Selang hampir 6 tahun belakangan ini, bila melihat kilas balik, sudah banyak teman-teman sepenugasan datang dan pergi, baik itu para Indonesian peacekeepers, maupun rekan peacekeepers dari bangsa/negara lain. Yang santun dan ramah tutur bahasanya, dan tidak sedikit yang membekaskan impresi membencikan itu juga sempat melintas dalam perjalanan karir selama di misi PBB ini. Tidak ketinggalan wajah-wajah cantik – para staff peacekeepers wanita, baik itu staff sipil maupun para military-lady peacekeepers lainnya, yang buat kebanyakan dari kita akibat situasi pekerjaan ini, mendadak menjadi lajang kembali – sudah pasti kehadiran para wanita cantik yang bertugas di misi tersebut mestinya menggoda secara paras superfisial mereka memang banyak membuat pasangan mata itu ikut melirik kemana arah mereka melintas.
Si kampret ini, koleksi foto-foto selama bertugasnya sudah mencapai 2TB volumenya, terbayang apa saja itu ragam acara yang sempat didokumentasikan oleh kamera miliknya sehingga hampir saja penuh si kapasitas hard-disk itu. Dalam seminggu, nampaknya hampir 2-3 hari diantaranya, selepas kelar sholat dan malam menjelang tidur, disempatkannya untuk menengok siapa-siapa saja wajah yang sempat terkena jepret lensa kamera selama ini.
Dari mulai acara santai di akhir pekan, acara pesta para kolega sekantor, sampai ke acara pagelaran seni budaya yang dipersembahkan oleh para anggota kontingen itu. Marak memang melihat koleksi foto-foto si kampret ini.
Namun, malam itu, entah karena kebetulan saja, membuka sebuah folder yang mana dari beberapa kumpulan foto itu, teringatlah dia dengan seorang kawan, tidak pernah satu kantor dengan-nya dan tidaklah begitu dekat namun saat itu sering sekali berpapasan dan bertemu saat hendak berbelanja di Downtown Monrovia. Wanita muda, dengan wajah khas eropa, dia warga negara dari Swedia, namun tidaklah begitu pirang rambutnya. Tinggi semampai, sudah pasti si kampret ini berada lebih pendek ketimbang dia. Rambutnya yang keriting bergelombang bak untaian mie instan yang baru saja masak itu, ditiup angin tergerai di udara.. ah, sudahlah – banyak sekali angan-angan ngaco si kampret ini kalau dibiarkan berbicara tentang dirinya. Ohya, sebut saja namanya: Susan Roujeetsen.
Liberia dan UNMIL adalah merupakan penugasan misi kali pertama baginya. Berasal dari negara maju seperti Swedia, dan mendarat di Liberia, bertugas di salah satu county (Kabupaten) yaitu di Lofa County, adalah sebuah lompatan ekstrim dari sisi kondisi peradaban dan lingkungan kerja sekaligus tempat tinggal. Ya begitulah adanya, saat seseorang memutuskan untuk mengambil penugasan/kontrak kerja pada misi pemulihan perdamaian PBB: Bekerja di pedalaman, jauh dari kampung dan terpencil dari semua kenyamanan dan indahnya kehidupan normal di negara asal.
Singkatnya: It [Mission Assignment] has been a crash-course/cliff-jump for her multi-dimensionally.
Sempat beberapa kali dalam kesempatan berbeda, si kampret ini duduk makan siang bersama di kafetaria di gedung headquarters, lantaran bangku kosong itu hanya tersisa di deret meja makan dimana dia sedang bersantap. Saling bertegur sapa dan mempersilahkannya untuk melanjutkan makan siang-nya, dalam 3 menit setelah si kampret ini duduk, ia sudah rampung dan mendapati wajahnya penuh dengan tatapan kosong, meski sebuah televisi flat-screen di ruang kafetaria itu berteriak dengan volume lantang sebuah session pertandingan bola.
Dicoleklah bahu si mbakyu Roujeetsen ini, seraya si kampret ini berkata: “Hey, Susan.. are you allright?.. you seemed having some blank-moment…”
Dengan sedikit terkejut, faktanya bahwa ia memang sedang melamun akan sesuatu yang cukup mendalam, ia kemudian berkata: “Oh, sorry.. I was thinking so deeply on something..”
Dan dalam hitungan kurang dari 1 menit, mulailah dia berceloteh panjang dan lebar.. yang memang akhirnya mengakibatkan si kampret ini agak sedikit terlambat keblai ke kantor selepas makan siang menyimak kisah si Susan ini.
“Nampaknya saya tidak akan memperpanjang masa kontrak kerja saya pada misi ini…” begitulah kalimat pembukanya. Mengapa?. Maka keluarlah satu per satu kisah kefrustrasiannya akan kondisi dan situasi yang berlaku pada umumnya penugasan misi yang mana tidak cukup tahan baginya untuk berlanjut. Harus diakui, untuk seorang nona cantik yang biasa hidup, tinggal dan bekerja di lingkungan yang nyaman dan modern, pastilah amat sangat tidak mudah. Sesekali ia menonton cuplikan pertandingan bola itu, apalagi saat pemain mencetak goal dan pada sela-sela jeda iklan, ia kembali meneruskan ceritanya.
“Sepertinya saya tidak cocok untuk berada disini lebih dari 6 bulan, bekerja di pedalaman dimana saya bertugas di Voinjama, selama ini merupakan penugasan terberat yang saya pernah alami..” begitu ujarnya.
Si kampret ini berusaha untuk tersenyum sedikit melukiskan rawut simpati terhadapnya, dari cerita-cerita yang disampaikannya bahwa mandi pagi dengan air dingin adalah awal mula ketidak-nyamanan, lalu saat berangkat bekerja dari tempat akomodasinya menuju Sector Headquarters yang harus melalui jalan jelek berlumpur yang acapkali mengharuskan dirinya menghadapi selip ban dan terkubur dalam kubangan sampai akhirnya harus menghubungi kendaraan kontingen peacekeeper militer untuk datang dan mengerek si mobil itu agar keluar dari kubangan.
Seraya menghembuskan nafas yang panjang, sarat dengan perasaan frustrasi yang kentara benar pada rawut wajahnya, ia meneruskan ‘kukulutus’ (Baca: Keluhan) bak peluit kereta api itu.
“Orang disini jorok sekali.. mereka tidak bersih.. kamar mandi di tempat akomodasi saya banyak lumutnya, geli!.. makanan cepat basi lantaran kulkas sering mati tiada listrik, sebel! banyak sekali nyamuk, saya kena malaria sampe 2 kali, makanan di dapur umum batalion Pakistan itu rasanya aneh.., signal telepon disini buruk sekali.. wese di kantor lebih sering tidak ada airnya.. saya cape masak pake areng… saya jijik.. dan saya mau pulang.. saya capee… phee..pheee!”.
Dalam hati si kampretpun kemudian berkata: “Wah, banyak sekali daftar keluhanmu, nona cantik”
Siapa bilang penugasan misi itu nyaman seperti piknik?, Kata siapa bertugas di pedalaman di daerah misi itu serba lengkap dan memberikanmu banyak pilihan?, Siapa bilang masakan di dapur umum kontingen peacekeepers itu sebanding dengan masakan di tanah air?
Memang bekerja di daerah pasca-konflik dan pilihan karir dibidang peacekeeping operations dan/atau humanitarian relief mission ini belum tentu cocok dan adalah BUKAN buat semua orang. Kecuali pribadi yang memang sudah siap fisik-mental, dan mempunyai daya adaptabilitas, akseptabilitas dan fleksibilitas yang baik, terhadap kondisi iklim/cuaca di lokasi penuguasan misi, budaya dan tradisi masyarakat/penduduk setempat, dan lain-lain.
Memang, si kampret ini pun mengalami banyak tantangan saat periode awal mulai bertugas di Liberia, pada tahun 2004 silam, namun itu semua dikembalikan kepada pribadi masing-masing. Beberapa points yang perlu menjadi renungan, yaitu sebagai berikut:
1. Apa tujuan, visi dan misi-mu dengan mengambil penugasan misi semacam ini?
2. Akankah dirimu mau belajar secara profesional dibidangmu dari pengalaman penugasan ini?
3. Akankah dirimu mau menerima, memaklumi dan menghargai nilai-nilai budaya pada daerah misi?
4. Bisakah dirimu beradaptasi baik pada lingkungan kerja yang sangat beragam, dimana para staff yang berada satu kantor itu datang dari macam suku/bangsa, adat istiadat, kelakuan individu dan segala macam urusan sakit-kepala yang menyertainya?
5. Cukup sabarkah dirimu untuk bisa fleksibel terhadap semua perbedaan kehidupan, dan kenyamanan hidup di tanah airmu bila dibanding dengan kondisi hidup dan tempat tinggal selama dirimu berada di penugasan misi?.
Pada saat dorongan untuk ‘keluar/cabut/gulung tikar’ itu mendesak, lihat lagi jawaba awalmu atas pertanyaan diatas saat awal menggebu ingin berangkat mengambil penugasan misi ini.
Nah semua pertanyaan diatas itu perlu senantiasa ditanyakan pada setiap individu yang mungkin saat ini bercita-cita untuk mengabdi di bidang peacekeeping & humanitarian relief ini. Kesemua itu penting untuk direnungkan baik-baik agar saat layar terkembang, surut langkah diambil mundur ke belakang dan saat kedua kaki ini melangkah dan tiba di lapangan penugasan, mampu membawa diri dan berhasil mengatasi segala tantangan baik secara profesi dan pribadi, menjadikan penugasan misi peacekeeping/humanitarian relief mission tersebut menjadi asset pengalaman berharga dalam hidup.
Ohya, si Mbakyu Roejeetsen itu berada pada salah satu dari deretan bidadari mission itu. Merekalah salah satunya yang membuat banyak pasang mata selalu ikut menoleh saat mereka melintas didepan hidung ini.
Meski mungkin si kampret ini juga merasakan cape, kesel dan ingin sekali pulang kampung, seperti halnya dirasakan oleh neng Susan Roujeetsen ini, kendali internal ini selalu bermain sebagai rem-pakem yang melawan dorongan untuk menyerah dan kemudian memutuskan untuk gulung-tikar for good. Tidak, si kampret ini perlu untuk bisa sabar.. pergilah cuti mudik sering, karena memang tekanan dan stress itu ada untuk membuat kita maju dan lebih baik, bukan sebaliknya membuat kita hancur-lebur. Meminjam istilah wong mbule itu: Don’t crack under pressure, but vent-out.. then you’d survive longer.











Well……setidaknya masih bersyukur kalo kita ini dr negara berkembang, gap nya gak njomplang amat si mbak rambur kriwil itu.
Lha wong mandi aer dingin aja udah protes :))
Hehehehe…..memang kembali ke diri masing2 ya kang
2 thumbs up for the rest of peacemakers yg masih tinggal di daerah konflik
GBU all
Kang Luigi membela diri. Pembenaran atas keputusannya, untuk sering2 pulang kampung ya, he3x…
Go Luigi… go… kamu pasti bisa bertahan… Ingat, apa2 yang ada di dalam angan2 belum tentu seperti kenyataannya.
Kang Luigi,
Si Susan sound really unSwede (swede=orang Swedia). Coz Swede sudah terbiasa mandi dengan air dingin :0)
Kalau dilihat dari nama belakangnya sepertinya si jeng Susan aslinya Dutch or Danish, karena kalau dia Swedish pasti tiga huruf dibelakangnya adalah SON alias RoujeetSON.
Sepengetahuan saya kang penugas buat misi PBB buat warganegara Swedia Police or military berdasarkan volunteer, so yg mau di tugaskan di PBB mereka harus apply ke negara dan harus mengikuti kursus selama 6 minggu sebelum berangkat dan kerajaan Swedia tidak bisa main kirim atau menugaskan mereka. Palagi di negara maju seperti Swedia susah sekali mencari volunteer yang mau dikirim ke misi, dikarenakan perekonomian mereka yang sudah sangat stabil.
kalau si jeng Susan civilian, mungkin dipikir beliau kalau di Misi itu keadaannya normal saja seperti mau pergi piknik and not have clue tentang kehidupan di misi yang serbah pas – pasan secara dia ngga ikut kursus :0).
Kalau si Jeng Susan Militer or Polisi, mungkin harus kita kirim ke Srikandi- srikandi Indonesia yang bertugas misi biar belajar Survival.
Salam dari Khartoum, Sudan.
hahaha… makanya beruntung pernah ngerasain missi di Bosnia, which is Europe…. dan memang sebagian besar orang bule bertanya pada waktu itu, “ini missi apa liburan panjang ya ?”.. mungkin si Miss kampret itu dengar cerita romantisme missi waktu di sana…
Saya ingin sekali terlibat dalam misi seperti ini… ayo semangat!
Mas.. Artikelnya bikin makin semangat nih…. Meskipun udah sering kerja di humanitarian, tetep aja kalo kerja di peacekeeping mission, apalagi di negara antah berantah perlu kesabaran luar biasa. Pada akhirnya hanya ada 2 pilihan: ‘take or leave it…
hehe… Jeng Susan Roujeetsen biarpyun bete3,,, tapi wajahnya tetep ajah sumringah seperti kue ulang tahun yea Kang…
Coba Jeng Susan ini disuruh bertahan n merasakan nikmatnya penderitaan di wilayah pasca konflik satu tahuuuun aja….pasti ntar dia jd ketagihan n malah dak mau pulkam… n malah jadi pengen merasakan wilayah2 pasca konflik yang laen…hehe3
Ciao ciao for all survivalz in the world…
wow… sekali lagi wow… hebat ya buat semua peacekeepers, gak yang laki2 dan gak yg perempuan, ngeliat tantangan di lapangan kayak gitu aja sy udah keok kali… :D
terus jaya ya!
Post terbaru <a href=“http://3sna.com/index.php/archives/842”>Mengapa Kini Banyak Cumi</a>
akhirnya mbak susan memperpanjang kontraknya ndak tu?
well, kebayang sih gimana pekerjaan sebagai peacekeepers. Dan betul banget, bukan untuk semua orang. Dan sepertinya bukan untuk saya T_T
mas luigi, tetep semangat ya! nari hulahula
hehehe,kok bisa ya kang, si Susan Roujeetsen memikirkan kenyamanan bekerja di daerah konflik!! bisa menyelesaikan misi saja sudah bersyukur…!! apa lagi melihat artikel kang luigi yang bercerita makanan <a href=“http://pralangga.org/articles/combro-kodok-ala-liberia”>combro kodok ala liberia</a> ,hehehehe
Kang… Kasian amat tuh nona cantik… tp betul mang kang.. kembali ke diri masing2 untuk menjalani nya… susah dan senang this is a peacekeepers mission.. yang pasti jauh bgt dari kata cukup… dari bau nya aja dah ketahuan ya ga kang… (kelek)…. :)
tapi tetap semangat untuk indonesian peacekeepers yg sudah mengharumkan nama bangsa kita… Hidup Indonesia….
(cant hardly wait)…. dalam hati selalu berbisik, Giliran Ane buat gabung Kapan ? … dan tak lupa selalu berdoa…. semoga kesempatan itu datang…. amin…
Salam Hangat dari Tanah Air Mu Kang …. :)
halo peacekeeper asal Indonesia dimana saja,blog ini baru saya temukan,waduh seneng banget,soalna udah lama pengin mengatakan ini,secara langsung : Bravo!!!!!! Teruskan Harumkan Nama Indonesia Di Seluruh Muka Bumi, Yakinlah banyak manusia di Tanah Air Yang Sangat Mengapresiasi Pengabdian ANDA2 anggota TNI. Sukses Selalu Tuhan Selalu Menyertai, Doa Kami Selalu Dari Tanah Air.
Mungkin (hanya mungkin…hahaha)…waktu memutuskan ikut misi yang di “hitung” cuma keren-nya doang, kang…gak ngitung risiko pekerjaan – nya…
Pekerjaan sebagai peacekeepers memang berat ya. Tapi seperti yang mas Luigi tulis, kita mau belajar dan menerima atau ngga.
Saya sebenarnya pengen banget jadi bagian dari peacekeepers, tapi mengingat saya yang masih `cupu` rasanya perlu banyak benah diri dulu :D
Tetep semangat ya, Mas Luigi. Dan semoga tetep rajin blogging juga :)
Hai Luigi, aq enjoy banged membaca tulisan mu, sambil baca aq terus make sure gak menahan napas, n keep my breathing flow, ya bisa merasakan beraaaaatnya tantangan dirimu dan yg lain, but you have this smart survival tactic of being happy and see the positive side, thus make you grow wiser, stronger. Yaa jadi nyambungnya bhs inggris, gpp ya, hehehe. Of course you deserve a break, a vacation, a vent, jadi aq tunggu ya tahun ini ajak pasukan cantik dan pasukan kecil2mu napak tilas ke new york new jersey. salam dari New Jersey, USA.
salam balik mas…
lihat foto-foto di atas cantik-cantik pasukannya!
jaya terus dan selamat bertugas mas :)
hmmm…..namanya orang emang beda2 ya. tp tetap perlu diapresiasi niatnya untuk bertugas jadi peacekeeper [walo mgkn akhirnya ngerasa ga cocok], ga banyak didunia ini orang yg tertarik [apalagi minat dan berniat] jadi peacekeeper. karna memang bukan pekerjaan yang mudah [emang ada pekerjaan yg mudah =)]. Niat awal memang menjadi hal penting untuk mendorong motivasi kerja. Tapi kata bos saya, the endless source of motivation adalah love. kalo kita mencintai apa yg kita kerjakan, ga sulit memaintain motivasi kalo kita lagi down, itu kata bos saya =)
apa kabar kang Luigi?.penikmat tulisanmu ini sudah lama ingin mencicipi kehidupan misi UN, belajar kerasnya hidup di negeri orang dan being self sufficient dsana.namun nampaknya harus vi pendam obsesi, dan harus puas dengan wisata virtual yang disuguhkan kang Luigi.vi terikat di tempat kerja yang baru,meniti karir disini, walaupun impian itu tidak pernah padam.sebagai alumni Hubungan Internasional, negara-negara yang pernah vi kunjungi selama studi banding menyisakan keinginan yang kuat untuk suatu hari nanti saya akan kembali lagi.yang sangat berkesan, kang Luigi ‘memotret’ kehidupan para peacekeepers sebagai sosok yang humanis, membumi dan sarat pesan budaya.salah satu episode yang menarik ketika diplomasi ala kain ditampilkan di liberia, memperkenalkan batik di sana. semangat nasionalisme yang membuat vi terharu.ok semoga kang Luigi gak menguap membaca tulisan saya. “carpe diem”.good luck and take care
yeah yeah yeah….kl disini mah mandi pake air dingin, masak pake areng sampe rambut dan wajah belepotan areng, listrik dan air mati…itu mah dahhhh biasaaaaaaaaaaaaaaa….masih mending ada listrik, bisa “padang” liat sekeliling. Kita kan mo cari duit, gak mo piknik, nangis2 dikit (sampe hujan air matapun disahkan) itu “bumbu2” kerja. Kalo kita melihat sesuatu sebagai tantangan, akhirnya kita bisa enjoy juga, malah akhirnya gak mo pulang. Si mbak nih, harusnya masih bersyukur bisa makan walau di dapur kontingen, bisa naik mobil ke tempat kerja, bisa mandi walau dengan air dingin. Tapi emang perlu ketangguhan, mental baja, kesiapan lahir bathin untuk bekerja di suatu misi apalagi dpt di negara yang lagi konflik. Semoga teman2 seperjuangan diberi kekuatan lebih dari Allah, sehingga bisa tetep tangguh di medan “laga”.
…and i wish i have the opportunity to get her experiences….when will it be ?
Bravo Kang Luigi,,,ini adalah fakta!! dan saya merasakannya di misi, bahwa sebagian dari masalah kita selain beban tugas sehari-hari sesuai tupok dan jabatan adalah bagaimana menghindari diri dari stress, sulit skli “menjaga kondisi mental tetap stabil” oleh sebab itu ini mrpk tantangan tersendiri, tantangan terberat krn musuh-nya adalah diri kita sendiri (1 paket pd awalnya = hati, perasaan, pikiran, emosi, dan 1 paket lainnya/yg terakhir terkena dampaknya adlh fisik & perilaku).Bgmn memelihara/menjaga kondisi mental didaerah misi(at the deep field), seorang diri,far from the loves, dg keterbatasan akses, beberapa situasi di bawah standar kebersihan/kesehatan & kenyamanan, lingkungan penugasan dg budaya/habitual yg jauh dibwh standar kehidupan di tanah air pd umumnya, hal tsb bukanlah hal yg mudah… meskipun kita sdh mendapat pelajaran tentang Stress Management yg hanya manis diucapkan di kelas of Induction Training, ttp sj stress datang tdk pandang bulu…baik military,police or civilan staff. Seperti hari ini, stress kmbli mengunjungi sy di Camp of Military Teamsite-Malha Village (190 Km North from El Fasher), wilayah berpenghuni yg plg utara di Darfur, berhadapan lgsg dg gurun pasir perbatasan Sudan-Libya-Mesir. Berawal dr perasaan sepi/lonely (krn cm sy satu2nya prajurit Merah-Putih di Pos ini dr 5 perwira lainnya, perasaan kangen dg anak2 & istri(bln ini menginjak 6 bln kehamilannya), komunikasi terbatas pd wkt2 tertentu krn akses sinyal trbtas, di tmbah lg laptop (sbg sarana hiburan satu2nya) br sj rusak total, terbakar komponen bagian dalamnya akibat aliran listrik yg tidak stabil dr generator yg memang sdh old of age jg ikut menambah deretan penyebab kegelisahan & keresahan hati & pikiran ini… bingung, gelisah,sesak, perasaan mau teriaaak,, apa yg hendak sy kerjakan di dlm tenda ukuran 3×3 m2 ini.. However msh ada sebuah buku kecil (surat Yassin, bekal dr tanah air) yg memanggil-manggil sy, meminta utk menyentuhnya,,sy coba bertayamum (krn tdk tersedia air utk berwudhu) dan membacanya 3x berturut-turut,,,,smp mata sy lelah, berat utk dibuka,,stlh itu bertafakkur, memohon perlindungan Yang Maha Kuasa dr kegelisahan & keresahan hati serta pikiran,,, tiba2 “keajaiban” pun datang,,walaupun mata ini berat utk dibuka tp anehnya pikiran mengalir spt air,menjadi lebih lapang & terbuka,,really it’s opening widely,,menyentuh hal-hal apa saja yg berharga yg blm sempat sy perbuat di tanah air Indonesia,,,tentunya dlm kondisi yg jauh lebih baik & jauh lebih beruntung dr pd kondisi disini,,, kenapa tdk sy rencanakan dr sini & jika terlaksana dg baik mgkin sj suatu hari nanti sy akan menikmati hasilnya,, Alhamdulillah, ada hikmah di pedalaman Gurun Pasir yg terpencil ini…
(Sebuah pengalaman pribadi bgmn seorang individu mencoba melepaskan diri dari belenggu stress,,yg setiap saat mengintai,,,Salam Peacekeepers Fellowship, we are brother in arm). Major Irwan Setiawan/Military observer on UNAMID-Sector North.
Good… keep on writing… sesuatu yang bisa dishare; penyemangat di kala kami di tanah air ini merasa terperangkap dalam karung goni nan apek !
tulisan tulisanmu tidak pernah membuat bosan meski dibaca berulang kali, what i can say is “inspiring”
Kalo orang Indonesia yang ditugasin kesana mungkin ga kagok-kagok amat yah Kang, di Indonesia kan WC nya banyak lumut. Makanan cepet basi dan pemadaman bergilir tiap hari. Heheheheh.
Meski sudah pasti mendapat briefing ttg suasana pedalaman di sana, si Mbak kayaknya benar-benar shock dengan kondisi yang sebenarnya. *She was not prepared for the worst*. Kasian
I love reading this article.
Nuhun ya Kang…
J
Thanks for sharing Luigi, Salut!
Keep it up, your patience, tenacity and commitment. And the most important thing: Have fun, too!
Semoga sukses selalu,
S
I always enjoy reading your blogs :-) Thank God I’m Indonesian…
Halo om Lui, Apa kabar di luar negeri sana?
Moga saja tetap semangat ya.
Tak lupa saya mengucapkan DIRGAHAYU TNI…
Moga tetap membawa semangat dan perdamaian…
Wah, gambar2nya semakin membuat semangat para petugas ya
hehehe..
Salam dari Jakartra
Don’t crack under pressure, but went-out.. then you’d survive longer.
Suka kalimat terakhir ini. Kadang-kadang memang butuh refrshing sebentar sebelum kembali berjibaku dengan segudang aktivitas
Good luck Kang :))
sabar ya mbak susan…..kalo mau dollar dan karier ya kerja dulu..hehehehe….