About This Post

Stenly SAJOW

Correspondent Stenly SAJOW

Total 11 comments

Podcast Status No podcast here!

Features Email article link

Posted 554 days ago

technorati View blog reactions

post to del.icio.us

post to digg

post to ma.gnolia

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Rating Entry

Rating: 5.0/10(1 vote cast)

Articles

Valentine Anak Negeri. Spikolas. Truly World

Sementara di Indonesia ada mulai dari Sabang sampai Merauke, kita semua memiliki populasi yang beragam baik warna kulit maupun budayanya, bahasa dan dialegnya kenapa kita tidak berani bilang kalau Indonesia itu ‘Truly World’.

Udara siang yang cukup dingin masuk sampai kesumsum tulang, meskipun saat ini saya berada dalam ruangan tunggu. Siang ini di lapangan terbang kota Brussels, saya menunggu penerbangan yang akan mengatar saya kembali ke base saya kerja di Monrovia-Liberia. “O la la, kerja lagi… kerja lagi… kiapa ini nyanda mo abis-abis kang? Maar kerja for cari makang dan hidop. Kerja itu musti”. Udara dingin ini pula yang membuat saya ingat bubur manado yang pas kalau dimakan waktu cuaca dingin-dingin. “Hemm kita rindu pa ta pe Mama yang suka momasa tinutuan dirumah”

Jadi ingat pengalaman kemarin, yang mungkin lucu, tapi sudah sering saya alami jadinya nilai lucunya jadi berkurang. Kejadian ini malah jadi hal yang harus di analisa kembali ‘Kenapa’ ?

Kemarin saya masih di New York. Waktu mau menyetop taksi, sang sopir menjawab pakai bahasa Spanyol. Dia pikir saya orang Latino.

Waktu di ruang tunggu di JFK airport di NY, saya singgah beli minum di kafe dalam ruang tunggu airport. Satu Pilipino menyapa saya pake bahasa Tagalog. (Saya cuma bisa sedikit Tagalong, yang saya tahu dari teman-teman Pilipino saya). Kalimatnya yang panjang, membuat saya tidak mengerti lagi. Karena tidak mengerti saya langsung jawab kalau saya tidak bisa berbicara Tagalog. Si Pilipino ini langsung marah sama saya dan bilang kalau saya sombong. Dia bilang kalau saya sudah lupa sama Negara sendiri! Ehhhhhhh do..do.eh… kong kiapa dang? Langsung kita kase tunjung kita pe passport Indonesia. Akhirnya dia mengerti juga dan kita pun sama-sama tertawa. No problem “kabayan”.

Waktu masih kerja di Maluku Utara (dengan salah satu organisasi humanitarian international) saya juga sering disalah sangka. Pernah, Ibu teman kantor saya telepon, kebetulan yang jawab saya. Ibu yang bicaranya sangat kental Jawa Tengah langsung bilang “Bapak sudah pintar sekali bahasa Indonesia. Sudah berapa lama di Indonesia?” demikian kata Ibu itu. Saya cuma senyum dan bilang ke Ibu kalau saya juga orang Indonesia. Cuma dialeg saya agak beda, asing ditelinga ibu karena saya orang dari bagian timur. “tapi kita sama-sama Indonesia khan Ibu?” kata saya. Akhirnya ibu teman saya tertawa diseberang telepon. Dan menjawab “Iya Pak. Kita sama sama Indonesia. Apa bisa bicara dengan…” Tanya ibu itu akrab.

Waktu kerja untuk Tsunami Response di Aceh, didalam pesawat seorang bapak dengan bahasa Inggrisnya yang ‘diusahakan’ dengan segala kebaikannnya mencoba menawarkan kursi dekat jendelanya untuk saya dan bilang “ What… which… is… nice Thailand or Indonesia?” Dia bilang itu setelah saya pindah kedekat jendela dan lihat kebawah. Saya lihat dia bingung, tapi coba senyum ke Bapak itu. Kemudian dia bilang lagi “You… Thailand? Bangkok?” Saya langsung bilang, “Pak saya juga orang Indonesia. Dari Sulawesi Utara. Manado. Kalau bapak?”

Hemmmmmmmm, ternyata bangsa kita sangat besar. Dari Sabang sampai Merauke.

Ingat waktu kerja di Aceh, ada satu dareah yang juga kena Tsunami. Namanya LAMNO. Katanya dulu orang Portugis‚ mangkal disitu. Jadinya sekarang orang-orangnya bermata biru, tegap, tinggi, besar, tapi berbahasa Indonesia-Aceh. Sementara di bagian lainya MEULABOH dan TAPAKTUAN orang-orangnya mirip Tionghoa. Yang dibagain lain LHOKSEUMAWE orang-oranggya mirip India dan Arab. Katanya ACEH itu: Arab, Cina, Eropa dan Hindia.

by beniard at 16 February 2007, 02:00
wah...lama ya gak denger kabar dr liberia...pulang bawa oleh2 ya
by ambar at 16 February 2007, 11:01
aduuuh .... baca ini jadi kangen jakarta eeeeuy ....
by kenz at 16 February 2007, 13:04
Tulisannya panjang, tapi menarik dan lengkap melintasi bangsa seisi nusantara raya ;)) Saya bangga bisa hidup dalam keanekaragaman budaya dan bangsa di Indonesia, meskipun pada akhirnya muncul kekecewaan karena segolongan orang di negara ini sangat anti-pluralisme dan keanekaragaman, mereka hanya menginginkan satu ragam budaya yaitu budaya (ideologi) yang mereka anggap paling benar. *dan bahkan anti valentine... hehehehe... selamat valentine juga, smoga kasih sayang meliputi bangsa Indonesia !
by hani at 16 February 2007, 18:25
kalo gitu bagaimana kalo kita bisnis penerbangan murah ke tanah papua...hehehe

kalo orang cina yang tinggal diluar negeri, banyak yang ganti nama bule dengan alasan untuk memudahkan spelling. jadi waktu saya ikutan kursus bahasa inggris, diabsen ada kolom english namenya :-)

mudah2an kita sadar bahwa keragaman bukan untuk memecahbelah tapi untuk mempersatukan dan seharusnya kita bangga karena tidak semua bangsa memiliki keragaman seperti kita, bukan begitu?
by engelbertus pr degey at 17 February 2007, 22:44
thank you and happy valentine day
by Cathy at 19 February 2007, 00:39
Stanley... Merdeka...!!!

Aduh ngana, panjang amat tulisannya yak... tapi okeh deh...keren bo'...

Met Valentine ye... aku cuman bisa nyangkut di tepi danau ama temen2 utk merayakan valentine, ditemani dng sekumpulan jerapah2 cantik...it's amazing...

see you in indonesia, I'm back in March...

ciao,
cathy


by Yoki at 25 February 2007, 11:05
Ngana pe pake topeng atau pake id tag "I'm Indonesian, but you can think as Latino, Filipino, Thai or any country in the world.." wakkk ini tag atau bikin surat :P hehehe
by ana at 5 March 2007, 21:06
Stenly, ma bro... happy valentine... was nice meeting you again after a loooongggg time since we were both in Aceh... You looked so much better now... (I think your wisdom tells it:))

Hope everything is well with you and hope to meet you again.

love
Ana
by ancilla at 8 March 2007, 21:58
absolutely agree with you sir :)
that's why i also look forward to work in a multi-cultural organization. berat pasti.. tapi ada suatu mimpi untuk mewujudkan indonesia bersatu... tentu tak mungkin sehebat Bung Karno seperti itu, tapi setidaknya bersatu dalam bekerjasama dan bahu membahu mencapai indonesia yang lebih baik..

mengenai ganti nama... tidak semudah itu juga pak..
andaikata yang dimaksud disitu adalah saudara keturunan Tionghua, maka itu akhirnya karena aturan pemerintah yang waktu itu mewajibkan merubah nama. disertai segala intrik2 politik yang mengatasnamakan kepentingan sosial dan kebangsaan...

tak perlu repot membahas ganti nama seperti itu...
bahkan ada orang-orang di luar sana yang dengan bangganya mengaku sudah lupa Bahasa Indonesia... bagaimana bisa maju kalau kita malu?

sementara negara tetangga kita dengan mengusung "truly asia" sebagai nilai jual dalam pariwisata, kita masih saja ribut dengan perbedaan...

yah smoga kita bisa bersatu padu ya...
membiarkan perbedaan tetap ada sebagai kekayaan yang tidak perlu dieliminasi.
by agus hadi waluyo at 2 April 2007, 16:00
I think I'm agree with you
Indonesia is a various country so we have to be proud to our country, however Indonesia still become number five in the world that doing corruption. The question is How to eridicate corruption in indonesia?
by emol at 15 April 2007, 01:35
tulisan yang apik..

ditunggu kisah2nya dari liberia pak :)