Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Nadia FEBINA

Tips bahagia hidup di Angola

1 April 2010, 04:57 , by Nadia Febina

 

Setelah posting menye-menye sebelum ini tentang tinggalnya saya di Angola yang tidak akan lama lagi, mungkin ada baiknya saat ini kita putar balikkan_ menye-menye_ itu dengan hal yang lebih berguna. Misalnya, hal-hal apa yang bisa kita pelajari dari budaya kawan-kawan di Angola sini?.

Africa Political Map

Angola Map

Hari ini saya mendapat kesempatan berbicara dengan dua orang tamu berasal dari sebuah negara di benua Eropa dan baru pertama kali mengunjungi negara ini. Setengah basi-basi, saya tanya bagaimana pesawat semalam apakah membuat mereka letih dan apakah ketika mendarat pertama kali di Angola mengalami shock-shock tertentu dari apa yang terlihat. Keduanya menjawab bahwa mereka expect sesuatu yang sangat parah tapi ternyata tidak seperti separah itu. “Saya tau karena apa”, ujar salah satu bapak itu, “karena begitu mendarat kami disambut orang-orang yang tersenyum. Bukan senyum yang dibuat-buat tapi yang tersenyum dari matanya. It gives me warm feeling.” Memang pendapat mereka kedengaran agak sok tahu dan berteori tapi saya akui dan saya ingat-ingat memang kayaknya itu juga yang saya rasakan ketika pertama kali menginjak negara ini.

Saat itu saya masih seorang yang bisa dibilang gagap budaya karena walaupun saya termasuk salah satu yang beruntung suka diajak liburan kesana-kemari dan bekerja di perusahaan multinasional, namun untuk benar-benar menetap selama di suatu negara di luar benua Asia, saat itu saya belum punya pengalaman. Untuk teman-teman yang sudah saya kenal lewat blog dari pertama kali blog ini dibuat, mungkin pada tau bahwa sebelum dikirim ke Angola, saya ditempatkan sementara selama 7 bulan di negara Inggris. Saat itu, mungkin karena suhu yang dingin dan banyak hujan, atau karena budaya individualis masyarakat sana, terus terang saya merasa kurang pas berada di situ. Karakter saya yang suka ngobrol sana-sini dan berteman dengan orang baru yang banyak, kurang pas dengan kehidupan kota London yang semuanya serba convenient sehingga interaksi dengan sesama manusia kurang begitu penting.

Saya akui saya tidak melulu menderita berada di London, karena kotanya sendiri sangatlah lively. Tapi terus terang saya juga akui, ada something is missing, ibarat makanan saat itu atmosphere berasa hambar, perlu bumbu sedikit tapi entah bumbu yang mana.

Pertama kali menginjakan kaki di bumi Angola tiga tahun lalu, saya kaget bukan kepalang dengan airportnya yang eng-ing-eng. Bukan petugas imigrasi yang pertama kali menyambut kita, tapi sepasukan nyamuk-nyamuk yang gesit. Dan siapa bilang nyamuk-nyamuk ini menyambut di gedung airportnya?. Bukan, mereka sudah menyambut di bus besar yang mengangkut penumpang dari pesawat ke gedung airport (di sini tidak ada belalai gajah). Dicampur dengan peringatan-peringatan tentang bahaya malaria yang bertipe mematikan di Angola, berdiri di bus selama 10 menit dikelilingi sepasukan nyamuk ini memang cukup membuat sport jantung.


View Larger Map

Airportnya sendiri, saat tiga tahun lalu masih berbentuk airport lama yang belum direnovasi sejak jaman penjajahan portugis (saat ini airport nya sudah jauh berbeda bentuknya sejak diadakan CAN2010 January lalu). Selain tidak ber-AC, dimana-mana bisa tercium semriwing bau WC karena WC nya tepat berada di depan hall imigrasi dan tercium juga bau yang lain yaitu bau: ehmbawang.

Bandara diLuanda Bandara diLuanda5

Bandara diLuanda4 Bandara diLuanda2

Mungkin hasil dari tidak ada AC sehingga tumbuhlah semerbak bau bawang menusuk itu di ruangan. Petugas imigrasinya pun jauh dari ramah. Lengkaplah sudah pengalaman “eng-ing-eng” hari pertama ini.

Untungnya pengalaman selanjutnya yang saya temui begitu sampai di depan hotel menginap agak berbeda. Agak trauma dengan pengalaman di airport, saya yang selalu mengakunya pemberani ini jadi berjalan agak menunduk takut digongong lagi oleh pengalaman-pengalaman aneh dan orang-orang muka galak. Untungnya saya punya kebiasaan cengengesan dan masa bodoh. Disambut oleh satpam dengan muka galak, refleks saya senyum dan menyapa dengan bekal bahasa portugis pas-pasan hasil kursus selama 6 kali 1 jam di London: “Bom Dia! Como esta?” (Selamat pagi! Apa kabar?).

Terbiasa dengan suasana London yang kalau saya menyapa, “Good morning everybody!” di kantor tapi tidak ada yang menyahut, kali ini saya pun tidak mengharap sapaan balik dari bapak satpam hotel angola. Yang penting kita beramah-tamah, urusan dia gak ramah sih salah dia sendiri, iya nggak?.

Tapi siapa sangka, si bapak satpam dengan muka garang itu langsung malah langsung tersenyum lebar bar-bar-bar ala kebapakan (memang bapak-bapak sih) dan menyapa balik dengan antusias: “Tudo bem! Eeeh, voce fala portugues? E chinesa?” (kabar baik! Loh, situ ngomong portugis? Orang cina ya?).

Cina? Ya, sudahlah.. (Belakangan saya tahu bahwa segala bentuk muka berbau Asia, dibilang dari negara Cina, tidak peduli saya hitam-keling-sawo-busuk begini, menurut mereka sama saja. Jadi Ge-eR deh, ihik). Dan kami pun ngobrol sekitar setengah menit sebelum saya benar-benar masuk. Senang, ternyata si bapak tidak galak!.

Begitu saya memulai bekerja di kantor, saya memakai taktik yang sama dengan taktik di setiap kantor baru: SKSD: Sok Kenal Sok Dekat. Sapa sana sapa sini. Belagak-belagak bisa ngomong portugis biarpun cuma sebatas bom dia dan como esta. Berbeda dengan pengalaman di London, ternyata tanggapan dari teman-teman di kantor Luanda sini sungguhlah luar biasa. Mereka bukan hanya membalas segala sapaan itu, tapi langsung mengajak makan siang bersama, dan mulai membuka diri cerita-cerita dari masalah non-pribadi sampai cukup pribadi.

Baru beberapa minggu saya tiba di negara ini, saya sudah bisa bertemu dengan banyak teman baru. Rata-rata memang kolega tapi pertemanan kami dibawa sampai di luar kantor. Di sinilah saya merasa pas, akhirnya bakat cengengesan dan suka rumpi yang terpendam selama tujuh bulan kemarin itu terpuaskan sudah.

Hanya dengan cara memulai hari pertama dengan senyum. Mudah sekali..!

Di tempat umum pun begitu. Terus terang memang, untuk kita yang datang dari Indonesia, tampilan orang-orang sini memang menyeramkan, khususnya yang laki-laki. Sekarang saya di sini sudah 3 tahun, jadi sudah bisa membedakan mana yang bandidos (berandalan/ preman), mana yang orang biasa saja. Tapi ketika dulu baru sampai, semua orang di jalan rasanya seperti muka preman semua. Pernah saya ngobrol bersama teman yang sama-sama dari Asia (males ah, sebut negaranya) dan mereka bilang suka sebal sama orang sini yang kata mereka sombong-sombong dan tidak pernah menegur. Bawaannya melototin dari atas sampai bawah saja.

Memang ini benar, entah kenapa mereka kalau baru bertemu selalu melotot dulu bawaannya, beda dengan orang Indonesia yang hobby basa-basi (termasuk, contohnya saya) dan dari jauh saja sudah kelihatan senyum dan giginya. Tapi pengalaman saya dan Maskyu, begitu mereka melotot, kalau kita selalu sambut dengan cengiran manis dan bilang Bom Dia atau Boa Tarde (selamat siang) atau Boa Noite (selamat malam), langsung biasanya dibalas dengan tawa lebar yang memenuhi mukanya dan memamerkan gigi-gigi yang putih kinclong.

Ternyata yaaa..! Eh tapi sedikit tips buat yang berencana mengunjungi Angola: Jangan meremehkan preman-preman yang ada di jalanan ya.. Biarpun mereka rata-rata masih muda, tapi rata-rata mereka pernah mengalami tahun-tahun ketika jaman perang 7-8 tahun yang lalu. Jadi kita tidak tahu apa saja yang pernah mereka lihat dan lewati semasa hidupnya, yang jelas saya masih suka mendengar suara-suara bang bang dor dor dor di tengah malam karena senjata tangan masih beredar luas di jalanan. Jadi, tetap hati-hati!

Ini beberapa jepretan kota Luanda:

39380301luan_20010828_02368.jpg Luanda Scene3

Kembali ke soal ramah-tamah dan senyam-senyum, lucunya saya perhatikan, orang-orang dari kantor Inggris yang dulu hobby nggak nyahut itu kalau dibilang “Good Morning” itu, begitu mereka visit Angola sebentar saja, jadi ketularan super duper ramah dan keliatan gilanya. Setiap pagi sampai di kantor selalu menyapa semua orang di ruangan dengan bilang Bom Dia keras-keras. Lohh, kok.. Jadiiii.. berarti selama ini apa yaa???? :) Sering saya godain mereka, bilang kalau kebiasaannya jadi berbeda, mereka mengakui memang kalau kebiasaan berinteraksi dengan sesama ini menular.

Sering saya dikomentari sama kawan-kawan ekspat di sini atau kawan-kawan di kampung halaman: Kenapa sih suka banget tinggal di negara yang nggak enak ini, mana orangnya galak-galak pula. Dengan merendah saya cuma bisa bilang hanya satu rahasianya: Ya senyum dong.

Secara kebudayaan, Angolans adalah pribadi-pribadi yang ramah dan suka berkawan. Yang harus lakukan kita hanyalah_ membuka diri_.. ya dengan cara tersenyum itu. Hitung-hitung hati jadi gembira dan teman pun tambah banyak.

Smiling Angolan Girl

Sudahkah anda tersenyum hari ini?
 :)

Note: Beberapa images diambil dari beberapa sumber dan adalah hak cipta masing-masing pemilik.

Nadia FEBINA Nadia FEBINA Nadia Febina has been working as an engineer for 7 years in oil & gas projects & production for a major oil company. She now lives in Angola since February 2007. Prior to that, also as an engineer, she had...

Detail Profile »

5  Comments

by Silly at 1 April 2010, 18:39

Ah… senyum memang pencair segala suasana yang kaku yah.

Saya menikmati sekali cerita ini, bisa kebayang bagaimana rasanya harus tinggal di negara yang kata orang gak enak.

Thanks for sharing yah.

Kapan kejakarta… Jadi khan??? :D

by Luigi Pralangga at 4 April 2010, 08:02

Nggak cuman di Angola aja kok, di Liberia pin sama situasinya.. tampang hitam mereka itu buat kita-kita yang pertama kali mendarat disini sudah menjadi ‘impresi’yang menyeramkan.. namun saat udah diberi senyum dan diajak ngobrol kalau pede – mereka sebenernya baik kok..

Satu lagi pengalaman menarik saat masuk ke restoran masakan cina di Monrovia, pelayan yang membukakan pintu masuk menyapa saya sambil membungkuk bak filem2 silat itu dan berkata: “Nihau…”

Dalam hati, memang deh tampang Indonesia yang jauh dari tampang khas typical Chinese itu masih disamaratakan oleh mereka. Pokoknya tampang asia dikit ya China :D

by nadia febina at 8 April 2010, 15:56

Silly.. makasih komen nya. Senyum ibadah juga ktanya?? huehehe..
iyaa jadi insya Allah sampe akhir april awal may gitu.. Gw contact lewat DM ya say, begitu sampe.

by tika at 6 October 2010, 21:03

wah thanks ya udah bisa berbagi info dari angola klo ada lanjutan nya kutunggu

by dhony at 19 February 2011, 03:07

agree…senyum memang pencair suasana.

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

0 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Guslin Kamase Lieutenant Colonel Guslin Kamase was born in Majene, West Sulawesi, Indonesia. The location of this city is close to the area where “Adam Air” Plane felt down to the sea on 1st of January 2007. After joining with Indonesian Naval...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Peranan Pendamping Peacekeepers
Well, edisi yang satu ini kalau mau diurai mungkin baru akan habis 4 hari 5 malam, kok nanggung?. Kenapa nggak sekalian aja 7 hari 7 malam?. Jangan dong.. nanti nggak tidur lantas hari Senin-nya nggak bisa bangun untuk kerja. Anyhow, merujuk judul artikel kali ini, saya ingin mengulas sedikit akan peranan sang pendamping. Biasanya jarang dalam artikel ini dan sajian bacaan di warung sebelah saya mengulas perihal si Idung Pesek ini. Ya, “Idung Pesek” itulah sebutan romantis sang pendamping saya. Mungkin bagi rekans yang selama ini sempat mengikuti rentetan panjang sajian cerita di warung sebelah akan faham seperti apa wujud, kelakar dan personality traits si pendamping peacekeepers ini.
Luigi Pralangga , 7 days ago

Pemberdayaan kapasitas Police Adviser Kontingen Garuda Bhayangkara
Dalam memenuhi permintaan PBB, Polri perlu mempersiapkan personilnya secara maksimal, oleh karena itu selain dari kemampuan yang handal, perlu mengetahui apa saja yang diminta oleh PBB sebagai Stakeholder. Dari sekian banyak persyaratan yang diminta, Komandan Kontingen perlu membawa jumlah personil yang banyak. Dibandingkan Negara lain, personil Polri dalam Misi Perdamaian PBB tidaklah banyak.
Krishna Murti , 10 days ago

TNI bantu Levelling Camp Guatemala
Di samping tugas pokok Mengerjakan jalan antara Dungu-Duru, kepada United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo (MONUSCO), Satgas Kompi Zeni TNI Konga XX-I, khsusnya personel... »
Sulikan , 10 days ago

Indobatt latihan dengan Tentara Spanyol di Lebanon
Latihan melibatkan empat tim dari masing-masing Kompi dengan skenario penempatan dua tim sebagai Temporary Observation Postn (TmOP) sebagai ujung tombak pencari informasi, dan dua tim lainnya sebagai Permanen Observation Post (PmOP), masing-masing postn terdiri dari enam personel Indobat dan 2 personel dari Spanyol, tim TmOP bertugas sebagai ujung tombak dilapangan sebagai pencari informasi dengan menggunakan peralatan pendeteksi canggih yang dimiliki Spanyol.
Wandi Suwandi , 11 days ago

TNI Bantu Clearing Landasan Helipad di Dungu
(Dungu-Kongo, 19/01). Prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Kompi Zeni TNI Kontingen Garuda XX-I/MONUSCO dibawah pimpinan Letnan Kolonel Czi Sapto Widhi Nugroho selaku Komandan Satgas (Dansatgas) di samping tugas pokoknya memberi bantuan Zeni kepada Divisi Timur Brigade Ituri MONUSCO (Mission De L Organisation Des Nations Unies pour La Stabilization en Republique Demokratique du Congo) diantaranya mengerjakan jalan Dungu-Duru sepanjang 38 Km dan pemeliharaan Runway, juga melaksanakan clearing di sekitar landasan Helipad di Dungu agar tetap terjaga kebersihannya serta tidak mengganggu helly pada saat take off maupun landing, Rabu (18/1/2012).
Sulikan , 13 days ago

 

Recent Comments

frida jeane vera commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


Tjut Lita Lambeuso commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


dody muhtar commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


Sameer commented on Makhluk Tuhan Paling Sexy di Nepal
a few seconds ago


sutiana commented on Tibet dan romantisme putus cinta
a few seconds ago