Pagi itu, pukul 7:00AM, seperi hari-hari biasa secara rutin saya sudah mendapati diri beranjak keluar dari kompleks perumahan UNMIL bergegas menuju kantor. Jarak dari hunian staff PBB di Monrovia dimana saya tinggal dengan kantor tidaklah terbilang jauh, kalau diukur kisaran 14 Km jauhnya, hanya saja perjalanan menuju kesana harus melalui banyak rintangan, dari mulai kondisi jalan yang buruk berlubang, beberapa titik persimpangan selalu ramai dengan seabrek-abrek pedagang kaki-lima yang memenuhi badan jalan dan para supir angkutan umum yang acapkali mengendarai taxi kuningnya secara sontoloyo. Maka perjalanan dengan waktu tempuh bebas hambatan hanay 10 – 15 menit, bisa berujung hampir 1 jam saat semua elemen runyam itu menghadang. Ya!, 1 jam, lho!.
Memang benar kejadian juga, saat saya melaju di sisi kiri lebih jauh, sebuah kendaraan dari sebelah kanan menyalip masuk kendak berbelok ke kiri untuk mengambil arah putar balik. “Braaak!”, bertabrakanlah 2 kendaaan itu. Sisi spakbor kanan mobil saya menghantam sisi pintu supir sebelah kiri mobil satu lagi. dalam hitungan kurang dari 1 menit, kerumunan masa sudah seperti semut-semut yang menemukan seonggok gula pasir. Heboh pisan-lah!
Tidak sedikit dari mereka yang akhirnya malah menjadi berkelahi beradu argumen akan menceritakan bagaimana 2 mobil itu bertabrakan, sementara saya dan supir kendaaan yang bersangkutan malah tenang-tenang saja menyaksikan mereka, para penonton itu beradu urat-leher – sambil kita menunggu kehadiran UNMIL Security Personnel dan LNP (Liberian National Police).
Setelah mereka tiba di lokasi kejadian, catat-mencatat dan dokumentasi lapanganpun dibuat dengan mendata dari hasil bukti dijalan dari sisa guratan ban mobil yang membekas lalu penyok pada body kendaraan, semuanya dicatat untuk proses lebih lanjut.
Berkendara di Liberia (dengan menggunakan kendaraan dinas PBB) bukanlah perkara sepele, baik di kota Monrovia yang sarat dengan lalu-lintas padat nan semrawut, ditambah lagi bagi mereka yang bertugas di sektor pedalaman, kubangan lumpur dan jalan berliku tanpa ada rambu serta lampu penerangan adalah makanan sehari-hari. Itulah mengapa pihak manajemenmisi telah memprasyaratkan bagi semua staff, tidak pandang bulu atas jennis kontrak dan jabatan yang akan dipangkunya kemudian; apakah itu staff sipil level asisten, kepala bagian sampai kepada kepala misi sekalipun WAJIB menjalani tes mengemudi dengan kendaraan double gardan (4×4 Wheel Drive), baik secara tes tertulis dan praktek.
Dalam jangka 1 minggu semenjak kedatangan, seorang staff baru (Baca: New Arrivals) harus menyelesaikan proses pendaftaran (Mission’s Check-in), dan Driving Test. Hampir kita semua umumnya sudah pandai mengemudi dan memiliki kartu SIM (Surat Ijin mengemudi/Driving License) dari negara asal masing-masing. Namun demikian, saat seseorang bergabung pada misi PBB dan mengendarai kendaraan dinas berlogo-kan “UN” dan simbol PBB, maka kartu SIM nasionalnya tidak berlaku kecuali menggunakan SIM khusus untuk Staff PBB yang hanya bisa dipakai untuk menyalakan mesin mobil (Integrasi sistem Carlog) dan mengendarai kendaraan dinas tersebut.
Tes mengemudi baik itu tertulis dan praktek, sepintas adalah gampang-gampang-susah, apalagi bagi mereka yang terbiasa mengendarai di sisi setir kanan lalu saat bertugas di misi harus mengendarai kendaraan dengan setir kiri. Nah, saat diuji parkir mundur, belok kiri-kanan dan berada di jalan ditengah kota dengan situasi lalu-lintas sebenarnya bisa saja menjadi gugup dan akhirnya gagal memperoleh SIM tersebut.
Kemampuan berkendara pada daerah operasi misi PBB, memang membutuhkan kepiawaian tersendiri. Medan jalan yang buruk, sikap pengguna jalan di negeri setempat dan bagaimana local traffic regulations yang berlaku serta prosedur penanganan kecelakaan dijalan pada daerah misi dan sikap pengemudi staff PBB bilamana terlibat dalam sebuah kecelakaan lau-lintas adalah suatu wacana baru yang penting untuk difahami, agar bisa menyiasatinya dengan baik dan terhindar dari potensi/resiko kecelakaan.
Saat nasib sial menghadang seperti terlibat pada kecelakaan lalu-lintas dimana kendaraan dinas menjadi rusak dan malah menimbulkan korban di pihak ketiga, usai proses penyidikan/investigasi oleh pihak “Security Section” hasilnya akan menentukan apakah staff misi yang bersangkutan dinilai lalai menjalankan kewajibannya dalam menjaga tata tertib mengemudi dan apakah kerusakan dan biaya reparasi kendaraan PBB tersebut dibebankan sebagian atau sepenuhnya pada staff ybs tadi. Runyam, khan?.
Mereka yang berkendara di sektor pedalaman juga tidak luput dari tantangan yang bukan kepalang. Belumlagi sikap pengemudi staff misi yang suka sok tahu dan nggakmau menuruti aturan, serta mereka yang sok pede memaksakan untuk menerjang suatu medan, yang akhirnya malah memperosokkan kendaraan itu kedalam kubangan atau nyari terjungkal. Kacau, deh!.
Itulah mengapa pentingnya setiap staff yang akan berangkat bertugas pada misi PBB agar disiapkan dari tanah airnya dahulu. Bagi rekan-rekan dari Kontingen Garuda, saya percaya bahwa PMPP-TNI telah mempersiapkan personilnya masing-masing agar faham dan terbiasa mengemudikan kendaraan setir kiri, dan persiapan keselamatan berkendara lainnya, agar semuanya bisa selamat dalam berkendara tidak hanya saat berdinas di misi, namun juga saat cuti mudik dan purna tugas, tetap mampu dan piawai dalam menjaga keselamatan berkendara. Drive to arrive alive mestinya selalu menjadi pegangan teguh setiap individu dalam mengemudi. Have a safe driving while on mission as well as at home.
Ayo ceritakan bagaimana pengalaman mengemudimu saat tiba di daerah penugasan misi PBB?.
















Gilee..sampe mobil bertumpuk kayak kerupuk..mungkin kondisi jalanan di Liberia mirip dengan di India. Hampir 90% mobil di sana cuma punya satu spion (sisi pengemudi) saja. Yang sisi satunya lagi, udah pada buntung kena sabet mobil lain. Sampe India mengeluarkan mob-nas (mobil nasional)nya, sengaja hanya pake satu spion saja.
wah bapak satu ini salah satu personil perdamaian PBB toh….
salut bung, sebuah pemaparan yang lengkap dan detail.
omong-omong kalau di Indonesia mobil bekas (bertumpuk) sudah jadi inceran para pemburu rupiah, he…he…
Salut… Di Jakarta aja, Ivone sudah keder. Satu kemanjaan yang hrs ditanggulangin, nih.
SIM sudah mati bertahun2 hrs di-refresh kapan ya bagusnya?
Heemmm.. benar2 membutuhkan Kebersamaan yang kuat :)
hohohoho… mau gak mau suka ngga suka dipaksa kudu jadi off-roader Kang… n biasanya dimana UN Mission berada pasti infrastructure negara ybs acakadut (kalau negaranya maju n tertib mah kagak perlu UN Mission ya..?)..
Kudu tenang, santai n stay focus.. n kendaraan umum disini ama bajaj di Jkt juga sama, hanya Tuhan dan supirnya aja yg tau kapan dia mau belok atau berhenti…hihihihi ;)
Kalo soal off road, kek nya bisa eksport supir2 metromini di indonesia deh…….hehehehe…..
holllaaa mas luigi…aka domba garut.. hahahaii saya kok kepikiran es telernya sinar garut yak?! :D
semalem sayah juga mampir kemari, cuma rada bingung aja, mana postingannya yak?
hohoho.. seru juga pengalaman menyetirnya. wew… menyetir dengan kemudi di kanan ajah sayah ga bisa apalagi di kiri? saya cuma user angkot & taksi doang :D.
btw, pas liat kendaraannya ampe bonyok gitu, just wondering… itu kecelakaannya guling2 di jalan tol atau dipukulin orang?
salam dari indo :)
ps. makasih atas tawarannya untuk bergabung. saya liat2 dulu ya persyaratannya :)
Artikel yang sangat faktual…!!
Hal seperti itu pun pernah terjadi pada diri saya, dimana Nissan Patrol yg cukup “tough” pun bisa terbalik gara2 sebuah lubang yang tidak terlalu besar di jalan antara Maridi County and Juba – South Sudan.
Akhirnya MSA satu bulan sedikit banyak terkuras untuk mengganti biaya perbaikan dan beberapa spare-part.
Jadi benar tentang “The DOs and Don’ts perihal driving. Lebih baik menggunakan *Metode Defensive Driving.
Regards,
Tommy Aria
CoESPU – Vicenza
Nice experience, wah itu buat saya entar deh kalau jadi beneran join yah, baru deh bisa cerita ..
Hεε☺…hεε☺…hεε☺….
Kang Luigi, onggokan mobil-mobil bekas itu mah bisa jadi peluang bisnis orang Madura yang kini sudah menjadi juragan pengumpul besi tua dan kapal-kapal karam di tanah air hasil etos kerja ulet mereka :-) hahahaa… Banyak bener tuh bangkai mobil-mobil yang rusak akibat kecelakaan…. Ketauan dah, selain medannya berat mungkin banyak juga pengemudi staff misi yang bersikap sok jagoan, mudah2n rekan2 Kontingen Garuda tidak begitu yaa… Ohya, “Drive to arrive alive” mudah2an bisa juga diterapkan pada supir-supir metromini & kopaja di Jakarta. Thanks for the nice article….
Terimakasih Artikel nya kang Luigi, jadi bahan pengetahuan nih.. thnks ya. dan goodluck juga take care. kang Luigi.
salam.
Tjut Lita.Lambeuso.
Assalamu’alaikum…..
Kang Pralangga, kumaha damang….? lami teu aya wartos…, eta geuning nuju pakeupuk pisan, kade ach……bilih kumaonam…..he he
Wilujeng damel kang…., wios ach ku basa sunda, Da moal aya anu ngartieun……he he. Iraha bade mudik ka lembur….wilujeng damel kang…..Nuhun, salam kanggo kulawargi….
wah…..selesai tugas bisa piawai sebagai off roader….nih!
Pengn tahu seperti apa sih perbandingannya dengan medan yang ada di Indonesia?
wah…..
Kalau pulang ke Indonesia, tdk ada saingan offroad hehehe
tetap semangat Om Lui.
salam,
Papa’na Dodo