Memasuki bulan ke lima saya mendapat tugas tambahan dari Komandan Sektor 2 Kisangani untuk mengajar kontingen yang baru tiba di daerah misi. Materi yang saya akan ajarkan adalah SEXUAL EXPLOITATION AND ABUSE (SEA).
Salah satu pengalaman yang paling unik selama saya bertugas di Kongo yaitu mengajar kontingen yang baru tiba di daerah misi. Saya dipercaya oleh Komandan Sektor 2, Colonel Papa Malick Diaw untuk mengajar materi Sexual Exploitation and Abuse kepada anggota kontingen Senegal, Malawi, Uruguay dan Bolivia. Bisa dibayangkan saya belum pernah mengajar, tetapi di Kongo saya dituntut untuk mengajar dengan materi yang belum pernah saya pelajari dan mengajarnya pun harus menggunakan bahasa Inggris pula.
Komandan saya yang berasal dari Senegal memberikan waktu 3 minggu kepada saya untuk menyiapkan materi pelajaran. Saya sampaikan kepada Komandan saya yang berkulit hitam dan tinggi besar bahwa saya belum pernah mengajar tapi saya berusaha semaksimal mungkin agar dapat menyampaiakn materi dengan baik dan Komandan saya menjawab dengan enteng; “You are able to do this job NITA,” Kira-kira itulah yang disampaikan Komandan kepada saya yang membuat saya tambah semangat karena selama saya bertugas di TNI AD saya memang belum pernah mengajar dan saya pun menerima tugas ini sebagai sebuah tantangan untuk membuktikan bahwa Kowad dari Indonesia mampu mengajar seperti Kowad dari negara mancanegara lainnya dengan materi pelajaran yang berlum pernah dipelajarinya.
Saya merasa tertantang dengan ucapan Komandan sehingga saya langsung menindak lanjuti perintahnya. Kurang lebih dari dua minggu saya sudah mempersiapkan segala-galanya dan saya lapor kepada Komandan bahwa saya siap untuk mengajar. Komandan saya gembira dan heran karena saya sangat responsive untuk mengerjakan apa yang diperintahkan.
Sebelum mengajar saya mengumpulkan materi dari berbagai sumber dan mempelajarinya dengan serius karena materi ini masih asing bagi saya dan saya berdiskusi dengan rekan saya dari Bangladesh yang bertugas sebagai Military Police untuk mendapatkan masukan sebelum mengajar. Selanjutnya saya gladi di Conference Room dengan seorang rekan dari negara Malawi Kapten Mada Malata dari Malawi dan Major Tingisha dari Kenya, Kapten Mada berperan sebagai peserta dan Major Tingisa berperan sebagai korektor. Namun gladi dengan rekan sendiri masih belum meyakinkan saya lantas pada malam hari saya pun masih gladi di depan kaca untuk menambah percaya diri agar dapat melaksanakan tugas mengajar keesokan harinya. Serpanjang malam saya tidak bisa tidur karena membayangkan apa yang akan terjadi dalam menghadapi pasukan dan bagaimana saya menghadapinya. Saya berdoa agar tugas saya mengajar berjalan degan sukses.
Pada pagi hari saya masih tetap belajar dan saat tiba di kantor saya pun masih tetap belajar dan diijinkan oleh Team Leader untuk tidak ikut patroli. Jadwal mengajar saya untuk yang pertama kali yaitu mengajar anggota pasukan kontingen SENEGAL. Kira-kira pukul 10 pagi saya dijemput oleh anggota pasukan Senegal dengan mobil pasukan yang lengkap dengan pasukan bersenjata yang wajahnya sangat seram dan serius. Saya dipersilahkan duduk di depan dekat sopir dan saya agak risih juga duduk dengan anggota pasukan yang sangat mengerikan. Mobil sudah tidak ada AC ditambah lagi udaranya panas waw baju PDL jadi basah tapi tidak basah kuyup. Walaupun begitu saya tetap ramah dan tersenyum kepada pasukan yang menjemput saya. Bisa dibayangkan deh bagaimana saya duduk di mobil dengan orang hitam sambil was was juga nih kalau saja mereka melakukan sesuatu kepada saya..tapi saya buang pikiran negative seperti itu.
Setibanya di Camp Kontingen Senegal yang sangat bagus dan luas..saya disambut sekelompok orang-hitam yang semuanya rupanya sudah ready untuk menerima pelajaran dari saya. Saya beristirahat sejenak menghilangkan panas yang menyengat selama perjalanan, sambil mempersiapkan Laptop saya untuk dipasang bersama barco. Salah satu anggota pasukan dari Senegal, Kapten Thiandela Fall menyambut saya dan memperkenalkan diri sebagai interpreter untuk membantu saya. Bahasa yang digunakan untuk mengajar anggota Senegal yaitu bahasa Perancis sehingga saya perlu seorang interpereter untuk membantu saya untuk menerjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Perancis.
Setelah peralatan untuk mengajar sudah dipasang dan semua anggota sudah masuk ke ruangan saya mulai memperkenalkan diri sebelum mengajar dan didampingi Kapt Thiandela Fall sebagai interpreter. Saya masih ingat saat pendidikan di Sekolah Kowad saya belajar CMI (Cara Memberikan Instruksi) kepada siswa. Ada juga perasaan grogi tapi itu hanya berlangsung 5 menit .Untuk menghilangkan rara grogi saya tersenyum manis sekali kepada anggota pasukan yang semuanya berkulit hitam mirip orang IRIAN. Selanjutnya keadaan dapat berjalan normal karena saya dapat menciptakan komunikasi dua arah, saya pikir hal ini sangat penting.
Saya perhatikan para prajurit tersebut sangat antusias mengikuti materi yang saya sampaikan yang terdiri 1 jam teori, 1 jam tanya jawab dimana tanya jawab ini saya kaitkan dengan studi kasus yang sedang terjadi di Kongo.Tanpa terasa karena peserta banyak yang bertanya akhirnya pelajaran berlangsung 3 jam dan peserta tidak mempermasalahkan hal ini karena mereka sangat gembira mendapatkan pelajaran yang disampaikan oleh KOWAD dari INDONESIA. Selama ini yang mengajar kontingen Senegal adalah dari Negara Afrika, sehingga dengan kehadiran saya yang berasal dari Asia memberikan suasana yang baru bagi mereka.
Pada saat tanya jawab berlangsung seorang kopral bertanya tentang pelanggran sexual exploitation. Dia ingin membenarkan bahwa pelanggaran itu merupakan hal yang wajar dilakukan oleh seorang prajurit terutama di daerah operasi karena mereka jauh dari isteri. Saya jawab dengan tegas bahwa hal itu tidak dibenarkan didaerah operasi karena sudah ada rambu-rambu yang jelas dari MONUC. Lantas semua heran dengan jawaban saya mereka tidak menyangka bahwa saya sangat tegas, tidak kompromi dan tidak memberikan sedikitpun celah bagi mereka untuk melanggar Code of Conduct yang dikeluarkan oleh PBB.Memang saya sudah mendapat pesan dari Komandan Sektor 2 untuk tidak memberikan celah sedikitpun kepada setiap anggota untuk berbuat kasus SUSILA di daerah operasi. Saya perhatikan ada sebagian wajah mereka bersungut-sungut tetapi ada juga yang berwajah gembira mendukung apa yang saya ajarkan.
Ada yang lucu juga waktu saya memberikan pelajaran, dimana seorang peserta MANGAP memperhatikan saya tanpa berkedip..lantas saya todong dengan pertanyaan yang dibantu oleh interpreter. Eh..yang bersangkutan malah tambah bengong dan malah ketawa-ketawa karena tidak dapat menjawab pertanyaan,sebaliknya dia memberikan jawaban NGAWUR.
Diakhir pelajaran saya tekankan kembali bahwa setiap orang wajib mematuhi Code of Conduct yang dikeluarakan oleh MONUC jika tidak mereka akan mendapatkan sanksi yaitu direpatriasi kenegara asalnya.
Setelah pelajaran selesai semua peserta minfa berfoto dan menyampaikan terimakasih dan mereka ingin saya mengajar sebulan sekali. Dalam hati saya: “..enak aja..ini aja saya belajar setengah modar boro-boro mau ngajar setiap bulan nanti dulu..” Mereka sampaikan bahwa mereka bersemangat menerima pelajaran dari saya karena cara saya menyampaikan pelajaran jelas dan diiringi canda sehingga tidak monoton. Saya pikir apa bener ungkapan mereka dan saya bersyukur juga ternyata saya bisa mengajar menggunakan bahasa Inggris padahal mengajar menggunakan bahasa Indonesia saja saya tidak pernah.
Sebelum kembali ke kantor saya diundang makan siang oleh Komandan Kontingen Letkol Bokar Dieng dengan didampingi oleh beberapa Perwira Kontingen Senegal. Makanan yang disajikan khas dari Senegal yaitu nasi saos tomat, ayam saos tomat, dan kentang goreng dicampur keju. Warna nasinya mirip warna nasi goreng, bedanya hanya rasanya kalau nasi goreng Indonesia lezat sekali sementara nasi tomat Senegal mempunyai rasa khas tersendiri. Disajikan juga salad dan buah segar lengkap sekali menu makan siangnya berbeda dengan menu makan siang saya di rumah Indonesia. Saya salut dengan koki yang berpangkat kopral yang sangat professional untuk menghidang menu, dia seorang koki yang khusus dibawa dari Senegal untuk memasak di kontingen. Cara kerjanya mirip koki hotel bintang lima. Selesai makan siang saya pamit dan diantar pasukan pengawal untuk kembali ke kantor.
Setibanya di kantor saya langsung lapor kepada Chief of Staff dan Sector Commander bahwa saya sudah selesai mengajar. Komandan menyampaikan ucapan terima kasih dan mengatakan anggota kontingen merasa senang dan puas dengan materi yang saya sampaikan. Kemudian saya diperintah kembali oleh Komandan agar mengajar Kontingen Uruguay, Bolivia dan Malawi. Hal ini membuat saya semakin terpacu untuk mengajar agar lebih baik lagi karena sebelumnya saya kan sudah punya pengalaman mengajar Kontingen Senegal. Pengalaman mengajar kontingen Senegal menjadi guru yang terbaik bagi saya artinya saya sudah bisa mengevaluasi kekurangan dan kelebihan saya, sehingga jika kelak saya akan mengajar kontingen Malawi,Uruguay dan Bolivia saya sudah lebih rileks dan enjoy.
Minggu berikutnya saya ditugaskan kembali untuk mengajar kontingen Malawi dan Uruguay. Saya undang kedua anggota kontingen ke Markas Sektor 2 agar pelajaran lebih efektif karena di kantor alat peraganya lengkap. Mengajar kontingen Malawi berbeda dengan mengajar kontingen Senegal karena mengajar kontingen Malawi menggunakan bahasa Inggris sehingga saya tidak membutuhkan interpreter sehingga ada effisiensi waktu. Peserta kontingen juga tidak bertanya yang aneh-aneh yang bertentangan dengan aturan yang digariskan oleh MONUC. Pesertanya terdiri dari Kowad yang berpangkat Kopral..mereka cukup sopan mengikuti pelajaran sejak awal hingga akhir pelajaran. Diakhir pelajaran mereka minta berfoto dengan saya wah saya heran juga rupanya orang Afrika hoby berfoto-ria juga, sedangkan saya tidak hoby berfoto.
Sementara itu minggu berikutnya saya harus mengajar lagi untuk kontingen Uruguay dan saya undang anggota kontingen untuk hadir di kantor. Bahasa yang digunakan anggota kontingen ini bahasa Spanyol yang kadang membuat saya ingin tertawa karena dialeknya. Saya dibantu oleh seorang interpreter dari Uruguay. Pesertanya ada dua orang wanita, satu Kowad dan yang satu dokter dari Civilian. Materi pelajaran sama dengan materi yang pernah saya sampaikan sebelumnya kepada kontingen Senegal.
Pada saat pelajaran berlangsung saya memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya apa saja yang berkaitan dengan materi pelajaran. Ternyata kedua orang wanita ini sangat menentang materi yang saya sampaikan. Kebetulan dotker civilian ini bekerjasama dengan bagian Human Rights. Pertanyaan yang diajukan kepada saya yaitu berkaitan dengan Hak Azasi Manusia dikaitkan dengan kebutuhan biologis prajurit di daerah misi. Maksudnya bahwa melarang anggota prajurit untuk memenuhi kebutuhan biologisnya di daerah operasi merupakan pelanggaran hak azasi manusia. Pertanyaannya sangat menyimpang dari apa yang telah digariskan oleh MONUC. Si dokter yang bekerja di bagian Human Rights ini sepertinya lebih menonjolkan hak azasi orang untuk berbuat apa saja termasuk untuk melakukan hubungan seksual dengan orang lain karena perbuatan itu menurutnya adalah hak azasi. Saya jelaskan memang itu hak azasi namun harus diingat bahwa anggota kontingen saat ini sedang bertugas di daerah misi sehingga ada aturan yang harus dipatuhi selama bertugas. Mereka tidak bisa menerima jawaban yang saya sampaikan sesuai dengan aturan yang digariskan oleh MONUC/PBB. Diskusi alot pun tidak bisa dihindari, sehingga peserta pria menegur mereka supaya bersikap lebih sopan untuk bertanya dan tidak perlu ngotot dan mau menerima apa yang saya sampaikan, tapi mereka tetap berkeras tidak setuju dengan aturan PBB. Saya berusaha menahan emosi melihat kedua wanita ini keras kepala dan sangat tidak sopan untuk menyampaikan keberatannya tentang aturan yang digariskan oleh MONUC.
Akhirnya saya pun menyampaikan dengan sangat tegas untuk tetap mematuhi apa yang sudah digariskan oleh PBB. Walaupun saya dalam keadaan emosi melihat keduanya saya masih bisa tersenyum dan ramah kepada mereka. Saya sampaikan kalau mau berdiskusi lebih luas lagi tentang pelajaran saya undang mereka ke kantor saya.. namun mereka menyampaikan terimakasih kepada saya yang telah memberikan pelajaran sangat gamblang dan jelas sehingga mereka tidak perlu diskusi lagi. Aneh bukan?
Mereka pun dengan besar jiwa mengakui apa yang saya sampaikan adalah sudah benar. Diakhir pelajaran mereka menjadi sahabat saya dan mereka meminta foto bersama dan meminta maaf atas kejadian yang tidak mengenakan saat jam pelajaran berlangsung. Saya pun merasa lega ternyata mereka orang yang sportif. Pada saat pelajaran selesai semua peserta merasa puas dengan materi yang saya ajarkan dan Komandan Kontingen dari Malawi dan Uruguay memberikan appresiasi kepada saya dan Komandan saya di Kisangani. Pengalaman mengajar ketiga kontingen menambah pengalaman saya untuk menghadapi tingakah-laku dan karakter dari bangsa lain dan saya bersyukur bahwa saya masih bisa mengatasi permasalahan yang saya hadapi dan menambah kuat mental saya. Selain mengajar saya juga diberikan kepercayaan oleh Komandan Sektor 2 untuk menghadiri Workshop tentang Sexual Exploitation and Abuse mewakili Sektor2 selama 5 hari di Kinshasa.

Berfoto bersama saat usai mengajar SEA di Kinshasa
Pengalaman yang sangat berharga ini saya manfaatkan untuk menambah wawasan terutama yang berkaitan dengan materi yang saya ajarkan kepada anggota kontingen yang baru tiba di daerah operasi.
Mbak Nita, seru mbaca artikelnya. sayapun di UNMIl sejak 2007 sudah menjadi Focal Point untuk Kantor perihal SEA (Sexual Expolitation & Abuse) ini.
Perlu diketahui, skandal SEA diawali di MONUC dan mencuat menjadi perhatian dunia dan dibahas dalam UN General Assembly dan menjadikan sebuah tragedy bagi peacekeepers yang berjuang keras dilapangan oleh perilaku menyimpang segelintir orang.
Kebutuhan seks setiap individu adalah MEMANG sebuah Hak Azasi, namun bagi mereka yang bertugas pada misi PBB, adalah menjadi tanggungjawab dan kewajiban mereka memastikan bahwa pelanggaran SEA tidak dilakukan, mengingat Host population/beneficiaries adalah pihak yang menjadi korban dari praktek SEA ini. Itulah mengapa pihak manajemen misi memberlakukan CTO (compensatory Time-off) bagi UNPOL, MILOBS dan Group-Leave bagi Anggota kontingen yang diatur oleh TCC (Troops Contributing Countries) serta ORB (Occupational Recupperation Break) bagi staff sipil untuk mengambil jeda/rehat keluar darah misi untuk keperluan keluarga termasuk ‘pemuasan si-hajat’ ini. Silahkan tapi diluar – jangan di Daerah Mission!. Itu jelas dan tidak bisa ditawar.
Silahkan komunikasi dengan DPKO/CDU (conduct & Discipline Unit) bagi rekans di PMPP agar bisa meminta materi penyampaian audio/visual perihal training awareness SEA ini, ada paket video/DVD dokumenter dan semua penjelasan untuk konsumsi training pelatihan sampai ke level anggota. Tersedia kok gratis tinggal dimintakan saja melalui nota resmi ke New York.
Adalah hak azazi semua individu agar dapat memberi penyaluran ‘urusan isi celana dalam’ ini, dan pelanggaran SEA bagi peacekeepers bukan hanya membawa malu dan mencoreng nama individu, juga kontingen, bangsa dan negara.. jadi manfaatkanlah jatah cuti semasa di mission.. dan selamat atas keberhasilan dan percaya-dirinya dalam mengajar selama di MONUC tempo hari. Kowad TNI memang membanggakan! :D