About This Post

Dody WIBOWO

Correspondent Dody WIBOWO

Total 4 comments

Podcast Status No podcast here!

Features Email article link

Posted 340 days ago

technorati View blog reactions

post to del.icio.us

post to digg

post to ma.gnolia

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Rating Entry

Rating: 4.5/10(2 votes cast)

Articles

Tanah Gayo

Bulan Juni kemarin saya dan teman-teman satu tim saya berkesempatan pergi ke Takengon, Ibukota Kabupaten Aceh Tengah, untuk melakukan lokakarya di takengon bersama komunitas perempuan di Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah. Perjalanan darat dari Banda Aceh menuju Takengon lumayan jauh. Kami menyewa kendaraan umum, berangkat dari Banda Aceh sekitar pukul 11 pagi, dan sampai di Takengon sekitar pukul 7 malam. Jauh juga ya? Dengan melalui jalan yang berkelok-kelok dan naik… capek hehehe…

Hari berikut di Takengon, kami diundang untuk menghadiri satu pesta pernikahan, dan pernikahan ini adalah pernikahan menggunakan adat Gayo. Dan baru pertama kali itu saya melihat bagaimana sih pernikahan suku Gayo (maksudnya makanan dan busananya hehehe…) iya, karena kami datang kesana pas waktu makan siang hehehe… Makanannya menurut saya lebih ringan dari makanan di Aceh daerah pesisir, walau masih dengan santan dan pedas, dan daging utamanya adalah daging kerbau, sedangkan ikan yang banyak diolah disana adalah Ikan Depik… ikannya kecil-kecil… tapi sedap. Busananya punya motif yang khas.

Selama mengikuti lokakarya, saya baru menyadari bahwa masyarakat Gayo adalah merupakan suku tersendiri yang berbeda dari suku Aceh. Dan semakin jauh, saya baru tahu kalau suku Gayo punya sejarah yang berbeda dari suku Aceh. Dari bacaan yang saya temukan, ternyata suku Gayo mempunyai sejarah yang berkaitan dengan Batak Karo di Sumatera Utara. Jika ingin tahu lebih banyak, ada banyak sumber bacaannya di internet.

Ada satu yang unik yang kami temukan dari kebiasaan kaum perempuan (khususnya Ibu-Ibu saja?) Ketika mereka tertawa… mereka punya cara tersendiri ketika tertawa… mereka akan mengakhiri tawa mereka dengan teriakan “Huuuuu…!!!!” secara bersama-sama… Dan rasanya suasana jadi lebih meriah dengan ke-khas-an itu… :)

Lokasi Takengon sendiri menurut saya juga cukup unik, berupa dataran yang luas dan dibentengi pegunungan, sangat indah… Juga ada Danau Laut Tawar yang menjadi obyek wisata terkenal di Takengon. Kami sempat pula berjalan mendaki bukit dan melihat pemandangan Takengon dari atas bukit… indah sekali…

Bulan November nanti, jika Tuhan mengijinkan, kami akan kembali ke Takengon… nanti ada cerita apa lagi ya?

by Luigi Pralangga at 17 September 2007, 18:58

Dear Dody,

Interesting insight!, sebelumnya saya nggaktau ttg Suku Gayo ini.. Ohya, trims buat Kopi Acehnya.. ngak sempet kebawa ke Liberia, insyallah alan saya coba bawa saat cuti mudik nanti, banyak kawan para staff asal negara lain disini cukup penasaran akan’khasiat’ dan sedapnya rasa kopi Aceh. :-)

by ambar at 18 September 2007, 20:54

Indah n menyejukkan bangeut pemandangannya yah mas. Anyway, belajar motret dimana mas, gambarnya bisa indah sekale…. he he he …huuuuu ikutan ibu2 Gayo sikit laah ..

by dodie at 19 September 2007, 03:53

@Mas Igi: ditunggu laporan minum kopi acehnya yah… hehehe…

@Mas Ambar: wah, itu bukan karena saya pinter motret mas… tapi karena alamnya aja yang udah terlalu indah mas, jadi fotografer tak berpengalaman macam saya ini jadi tertolong hehehe…

by sri at 20 September 2007, 09:34

Mas……..kalo ke takengon sekali lagi cobalah selusuri danau tawar tsb, terus masuk keperkampungan, Allah Akbar! sungguh nature dan sangat indah sekali. kebayangakan bersisian dengan danau tsb adalah sawah yang luas membentang, dan dibentengi oleh bukit2.Wuiiiiiiiih…………nama kampungnya Toweran.

saran Sri, sekali waktu coba dari takengan terus ke aceh tenggara, ada banyak kekayaan hutan yang akan dijumpai, terutama diKetambe.