5 Personel staff asal Indonesia yang tergabung dalam UNMIN – United Nations Mission in Nepal (Mbak Metty, Bang Arifin, Bang Avando, Rudy dan saya sendiri) mengadakan acara Trekking ke Base-0 Mt. Everest (Namche Bazaar). Pendakian ini tentunya bukan pada waktu yang tepat karena sudah memasuki masa musim dingin (winter) sehingga suhu udara di sekitarnya sudah mendekati titik beku.
Pesawat yang semula dijadwalkan berangkat dari Kathmandu pada pukul 06.30 molor dikarenakan cuaca buruk (foggy) sehingga baru pada pukul 10.30 kita baru bias take-off padahal semua sudah bangun cepat2 takut ketinggalan pesawat (banyak yang nggak mandi karena dingin). Pada pukul 11.00 kita mendarat di Lukla Airport, _begitu semua personel langsung beraksi dengan kameranya namun langsung diusir petugas untuk tidak memotret di Airport. _Di Lukla kita langsung menuju Namaste Lodge untuk makan siang, 3 orang langsung pesan Yak Steaks yang cuma ada di wilayah ini (semacam kerbau khas Nepal yang berbulu tebal). Atas bantuan Mr. Kami Sherpa di Lukla juga kita menyewa seorang Porter (namanya Surjaman) untuk mengangkut barang bawaan kita. Pada awalnya masih pada gengsi namun setelah beberapa lama semakin banyak barang yang dititipkan di Porter tersebut.
Rencana perjalanan dari Lukla ke Monjo untuk hari pertama sedikit terhambat karena pesawat molor, sehingga kita hanya bisa sampai Pakhding (para juru potret terlalu asyik photo2 sehingga gerakan semakin lambat). Setelah menempuh perjalanan selama 4 jam lebih Pukul 16.10 kita sampai di Namaste Lodge Pakhding. Disini kita langsung makan malam nasi goreng pake telor double (seperti biasa) dicampur sambel yang ternyata pedasnya luar biasa (cabe budar).
Acara malam dilanjutkan dengan ngobrol diruang perapian karena hanya disitulah kita survive dari udara dingin sebelum masuk sleeping bag. Harga sewa kamar di lodge tersebut cukup murah hanya Rs.100 per malam (Rp. 14.000). Namun jika perlu kamar yang pake heater harus merogoh kocek Rs. 1000. Kita lebih banyak dihajar dimakanan karena makanan disini harga gunung (mirip di Irian), selain itu karena udara dingin kita jadi sedikit agak rakus.
Bangun pagi kita di hari kedua kita agak sedikit lambat mungkin efek sehari sebelumnya yang bangun buru2. Kita langsung sarapan pagi dan bergerak lambat mulai pukul 10.00 (rencananya pukul 08.00). Perjalanan dilanjutkan sampai di Desa Bunker disini Mbak Metty berubah menjadi Cowgirl dengan menaiki Mul (perkawinan kuda dan keledai) untuk menambah laju pergerakan rombongan. Di Monjo kita ambil break makan siang untuk mempersiapkan diri menghadapi rute terberat menuju Namche (sesuai peta topographi yang saya bawa).
Setelah makan siang perjalanan dilanjutkan diawali dengan semangat yang tinggi namun perlahan-lahan berubah menjadi keputus-asa-an karena kita harus menempuh pendakian tiada akhir dan udara yang semakin dingin karena matahari mulai tenggelam (sebagai pelajaran jangan bergerak disaat petang). Rombongan mulai terpecah Mbak Metty dengan Mul-nya ngebut didampingi Porter disusul Rudy, sementara saya sendiri yang semula menemani rombongan terakhir mencoba menunggu ditikungan agar rombongan terakhir tidak tersesat, namun karena udara dingin akhirnya sayapun memutuskan untuk segera bergegas ke Panorama Lodge Namche.
Dugaan saya tepat rombongan terakhir mengambil jalan termudah menuju desa Namche yaitu jalur mendatar padahal seharusnya mengambil rute menanjak karena posisi lodge ada di atas. Rombongan tersebut akhirnya bisa sampai juga keatas melewati rute yang berbeda. Sampai di Lodge Bang Avando langsung merebahkan badan karena kecapean dan kedinginan (malemnya bangun langsung kelaparan). Di Panorama Lodge kita dilayani secara istimewa karena pemilik adalah orang tua dari Mingma Sherpa (CITS) rekan sekerja saya di kantor, kita sudah disiapkan kamar deluxe (Si Mingma bilang Boss-nya mau datang).
Pemilik lodge menyarankan untuk melihat Everest pada pukul 06.30 dari Nepal Army Barak di atas bukit Namche. Namun saya melihat keluar masih gelap dan tidak tahu kalau Mbak Metty on-time berangkat sendiri ke atas. Karena saya lihat yang lain masih kecapean saya mandi di hot shower dan langsung sarapan dengan Rudy. Setelah sarapan saya ingin juga ikut naik seperti mbak Metty untuk melihat Everest dari dekat, namun sesampainya di Nepal Army saya kurang puas dan naik keketinggian yang lebih yang ternyata dibalik bukit tersebutpun saya harus naik ke bukit berikutnya (ketutupan, euy!!) dan setelah menempuh waktu 50 menit nanjak nonstop yang bikin dengkul lemes akhirnya saya sampai di Hotel Panorama Syengbonche (3800m).
Dari sinilah saya bisa menikmati pemandangan Sagarmatha (Everest/South Face) dengan cukup jelas. Dengan bantuan kamera Bang Avando saya nge-shot Everest. Sementara yang punya kamera dengan Bang Arifin nge-shot dari Nepal Army barak (3500m).
Setelah puas beraksi dengan tustel masing-masing akhirnya dengan berat hati kita harus kembali melanjutkan perjalanan pulang (Mbak Metty harus cheking out process). Sebelumnya saya sudah merubah jadwal penerbangan (untungnya ticket sudah saya titipkan kepada Mr. Kami Sherpa) sehingga perjalan pulang tidak harus langsung ke Lukla namun kita bisa transit dulu di Pakhding. Setelah menginap di Pakhding kita melanjutkan perjalanan ke Lukla dengan lebih santai karena perjalanan tidak terlalu berat dan kita sudah lebih fresh. Di Lukla kita menginap semalam dan keesokan harinya baru kita terbang ke Kathmandu (seperti biasa pesawatnya telat). Berakhir sudah perjalanan melelahkan namun kami semua sangat menikmati petualangan ini (karena kecil kemungkinan kita kembali lagi ke negri atap dunia ini). Dhanayabat.
Perjalanan yang pasti asik. Semoga semua enjoy..by the way kalo udah balik ke Indonesia, Saya undang makan kepiting..saya tunggu
Sounds a very cool trip thou :)
I’ve been dreaming since my childhood to visit Nepal (after reading Tintin in Tibet, for sure) and now, after reading this article, makes me really want to make my childhood dream come true. Thank u for sharing the strory and the pics :)
wah pastinya capek banget tuh naik ke atap dunia
weledeleh..dingin dingin kok yg daki gunung es..
Luigi…asik ya bisa jalan2 ke Nepal..lihat Everest lagi.. he..he…
wow! bener mas! gak pasti 2 kali untuk bisa berkunjung kesana,ckckckckck…..bacanya aja sambil ngebayangin asyik banget! apalagi ngalamin ndiri….hmmm…beruntung sekali ya…
wah perjalanan yang sangat menarik pak,
nggak semua orang bisa mencapai mount everst,
terlebih soal persiapan fisik yang harus dalam kondisi terbaik,
wah hebat mas…masih kuat fisiknya. saya mah cukup mahameru wae itupun udah belasan taun lalu hahaha
Gila dingin banget pasti di atas gunung itu. Tapi pemandangannya oke banget. Ternyata sebelum kenalan dengan Mas Lugi, saya pernah search blog ini by google saat membuat cerita di blog FS, dan sempat baca-baca. Ditunggu kisah-kisah berikutnya.
belon pernah naik gunung dan kelihatannya gak akan kuat naik gunung *lirik perut buncit :P *
Bagusnya gambar2 disana ….
Senang bgt bisa jalan2 kayak gitu ….
Memang mbak Metty yang terbaik.
Semangat, profesionalisme dan welas asihnya senantiasa menjadi inspirasi para peacekeeper.
Untuk para senior teriring doa senantiasa sehat & sukses dalam melaksanakan tugas.
pasti dingin banget disana..tapi pastinya suatu pengalaman yang hebat bisa mencapai atap dunia, dan bisa diceritain sama anak cucu..hehe..