Correspondent Stenly SAJOW
Total 11 comments
Podcast Status No podcast here!
Features Email article link
Posted 554 days ago
technorati View blog reactions
post to del.icio.us
post to digg
post to ma.gnolia
<< 'KECAK dan SAMAN' tampil di Lebanon
It is not easy to be me [Refugee] >>
Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.
Full archive here
INDONESIA BISA……..
Salam ,
TjutHerlita.
JKT
by Tjut Lita Lambeuso in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Mas Irawadi,
Wah, BIPSOT sudah jauh berkembang ya….saya juga “Alumni” ...
by Ary Laksmana in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
MAs Irawady, salam kenal ya
Mas, bisa bikin kita jadi tau ...
by Yunita Dwiana P in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
Mas Irawadi,
Dengan giatnya persiapan serta pelatihan TNI baik pembekalan didalam ...
by Luigi Pralangga in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
seng sabar ya nduk….
by Mewal in Kehidupan yang berwarna: “Dari Reksya hingga Amjad”
Kang Luigi,
BRAVO!
Akhirnya ada juga artikel di jagat blogosphere ini ...
by nadia febina in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
setuju!!
jangan pernah menunggu waktu yang tepat. kerna waktu yang paling ...
by caroline in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Bang Luigi DKK,
Bethul, mari kita pupuk terus semangat kebangsaan kita ...
by Faesol in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Dear Kang Luigi,
I have nothing to say, saya juga ...
by Ngatiman Santoso in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Perubahan selalu terjadi.. mari mari kita gapai impian.. wujudkan negeri yang ...
by Jauhari in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Sementara di Indonesia ada mulai dari Sabang sampai Merauke, kita semua memiliki populasi yang beragam baik warna kulit maupun budayanya, bahasa dan dialegnya kenapa kita tidak berani bilang kalau Indonesia itu ‘Truly World’.
Udara siang yang cukup dingin masuk sampai kesumsum tulang, meskipun saat ini saya berada dalam ruangan tunggu. Siang ini di lapangan terbang kota Brussels, saya menunggu penerbangan yang akan mengatar saya kembali ke base saya kerja di Monrovia-Liberia. “O la la, kerja lagi… kerja lagi… kiapa ini nyanda mo abis-abis kang? Maar kerja for cari makang dan hidop. Kerja itu musti”. Udara dingin ini pula yang membuat saya ingat bubur manado yang pas kalau dimakan waktu cuaca dingin-dingin. “Hemm kita rindu pa ta pe Mama yang suka momasa tinutuan dirumah”
Jadi ingat pengalaman kemarin, yang mungkin lucu, tapi sudah sering saya alami jadinya nilai lucunya jadi berkurang. Kejadian ini malah jadi hal yang harus di analisa kembali ‘Kenapa’ ?
Kemarin saya masih di New York. Waktu mau menyetop taksi, sang sopir menjawab pakai bahasa Spanyol. Dia pikir saya orang Latino.
Waktu di ruang tunggu di JFK airport di NY, saya singgah beli minum di kafe dalam ruang tunggu airport. Satu Pilipino menyapa saya pake bahasa Tagalog. (Saya cuma bisa sedikit Tagalong, yang saya tahu dari teman-teman Pilipino saya). Kalimatnya yang panjang, membuat saya tidak mengerti lagi. Karena tidak mengerti saya langsung jawab kalau saya tidak bisa berbicara Tagalog. Si Pilipino ini langsung marah sama saya dan bilang kalau saya sombong. Dia bilang kalau saya sudah lupa sama Negara sendiri! Ehhhhhhh do..do.eh… kong kiapa dang? Langsung kita kase tunjung kita pe passport Indonesia. Akhirnya dia mengerti juga dan kita pun sama-sama tertawa. No problem “kabayan”.
Waktu masih kerja di Maluku Utara (dengan salah satu organisasi humanitarian international) saya juga sering disalah sangka. Pernah, Ibu teman kantor saya telepon, kebetulan yang jawab saya. Ibu yang bicaranya sangat kental Jawa Tengah langsung bilang “Bapak sudah pintar sekali bahasa Indonesia. Sudah berapa lama di Indonesia?” demikian kata Ibu itu. Saya cuma senyum dan bilang ke Ibu kalau saya juga orang Indonesia. Cuma dialeg saya agak beda, asing ditelinga ibu karena saya orang dari bagian timur. “tapi kita sama-sama Indonesia khan Ibu?” kata saya. Akhirnya ibu teman saya tertawa diseberang telepon. Dan menjawab “Iya Pak. Kita sama sama Indonesia. Apa bisa bicara dengan…” Tanya ibu itu akrab.
Waktu kerja untuk Tsunami Response di Aceh, didalam pesawat seorang bapak dengan bahasa Inggrisnya yang ‘diusahakan’ dengan segala kebaikannnya mencoba menawarkan kursi dekat jendelanya untuk saya dan bilang “ What… which… is… nice Thailand or Indonesia?” Dia bilang itu setelah saya pindah kedekat jendela dan lihat kebawah. Saya lihat dia bingung, tapi coba senyum ke Bapak itu. Kemudian dia bilang lagi “You… Thailand? Bangkok?” Saya langsung bilang, “Pak saya juga orang Indonesia. Dari Sulawesi Utara. Manado. Kalau bapak?”
Hemmmmmmmm, ternyata bangsa kita sangat besar. Dari Sabang sampai Merauke.
Ingat waktu kerja di Aceh, ada satu dareah yang juga kena Tsunami. Namanya LAMNO. Katanya dulu orang Portugis‚ mangkal disitu. Jadinya sekarang orang-orangnya bermata biru, tegap, tinggi, besar, tapi berbahasa Indonesia-Aceh. Sementara di bagian lainya MEULABOH dan TAPAKTUAN orang-orangnya mirip Tionghoa. Yang dibagain lain LHOKSEUMAWE orang-oranggya mirip India dan Arab. Katanya ACEH itu: Arab, Cina, Eropa dan Hindia.
« 'KECAK dan SAMAN' tampil di Lebanon It is not easy to be me [Refugee] »