.

Sesungguhnya … hidup ini sebenarnya Indah & Sederhana kalau saja kita semua pandai mengelola waktu yang TUHAN sudah berikan dan kita jalani dengan BAIK & BENAR. Semoga DAN semoga kita memang terlahir sebagai anak yang BENAR sehingga akan terlahir anak anak Indonesia yang sehat & benar pula . Peace .

Salam sejuk dari Kinshasa “ Setepak Sirih Sejuta Pesan “ Erfan Ahmad.

Catatan pojok: Di Ethiopía tercatat ada 5 panti asuhan yang membina anak anak yang ter-infeksi HIV & AIDS dengan total anak sekitar 1500 orang. Ada 2 panti yang saya kenal cukup baik,selain Mother Theresa yang satunya dikelola Bruder Abraham dengan total anak sekitar 250 orang (beda Konggregasi tetapi tetap dibawah kordinasi dengan Chatolic Vatican Embassy Ethio) dan Bruder Polycarpus dari Konggregasi Belgium membina anak terlantar & ex prostitusi yg diarahkan dan diberi pelatihan pendidikan jasaboga & tataboga yg kemudian dikembalikan kemasyarakat disamping ada juga yg terpilih memilih hidup mengabdi masuk Gereja setelah menjalani pendidikan Theología di Belgium.

Erfan Ahmad Piliang Erfan Ahmad Piliang is not new comer to Africa. Currently responsible to support Indonesia’s Sinar Antjol markets existence in the Democratic Republic of Congo (DRC). Previously serving in various eastern african regions, like Angola, Eritrea – Ethiopia, Comoros Island, Madagascar...

Detail Profile »

5  Comments

by ratih at 15 July 2008, 19:48

wow…. setelah disambut oleh theme james bond..
membaca tulisan yang ini, semestinya bisa memusnahkan keegoisan di dunia.. kalau kita bisa sejenak berpikir, bahwa kita tidak sendirian…
peace…!

by aryo at 15 July 2008, 20:41

Sungguh, sangat sedih sekali setelah membaca artikel di atas… kita tidak bisa men-judge bahwa ini murni kesalahan mereka penduduk ethiopia yang cenderung acuh dengan keadaan mereka sendiri…tetapi memang kenyataannya seperti itu…
bukan kemauan mereka untuk di lahirkan di dunia ini sebagai anak2 ethiopia, bukan kemauan mereka pulalah untuk di lahirkn sebagai ODHA.
Syukur-syukur, dan puji Tuhan itu lah yang hanya saya ucapkan atas karunia kita masih di berikan Tuhan kenikmatan hidup yang tak terkira…

by deal [temen aryo] at 15 July 2008, 23:03

nice story…walo ga tau persis keadaan di sana, at least bisa ikut ngrasain. Jadi pengen jadi volunteer…[tapi bukan pasukan pengamannya…xixixiixixixi]

by lela desmala dewi lela at 17 July 2008, 01:52

Assalamualaikum….

Sulit untuk mengukir kata setelah membaca file ini…
mmbayangkan sorot mata anak2 Ethiopia disana….
walau di Indonesia pun tidak jauh berbeda…disetiap sudut jalan anak2 jalanan bertarung untuk bisa bertahan hidup…
jauh dari kasih sayang…
wajah yg tampa dosa…
hati yg putih…
mata yg menyala2…
senyum Tawa yg membuat hati Lirih…

semoga semua yg bertugas disana menjadi manusia2 yg dipilih oleh Allah swt….
tebarkanlah semangat….
buatlah mereka tertawa…
ajaklah mereka bermimpi dan bercita2…
yakinkan kalo hidup itu adalah anugrah dan mereka semua pun layak untuk hidup berbahagia ….

tetap bersemangat mas2 yg bertugas di Indonesia…
Indonesia bangga dengan perjuangan kalian…
semoga apa yg dilakukan oleh semua disana mendapatkan balasan dari Allah dengan sesuatu yg menakjubkan…

semoga kesedihan,penderitaan dan peperangan di bumi ini sirna…
karna semuanya layak untuk mendapatkan kebahagian…
terutama untuk anak2.. yg merupakan mutiara yg tidak ternilai harganya…
KEEP FIGHTING…Allah selalu bersama kalian dan semoga Limpahan kasih sayang Allah selau menyertai setiap langkah mas2 yg bertugas disana…

by eriezz Lee at 25 July 2008, 10:10

hmmm.tulisan yang sangat menyentuh..Aids..momok yng paling menakutkan but..knp harus di tularkan lewat anak2..mereka tak berdosa..masih panjang kehidupan mereka di dunia..sadis..!akibat perbuatan ibu n bapak nya mereka terkena noda..well Aids memang di kenal sebagai penyakit kutukan..tp apa salah nya dengan para balita,,mereka tidak tau apa2 n di tinggalkan di panti asuhan dimana mereka masih butuh kasih sayang ke dua orang tuanya..sadis.bener sadis..!
ohida alias orang yang hidup denga Aids juga manusia jangan di jauhkan justru kita hrs prihatin n mendorong semangat hidupnya..kematian sapa yg tau so sex education memang penting sekali unt di ajarkan bagi para pemuda ..penting agar virus HiV bisa diteken sekecil mungkin..n di hindari..well berapa banyak di dunia ini yg meninggal karena Aids..siapa yg harus di salahkan?kembali ke diri kita masing2 tp mungkin program peduli Aids perlu di tingkatkan agar di negara kita kematian karena Virus tersebut kecil..

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

628 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Nita Marcela Siahaan Lieutenant Colonel. Nita Siahaan MSc. is the first Indonesian Army Woman from the Indonesian Army Information Service who joined Peace Keeping Operations under the banner of United Nations (MONUC) in Congo. The Indonesian Government has assigned Ltc Nita to...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Welfare Cruise Monusco Staff
Recreation is part of our duty as an implementation of implementation of stress management. It aims at performing better at work “Pablo, Bavon..yaka….viens, arrange this tables & chairs on the barge,... »
Lusyanto Januar , 8 hours ago

Kontingen Garuda XX-G Bagikan Bingkisan Kepada Masyarakat Pedalaman Kongo
Tepatnya di desa Cimquante-Cinq arah antara Dungu Faradje dimana lokasi Kontingen Garuda XX-G bekerja dalam membangun jalan Dungu Faradje, Komandan Kontingen Letkol Czi Arnold A.P Ritiauw dan personel Zeni TNI pada hari Kamis (19/8) membagikan baju baru kepada masyarakat Kongo yang berada dipedalaman, khususnya kepada anak-anak yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Sumbangan berupa baju ini diberikan dalam rangka memperingati HUT Republik Indonesia ke-65, juga sebagai bagian dari Sargal (Sarana Penggalangan) terhadap masyarakat Kongo.
Agus Hermansyah , 7 days ago

Sertijab Bintara Tertinggi UNIFIL Lebanon
Pada beberapa waktu lalu, bertempat di Markas Besar UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) di Naqoura, Lebanon Selatan telah dilaksanakan acara serah terima jabatan FSM (Force Sergeant Major) atau Bintara tertinggi UNIFIL dari pejabat lama Master Warrant Officer Fremphah Mosses kepada Senior Warrant Officer Adong Yure Williams, keduanya berkewarganegaraan Ghana.
Muhammad Dahlan , 7 days ago

Pesiar Eksklusif di Sungai Congo
Sabtu sore dilanjutkan dengan mengunjungi teman – teman TNI yang baru pindah rumah, sampe berpesiar ke Sungai Congo di Minggu pagi. Nah, yang terakhir ini yang paling seru. Akhirnya, setelah Sari mengerahkan segala daya upaya untuk membujuk dua marinir Indonesia, Pak Amrin dan Bang Lusy (maaf ada tambahan: yang selalu ngaku – ngaku ganteng) dua marinir ini pun setuju untuk membawa kami berpesiar.
Nurul Fitri Lubis , 10 days ago

Upacara HUT RI ke-65 ditengah padatnya tugas FPU Indonesia di Darfur
Upacara internal yang kami gelar di lapangan Kamp Garuda ini sangatlah berkesan dihati sanubari kami insan Polri yang sedang menjalankan tugas misi Negara dan jauh dari kampung halaman sendiri. Dengan dikibarkannya bendera merah putih diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya kemudian pembacaan teks Proklamasi dan teks Pembukaan UUD 1945 semakin menguatkan mental dan kebanggaan kami yang tengah mengemban tugas Negara ini.
Robertho Pardede , 12 days ago

 

Recent Comments

Dewi Yulia commented on Kontingen Garuda XX-G Bagikan Bingkisan Kepada Masyarakat Pedalaman Kongo
a few seconds ago


Tante YY commented on Warna warni rambut Liberia dan (Jangan) panggil aku: "CANI"
a few seconds ago


ghozy commented on Trekking ke negeri atap dunia
a few seconds ago


Mariani commented on Warna warni rambut Liberia dan (Jangan) panggil aku: "CANI"
a few seconds ago


khaidar commented on Madagascar bercerita: [Dilarang] Bercinta dibawah pohon kelapa
a few seconds ago