Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Tips menikmati Pesta dan Keriangan ala Liberia

11 November 2009, 13:09 , by Hilman Agung

 

@Posting kali ini untuk melepas rindu sama kang kampret dari negeri si bau kelek (red: Luigi). No hard feelings, ya kang Lui :P. Pahamilah kalau saya ngenyek (red: ngejek bernada ngelunjak) itu expresi sayang saya sama orang terdekat.  Tulisan ini sejatinya dibuat ketika baru saja saya berdomisili di Liberia untuk beberapa saat.  Berikut artikel yang sempat tertunda postingnya…  Party atau pesta (red: tanpa bermaksud merendahkan TOEFL pembaca) adalah aktivitas yang biasanya diadakan dipenghujung pekan di dunia tempatku bekerja walaupun bukan sesuatu yang regular tapi jika cukup rajin bergaul, acara ini cukup rutin dilakukan. Tentu saja pesta di akhir pekan adalah hal yang ditunggu-tunggu banyak orang, saat membebaskan diri setelah terpenjara rutinitas selama lima hari kerja dalam seminggu. Sudah merupakan kelumrahan di dunia kerja humanitarian ini untuk mengadakan pesta. Acara party sebenarnya bukan hal asing lagi di domain yang sudah kugeluti selama beberapa tahun belakangan ini, karena memang dipenuhi kaum lajang muda belia, lajang lapuk maupun lajang kajajaden (baca: jadi-jadian) yang jauh dari keluarga dan kerabat dekat, dimana acara ini bisa jadi obat pelipur lara yang cukup jitu untuk menghempaskan sejenak kerinduan kampung halaman dan sanak kerabat.

Walaupun penulis bukan ahli penggagas party tapi setidaknya menurut pengamatan dangkalku, ada 3 (tiga) unsur utama yang wajib ada di dalam pesta
keriaan ini:

1. Musik Pesta
I-pod atau laptop yang dihubungkan ke speaker besar merupakan sound system standard yang paling biasa digunakan. Warna musik cukup beragam mulai dari lagu barat, latin, hindustan, gurun pasir, african tergantung konteks wilayah yang intinya bercorak dugem. Paduan musik dug cek..dug cek ini sengaja diracik sedemikian rupa agar semua anggota tubuh tergoda untuk bergoyang, Komando Upacara Party ini dipimpin oleh seorang DJ-Dj-an yang bertugas mengisi playlist musik pengiring.
 
2. Menu party
Hidangan utama sekaligus pamungkas party adalah kacang … iya KACANG (Baca: Su’uk) … penganan mini penyubur jerawat yang kandungan kalorinya luar biasa tinggi ini adalah makanan pokok pesta. Efek adiktif kacang ini patut diwaspadai karena jika ini dikonsumsi, perasaan kenyang tak kan kunjung datang, walhasil investasi jerawat jangka pendek siap menanti dalam beberapa hari kedepan.
 
3. Minuman
Minuman istimewanya adalah minuman penghangat tubuh kecuali bandrek, sekoteng, bajigur atau wedang jahe – minuman ndeso yang cukup kugemari. Minuman rantai karbon bergugus – OH (baca: alkohol) adalah larutan pelepas dahaga utama party tanpa bermaksud iklan sebut saja heineken, guiness, budweiser, liquor lokal, white atau red wine, vodka, martini dan banyak lagi tak terlalu hapal aku namanya. Beruntung softdrink dan aneka juice minuman pelarianku selalu tersedia yang biasanya digunakan sebagai pencampur minuman harddrink – sedikit kupaksa memang istilah ini tapi yang dimaksud disini adalah minuman keras – (red: hard = keras; drink = minuman). Penegak murni minuman ringan ini (baca: tanpa dicampur alkohol) adalah kasta kedua terendah setelah para konsumen air mineral di jajaran para peminum sejati.

The liquors

Iya memang tidak asing dan tidak aneh party ini. Yang asing dan aneh adalah aku tak pernah bisa menikmati kesenangan party ini. Satu-satunya hal yang aku tunggu adalah kapan pesta ini berakhir sehingga aku bisa kembali ke kondisi default :peace and quiet. Bagaimana tidak, musik dugem dan aneka minuman liquor itu tidak bisa kucicipi kenikmatannya, paling banter kacang yang sudah pasti jauh dari rasa kenyang.

Selalu ada perasaan sedikit aneh dan terasing jika aku minum softdrink atau juice, rasanya ada norma sosial didalam party yang belum kupenuhi. Keimananku yang tipis tebal tak menentu ini masih menahanku untuk icip-icip si hard drink geblek itu. Hal berikutnya dalam sebuah party yang sulit aku nikmati adalah dancing, joget atau ajojing, walaupun beberapa kali aku coba berpartisipasi tapi rasanya sulit sekali tubuh ini mencerna goyangan sederhana ini. Entah berapa kali aku diajak seseorang untuk bergabung di dancing floor yang hampir semuanya kutolak setengah matang apalagi jika yang mengajak pasangan lawan jenis yang cukup atraktif.

“Hebat kasep pisan man … kayak yang kecakepan aja” ujarku di dalam hati. Di luar party aku adalah penikmat berbagai macam musik tetapi jika kuberada didalam sebuah party dimana musik dug-cek dug-cek ini sudah dimulai badan dan kakiku bersiap-siap memasang kuda-kuda menancap kaku kedalam bumi. Dapat dimengerti keengganan diriku untuk tidak menegak si hardrink geblek ituit’s completely acceptable, mungkin diriku masih cukup sadar agar tak melepas diri keluar jalur dari keyakinanku.

Tapi joget! pikiran muslim moderatku (baca: muslim yang biasa-biasa saja) memberi lampu hijau tanda tidak ada pelanggaran norma agama yang serius. Well it’s just not me, I guess … adalah penjelasan rasional ke-alien-an diriku di dalam sebuah party dan tidak ada alasan kuat buat diriku kenapa aku harus memaksa diri menyukai party, karena memang begitulah adanya si kabayan saba afrika ini.

Dancing Party

Namun demikian, tetep terlepas dari joget-joget ala afrika yang notabene banyak digandrungi kalangan muda disini, saya juga sedikit menikmati bila khalayak expat-nya lebih banyak ketimbang penikmat lokalnya.

Party in Sinkor

Tapi terlepas dari suka atau tidak diriku pada party ini, tak pelak partisipasi pasif di dalam sebuah party sering kulakukan dalam rangka memperluas jejaring sosial. Disini saatnya melempar jaring perkawanan selebar mungkin, saat dimana para petinggi organisasi melepas topengnya untuk menjadi manusia biasa, saat yang baik untuk mengenal pribadi masing-masing. Maka dari itu undangan party ini biasanya kugunakan sebaik-baiknya untuk menjaga perkawanan rekan-rekan sejawat dan lintas organisasi.

Tips and Tricks untuk rekan-rekan non-partisan (baca: bukan penikmat party) seperti penulis:

1.Makan besarlah sebelum bertandang
Budaya party ini walaupun esensinya mirip dengan tema “selametan” ala indonesia, tetapi tampilannya sangat berbeda. Dominasi kultur barat lebih kental disini, menu makanan anti lapar seperti nasi, ayam, lalap dan konco-konconya bisa dipastikan bakal absen. Walaupun tidak selalu seperti ini di beberapa kasus, tetapi sedia payung sebelum hujan merupakan pepatah yang baik untuk diikuti. Jadi sebaiknya isilah perut secukupya sebelum pergi ke sebuah party, kemungkinan kekecewaan minimnya makanan berat bisa di tanggulangi.

Dining in Monrovia
 
2.Datanglah sedikit awal
Datanglah lebih awal jika anda malas berjoget ketika pesta masih sepi, saat yang baik untuk bersosialisasi dimana sebagian orang masih malas berjoget ketika masih belum cukup panas untuk menari. Bergoyanglah alakadarnya jika memang terpaksa, apalagi alasan tidak enak badan dan kaki terkilir sudah terlalu sering digunakan.
 
3.Minumlah softdrink atau juice
Untuk para peminum anti alkohol, bersegeralah mengambil segelas minuman softdrink atau juice dan jangan biarkan kosong untuk mengantisipasi penuangan si jadam harddrink dari rekan teler yang cukup terjaga bahwa minuman gugus alkohol yang tersedia biasanya on the house (baca: gratis).

Party acquaintances

Jika ketiga hal ini sudah dilakukan, segeralah berpamitan dengan alasan standar yaitu ada party atau janji lain yang harus dipenuhi untuk menambah kesan penting. Tanpa bermaksud judgemental sama sekali terhadap para penikmat party. Begitulah kurang lebih adanya kultur dunia humanitarian yang didominasi orang asing ini, bergaul tanpa merubah gaya hidup sangat mungkin dilakukan. Jadi teringat salah satu nasehat Monica kepada Chandler disalah satu episode Friends “Just be yourself BUT not too much”. Tulisan ini dibuat dalam rangka iseng, ditujukan kepada para pembaca yang kurang gaul dalam arti positif (baca: anak rumahan), seperti penulis yang memang berjiwa ndeso.

Hilman Agung Born and spent most of his education in Bandung. His bachelor was in environmental engineering then he continued to pursue his master degree in Delft, the Netherlands, from 2004 to 2006. Starting his career at a water company in Jakarta....

Detail Profile »

7  Comments

by Luigi Pralangga at 11 November 2009, 13:14

Harus diakui bahwa party ala Monrovia ini bagi kebanyakan kita-kita disini, semua tergantung si pembawa caranya.. tips-tipsnya memang ampuh bener, terutama soal “isi-bensin” dulu sebelum datang, sebab hanya kacang dan KACANG saja yang disediakan :D

Beda yah kalau pesta di Rumah Indonesia :-) mesti lebih banyak makanan-nya :D

by Ehabel at 11 November 2009, 14:00

Nice tip BrotH!! Kayaknya sih di Kongo sama juga kejadiannya. Tapi paling penting dan sudah saya praktekkan “jadilah diri sendiri dan jangan takut berkata tidak”. They will respect U anyway.

by Sindhu Hanggara at 12 November 2009, 00:30

Senang bisa membaca pengalaman mas Hilman Agung di Liberia semoga bisa menjadi informasi yang berharga bagi kita semua,beda Liberia beda Nepal…ntar deh kita tulis pengalaman saya jalan2 di Nepal.

by bakulrujak at 12 November 2009, 02:40

wah, pasti sangat menarik..
kapan-kapan boleh dicoba, dikombinasikan sama perta kebun ala indonesia :D

by kus at 14 November 2009, 07:25

kalau pesta barbeque alias sate kambing , aye pasti datang :)

by hilman at 18 November 2009, 08:17

Nuhun kang lui … dah dilengkapin fotonya,:).
Kangen liberia, jadi kangen party nih ..( party mode ON) :P

by Rahmi at 23 November 2009, 21:44

waaah,,menarik sekali ya pestanya,,foto2nya juga,,heu2,,maaf saia jadi ikutan comment yaa,, hebat yaa yang nulis,,kuat iman euy,,pertahankan..

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

796 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Endro Prabowo Bripka Endro Prabowo, S.Kom, was born in Semarang, in September 25th 1975. Concluded High School at SMAN 1 Ungaran in 1993, joined the Indonesian National Police in 1995 then graduated at National Police School Banyubiru further assigned there as Instructor...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Unsur Pimpinan Kontingan Garuda Sektor Timur UNIFIL Kunjungi Jenderal LAF
(Lebanon, 3/2). Unsur pimpinan Kontingen Garuda yang berada di bawah Sektor Timur (Seceast) UNIFIL melaksanakan kunjungan ke Markas Bigade 9 LAF, rombongan dibawah pimpinan Kolonel Inf Marzuki Wadan Sektor Timur UNIFIL diterima oleh Komandan Brigade 9 LAF Brigadir Jenderal Amin Abu Mujahidi di Markasnya wilayah Marjayoun, Lebanon Selatan, Kamis (03/02).
Wandi Suwandi , 5 days ago

Peranan Pendamping Peacekeepers
Well, edisi yang satu ini kalau mau diurai mungkin baru akan habis 4 hari 5 malam, kok nanggung?. Kenapa nggak sekalian aja 7 hari 7 malam?. Jangan dong.. nanti nggak tidur lantas hari Senin-nya nggak bisa bangun untuk kerja. Anyhow, merujuk judul artikel kali ini, saya ingin mengulas sedikit akan peranan sang pendamping. Biasanya jarang dalam artikel ini dan sajian bacaan di warung sebelah saya mengulas perihal si Idung Pesek ini. Ya, “Idung Pesek” itulah sebutan romantis sang pendamping saya. Mungkin bagi rekans yang selama ini sempat mengikuti rentetan panjang sajian cerita di warung sebelah akan faham seperti apa wujud, kelakar dan personality traits si pendamping peacekeepers ini.
Luigi Pralangga , 12 days ago

Pemberdayaan kapasitas Police Adviser Kontingen Garuda Bhayangkara
Dalam memenuhi permintaan PBB, Polri perlu mempersiapkan personilnya secara maksimal, oleh karena itu selain dari kemampuan yang handal, perlu mengetahui apa saja yang diminta oleh PBB sebagai Stakeholder. Dari sekian banyak persyaratan yang diminta, Komandan Kontingen perlu membawa jumlah personil yang banyak. Dibandingkan Negara lain, personil Polri dalam Misi Perdamaian PBB tidaklah banyak.
Krishna Murti , 15 days ago

TNI bantu Levelling Camp Guatemala
Di samping tugas pokok Mengerjakan jalan antara Dungu-Duru, kepada United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo (MONUSCO), Satgas Kompi Zeni TNI Konga XX-I, khsusnya personel... »
Sulikan , 15 days ago

Indobatt latihan dengan Tentara Spanyol di Lebanon
Latihan melibatkan empat tim dari masing-masing Kompi dengan skenario penempatan dua tim sebagai Temporary Observation Postn (TmOP) sebagai ujung tombak pencari informasi, dan dua tim lainnya sebagai Permanen Observation Post (PmOP), masing-masing postn terdiri dari enam personel Indobat dan 2 personel dari Spanyol, tim TmOP bertugas sebagai ujung tombak dilapangan sebagai pencari informasi dengan menggunakan peralatan pendeteksi canggih yang dimiliki Spanyol.
Wandi Suwandi , 16 days ago

 

Recent Comments

ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


ranuoesman commented on TNI bantu Levelling Camp Guatemala
a few seconds ago


frida jeane vera commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


Tjut Lita Lambeuso commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


dody muhtar commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago