Tulisan ini sebenarnya sudah saya rencanakan sekitar bulan Juli tahun yang lalu, tapi karena keterbatasan sumber akhirnya baru bisa ditulis sekarang…
Kembali ke bulan Juni-Juli ketika saya dan tim melakukan kegiatan pendidikan perdamaian di Takengon, Aceh Tengah. Di sela-sela acara yang ramai dan riuh rendah dengan canda tawa para ibu-ibu peserta lokakarya, ada satu lagu yang memorable buat saya. Judulnya Tawar Sedenge yang berarti penawar dunia. Ibu-ibu peserta lokakarya itu menyanyikan lagu ini dengan penuh penghayatan (eh, tapi mereka selalu ekspresif begitu ding hehehe…). Tapi saya selalu suka dengan bagaimana mereka mengekspresikan isi lagu ini.

Ternyata lagu Tawar Sedenge ini bukan lagu sembarangan. Lagu yang digubah dari puisi yang ditulis oleh A.R. Moese pada tahun 1956 ini sudah ditetapkan oleh pemerintah daerah setempat sebagai lagu resmi Aceh Tengah dan selalu dinyanyikan di acara-acara resmi di Aceh Tengah.
Lirik lagu Tawar Sedenge menggambarkan kekayaan tanah Gayo dan ajakan kepada masyarakat Gayo untuk bekerja menyingsingkan lengan baju, bekerja membangun Tanah Gayo.
Engon ko so tanoh Gayo Si megah mu reta dele Rum batang uyem si ijo, kupi bako e
(Lihatlah tanah Gayo yang terkenal dengan harta yang melimpah dengan batang pinus yang hijau serta kopinya)
Pengen ko tuk ni korek so Uwet mi ko tanoh Gayo Seselen pumu ni baju, netah dirimu
(Dengarlah suara ayam berkokok bangunlah tanah Gayo singsingkan lengan baju untuk memperbaiki dirimu)
Enti daten bur kelieten Mongot pude deru Oya le rahmat ni Tuhen, ken ko bewen mu
(Jangan biarkan gunung Kelieten menangis haru itulah rahmat Tuhan untuk kamu semua)
Uwetmi ko tanoh Gayo Semayak bajangku Ken tawar roh munyang datu, uwetmi masku
(Bangkitlah engkau tanah Gayo untuk tawar bagi pendahulu-pendahulu bangkitlah)
Ko matangku si mu mimpim Emah uyem ko ken soloh Katiti kiding enti museltu, i lah ni dene
(Engkau mata ku sebagai pemimpin/penunjuk arah bawalah pinus sebagai penerang agar kaki tidak tersandung dalam perjalanan)
O kiding kao ken cermin Remalan enti berteduh Enti mera kao tang duru, ton jema dele
(Kaki, engkau sebagai cermin jangan berhenti berjalan jangan mau engkau di belakang di tempat khalayak ramai)
Enti osan ku pumu jema Pesaka si ara Tenaring ni munyang datu, ken ko bewene mu
(Jangan berikan ke tangan orang lain pusaka yang ada peninggalan munyang datu/pendahulu negeri untuk kamu semua)
Uwet mi ko tanoh Gayo Ko opoh bajungku Ken tawar roh munyang datu, uwetmi masku
(Bangkitlah tanah/bangsa Gayo engkaulah pakaianku sebagai tawar untuk munyang datu/pendahulu bangun dan bangkitlah)
*lirik lagu dan artinya saya dapatkan dari wikipedia
(.dodie.)
Mas, saya jadi inget rumah…. :)