TNI kembali menyiapkan personelnya untuk mengemban tugas dalam rangka misi PBB di berbagai negara yang tengah dilanda konflik. Mereka akan tergabung dalam Military Observer, Military Staff, Satgas FHQSU (Force Head Quarter Support Unit atau Kontingen Garuda XXVI-C1/ UNIFIL), Satgas CIMIC (Civil Military Cooperation) dan MCOU (Military Community Outreach Unit). Penyiapan tersebut diwujudkan dalam latihan pembekalan yang dibuka oleh Waasops Panglima TNI Laksma TNI S. Budiyono, SH di Aula PMPP TNI, Rabu (23/6).
Laksma TNI S. Budiyono, SH yang membacakan sambutan Asops Panglima TNI Mayjen TNI Tono Suratman menegaskan bahwa penugasan dalam misi PBB merupakan implementasi dari amanah UU TNI Nomor 34 Tahun 2004, sebagaimana tercantum dalam Pasal 7 yang terkait erat dengan operasi militer selain perang (OMSP). Secara jelas ditegaskan bahwa TNI “melaksankan tugas perdamaian dunia sesuai dengan kebijakan politik luar negeri”. Tugas tersebut dinilai sangat mulia dan merupakan pelaksanaan misi yang sangat terhormat dan prestisius.
Lebih lanjut dalam sambutannya, Asops menegaskan bahwa pembekalan yang diberikan merupakan materi standar PBB ditambah beberapa materi lain yang relevan guna mendukung kelancaran pelaksanaan tugas. Materi-materi tersebut antara lain materi pengantar berupa pembekalan dari para pejabat di lingkungan Mabes TNI maupun pejabat dari beberapa instansi terkait. Materi umum berupa Standardized Generic Training Modules (SGTM), materi utama berupa Standardized Training Modules (STM) dan materi pendukung lainnya serta gemblengan pembinaan fisik yang akan diterima selama mengikuti latihan pembekalan. Hal ini diharapkan akan mampu memberi nuansa dan wawasan yang berbeda dengan penugasan yang selama ini dilaksanakan di dalam negeri.
Sebagaimana diketahui bersama, penugasan mulia ini telah dilaksanakan sejak tahun 1950-an, saat TNI mengirimkan pasukan Kontingen Garuda (Konga) I ke Mesir pada tahun 1957. Kemudian pada tahun 1960, juga mengirimkan Konga II ke Kongo, yang diikuti oleh beberapa kontingen berikutnya hingga saat ini bertugas dibawah naungan UNIFIL di Lebanon dan MONUC di Kongo. Dewasa ini, TNI juga diharapkan dapat berkontribusi dalam misi PBB di Haiti dan Somalia yang notabenenya merupakan wujud kepercayaan PBB terhadap Indonesia.
Mengakhiri amanatnya Asops Panglima TNI memberikan beberapa penegasan. Pertama, tingkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga benar-benar siap melaksanakan latihan dan tugas operasi dimanapun berada dengan senantiasa berpedoman pada ajaran agama dalam sikap dan perbuatan. Kedua, laksanakan latihan ini dengan penuh rasa tanggung jawab, kesungguhan, dedikasi dan disiplin yang tinggi. Ketiga, pelihara realisme latihan dengan situasi daerah operasi yang dihadapi sehingga didapat kemampuan yang sesuai dengan tuntutan tugas. Keempat, manfaatkan latihan ini untuk meningkatkan profesionalitas baik secara perorangan maupun kerja sama kelompok serta hubungan satuan. Kelima, perhatikan faktor keamanan latihan, baik yang menyangkut personel maupun materiil. Keenam, tingkatkan kemampuan menggunakan Bahasa Inggris dan Arab, karena akan digunakan sebagai sarana berkomunikasi di daerah operasi. Kepada Komando Latihan dan seluruh pendukung latihan, agar bersungguh-sungguh dalam melatih para peserta latihan agar dapat menghasilkan personel yang berkualitas.
Latihan akan berlangsung dari tanggal 23 Juni s.d 22 Juli 2010 diikuti 107 personel gabungan dari Mabes TNI, TNI AD, TNI AU dan TNI AL. Bertindak selaku Komandan Upacara pada pembukaan latihan tersebut yaitu Kolonel Pnb Yulianta yang merupakan Komandan Satgas FHQSU/ Kontingen Garuda XXVI-C1/ UNIFIL.




Recent Comments
a few seconds ago
a few seconds ago
a few seconds ago
a few seconds ago
a few seconds ago