@Posting kali ini untuk melepas rindu sama kang kampret dari negeri si bau kelek (red: Luigi). No hard feelings, ya kang Lui :P. Pahamilah kalau saya ngenyek (red: ngejek bernada ngelunjak) itu expresi sayang saya sama orang terdekat. Tulisan ini sejatinya dibuat ketika baru saja saya berdomisili di Liberia untuk beberapa saat. Berikut artikel yang sempat tertunda postingnya… Party atau pesta (red: tanpa bermaksud merendahkan TOEFL pembaca) adalah aktivitas yang biasanya diadakan dipenghujung pekan di dunia tempatku bekerja walaupun bukan sesuatu yang regular tapi jika cukup rajin bergaul, acara ini cukup rutin dilakukan. Tentu saja pesta di akhir pekan adalah hal yang ditunggu-tunggu banyak orang, saat membebaskan diri setelah terpenjara rutinitas selama lima hari kerja dalam seminggu. Sudah merupakan kelumrahan di dunia kerja humanitarian ini untuk mengadakan pesta. Acara party sebenarnya bukan hal asing lagi di domain yang sudah kugeluti selama beberapa tahun belakangan ini, karena memang dipenuhi kaum lajang muda belia, lajang lapuk maupun lajang kajajaden (baca: jadi-jadian) yang jauh dari keluarga dan kerabat dekat, dimana acara ini bisa jadi obat pelipur lara yang cukup jitu untuk menghempaskan sejenak kerinduan kampung halaman dan sanak kerabat.
Walaupun penulis bukan ahli penggagas party tapi setidaknya menurut pengamatan dangkalku, ada 3 (tiga) unsur utama yang wajib ada di dalam pesta
keriaan ini:
1. Musik Pesta
I-pod atau laptop yang dihubungkan ke speaker besar merupakan sound system standard yang paling biasa digunakan. Warna musik cukup beragam mulai dari lagu barat, latin, hindustan, gurun pasir, african tergantung konteks wilayah yang intinya bercorak dugem. Paduan musik dug cek..dug cek ini sengaja diracik sedemikian rupa agar semua anggota tubuh tergoda untuk bergoyang, Komando Upacara Party ini dipimpin oleh seorang DJ-Dj-an yang bertugas mengisi playlist musik pengiring.
2. Menu party
Hidangan utama sekaligus pamungkas party adalah kacang … iya KACANG (Baca: Su’uk) … penganan mini penyubur jerawat yang kandungan kalorinya luar biasa tinggi ini adalah makanan pokok pesta. Efek adiktif kacang ini patut diwaspadai karena jika ini dikonsumsi, perasaan kenyang tak kan kunjung datang, walhasil investasi jerawat jangka pendek siap menanti dalam beberapa hari kedepan.
3. Minuman
Minuman istimewanya adalah minuman penghangat tubuh kecuali bandrek, sekoteng, bajigur atau wedang jahe – minuman ndeso yang cukup kugemari. Minuman rantai karbon bergugus – OH (baca: alkohol) adalah larutan pelepas dahaga utama party tanpa bermaksud iklan sebut saja heineken, guiness, budweiser, liquor lokal, white atau red wine, vodka, martini dan banyak lagi tak terlalu hapal aku namanya. Beruntung softdrink dan aneka juice minuman pelarianku selalu tersedia yang biasanya digunakan sebagai pencampur minuman harddrink – sedikit kupaksa memang istilah ini tapi yang dimaksud disini adalah minuman keras – (red: hard = keras; drink = minuman). Penegak murni minuman ringan ini (baca: tanpa dicampur alkohol) adalah kasta kedua terendah setelah para konsumen air mineral di jajaran para peminum sejati.
Iya memang tidak asing dan tidak aneh party ini. Yang asing dan aneh adalah aku tak pernah bisa menikmati kesenangan party ini. Satu-satunya hal yang aku tunggu adalah kapan pesta ini berakhir sehingga aku bisa kembali ke kondisi default :peace and quiet. Bagaimana tidak, musik dugem dan aneka minuman liquor itu tidak bisa kucicipi kenikmatannya, paling banter kacang yang sudah pasti jauh dari rasa kenyang.
Selalu ada perasaan sedikit aneh dan terasing jika aku minum softdrink atau juice, rasanya ada norma sosial didalam party yang belum kupenuhi. Keimananku yang tipis tebal tak menentu ini masih menahanku untuk icip-icip si hard drink geblek itu. Hal berikutnya dalam sebuah party yang sulit aku nikmati adalah dancing, joget atau ajojing, walaupun beberapa kali aku coba berpartisipasi tapi rasanya sulit sekali tubuh ini mencerna goyangan sederhana ini. Entah berapa kali aku diajak seseorang untuk bergabung di dancing floor yang hampir semuanya kutolak setengah matang apalagi jika yang mengajak pasangan lawan jenis yang cukup atraktif.
“Hebat kasep pisan man … kayak yang kecakepan aja” ujarku di dalam hati. Di luar party aku adalah penikmat berbagai macam musik tetapi jika kuberada didalam sebuah party dimana musik dug-cek dug-cek ini sudah dimulai badan dan kakiku bersiap-siap memasang kuda-kuda menancap kaku kedalam bumi. Dapat dimengerti keengganan diriku untuk tidak menegak si hardrink geblek itu … it’s completely acceptable, mungkin diriku masih cukup sadar agar tak melepas diri keluar jalur dari keyakinanku.
Tapi joget! pikiran muslim moderatku (baca: muslim yang biasa-biasa saja) memberi lampu hijau tanda tidak ada pelanggaran norma agama yang serius. Well it’s just not me, I guess … adalah penjelasan rasional ke-alien-an diriku di dalam sebuah party dan tidak ada alasan kuat buat diriku kenapa aku harus memaksa diri menyukai party, karena memang begitulah adanya si kabayan saba afrika ini.
Namun demikian, tetep terlepas dari joget-joget ala afrika yang notabene banyak digandrungi kalangan muda disini, saya juga sedikit menikmati bila khalayak expat-nya lebih banyak ketimbang penikmat lokalnya.
Tapi terlepas dari suka atau tidak diriku pada party ini, tak pelak partisipasi pasif di dalam sebuah party sering kulakukan dalam rangka memperluas jejaring sosial. Disini saatnya melempar jaring perkawanan selebar mungkin, saat dimana para petinggi organisasi melepas topengnya untuk menjadi manusia biasa, saat yang baik untuk mengenal pribadi masing-masing. Maka dari itu undangan party ini biasanya kugunakan sebaik-baiknya untuk menjaga perkawanan rekan-rekan sejawat dan lintas organisasi.
Tips and Tricks untuk rekan-rekan non-partisan (baca: bukan penikmat party) seperti penulis:
1.Makan besarlah sebelum bertandang
Budaya party ini walaupun esensinya mirip dengan tema “selametan” ala indonesia, tetapi tampilannya sangat berbeda. Dominasi kultur barat lebih kental disini, menu makanan anti lapar seperti nasi, ayam, lalap dan konco-konconya bisa dipastikan bakal absen. Walaupun tidak selalu seperti ini di beberapa kasus, tetapi sedia payung sebelum hujan merupakan pepatah yang baik untuk diikuti. Jadi sebaiknya isilah perut secukupya sebelum pergi ke sebuah party, kemungkinan kekecewaan minimnya makanan berat bisa di tanggulangi.

2.Datanglah sedikit awal
Datanglah lebih awal jika anda malas berjoget ketika pesta masih sepi, saat yang baik untuk bersosialisasi dimana sebagian orang masih malas berjoget ketika masih belum cukup panas untuk menari. Bergoyanglah alakadarnya jika memang terpaksa, apalagi alasan tidak enak badan dan kaki terkilir sudah terlalu sering digunakan.
3.Minumlah softdrink atau juice
Untuk para peminum anti alkohol, bersegeralah mengambil segelas minuman softdrink atau juice dan jangan biarkan kosong untuk mengantisipasi penuangan si jadam harddrink dari rekan teler yang cukup terjaga bahwa minuman gugus alkohol yang tersedia biasanya on the house (baca: gratis).
Jika ketiga hal ini sudah dilakukan, segeralah berpamitan dengan alasan standar yaitu ada party atau janji lain yang harus dipenuhi untuk menambah kesan penting. Tanpa bermaksud judgemental sama sekali terhadap para penikmat party. Begitulah kurang lebih adanya kultur dunia humanitarian yang didominasi orang asing ini, bergaul tanpa merubah gaya hidup sangat mungkin dilakukan. Jadi teringat salah satu nasehat Monica kepada Chandler disalah satu episode Friends “Just be yourself BUT not too much”. Tulisan ini dibuat dalam rangka iseng, ditujukan kepada para pembaca yang kurang gaul dalam arti positif (baca: anak rumahan), seperti penulis yang memang berjiwa ndeso.




Harus diakui bahwa party ala Monrovia ini bagi kebanyakan kita-kita disini, semua tergantung si pembawa caranya.. tips-tipsnya memang ampuh bener, terutama soal “isi-bensin” dulu sebelum datang, sebab hanya kacang dan KACANG saja yang disediakan :D
Beda yah kalau pesta di Rumah Indonesia :-) mesti lebih banyak makanan-nya :D
Nice tip BrotH!! Kayaknya sih di Kongo sama juga kejadiannya. Tapi paling penting dan sudah saya praktekkan “jadilah diri sendiri dan jangan takut berkata tidak”. They will respect U anyway.
Senang bisa membaca pengalaman mas Hilman Agung di Liberia semoga bisa menjadi informasi yang berharga bagi kita semua,beda Liberia beda Nepal…ntar deh kita tulis pengalaman saya jalan2 di Nepal.
wah, pasti sangat menarik..
kapan-kapan boleh dicoba, dikombinasikan sama perta kebun ala indonesia :D
kalau pesta barbeque alias sate kambing , aye pasti datang :)
Nuhun kang lui … dah dilengkapin fotonya,:).
Kangen liberia, jadi kangen party nih ..( party mode ON) :P
waaah,,menarik sekali ya pestanya,,foto2nya juga,,heu2,,maaf saia jadi ikutan comment yaa,, hebat yaa yang nulis,,kuat iman euy,,pertahankan..