“Cani, cani, hi how are you?” sapa anak-anak kecil itu kearahku dan aku pun tersenyum sambil membalas lambaian tangan ke arah mereka yang memanggil aku ‘Cani’. Aku pun menjawab “_I am fine, thank you and how about you guys_?”. Dengan sigap merekapun menjawab “Fineeeeeee” sambil terus cekikikan tertawa kecil sambil melihat kawan-kawannya.
Mungkin mereka pikir lucu juga si jali-jali ini. Tentunya aku agak tidak menerima panggilan itu , tapi demi keramahtamahan perwakilan dari Indonesia yang tidak dikenal disini itu (kali mereka juga kaga tau dimane’ ntu Indonesia), ya aku terima saja.
Sebenarnya apa sih *“Cani” *itu? Cani diambil dari kata “Chinese” karena umumnya wajah Asia dianggap hampir sama dan yang paling anak-anak kecil itu tahu adalah tampang Asia sedikit saja langsunglah disebutnya Chinese. Atau mungkin juga karena wajah ini mirip orang Cina, Korea, Jepang atau kentara jelas wajah Asia lainnya. Intinya, termasuk mereka para orang dewasanya tetap saja begitu, saat melihat semua wajah Asia maka diasumsikanlah dia seorang Cani , eh Chinese.
Sebagai seorang putra daerah dari tanah Dayak, si jali-jali ini sangat berbangga kalo ada yang panggil “Undrue” atau “Hi Dayak”.hehehehe.. Hal ini karena dari Tanah Dayaklah, aku berasal dan dibesarkan sampai sekolah di bangku SMA. Tapi ya dari mana mereka tau la ya…duh kadang-kadang si Undrue ini ga nyambung! hahahahaha…
Cerita lain dari tanah Liberia
Gemuruh air laut memecah pantai yang tak henti-hentinya bergulung dan seakan akan tidak mau berpisah dengan kekasihnya si pantai.
Di depan guest house dimana aku tinggal sekitar 200 meter adalah pantai yang lumayan bersih tapi tidak bisa dipakai untuk berenang atau berselancar karena ombaknya yang bergulung tidak rata dan terkadang tinggi. Tidak jauh disana, terlihat sebuat resort terkenal di Monrovia. Kendeja Resort namanya, dimana ia juga menyediakan makan buffet seharga US$25, all you can eat hanya untuk hari Minggu saja.
Dahulunya daerah ini merupakan pusat kota tapi setelah pertikaian yang terjadi beberapa tahun lalu, pusat kota berpindah ke daerah Sinkor. Disanalah tumpah-ruah semua pusat bisnis dan perkantoran. Sayangnya Liberia tidak dianjurkan sebagai daerah tujuan wisata. Tapi, jika pemerintahnya cukup peka dan kemudian membenahi pantainya, saya rasa pantai itu bisa menarik wisatawan untuk datang ke Liberia.
Ketika pagi menjelang, kehidupan pagi di Monrovia seperti layaknya kota manapun di dunia. Aktifitas pagi dimulai dengan beberes sekeliling rumah seperti menyapu, mencuci, menebas rumput halaman rumahnya dan memasak sarapan pagi. Yang unik di Liberia adalah bahwa setiap pagi penduduk sekitar Guest House dimana aku tinggal, selalu berkumpul di sekeliling pompa air untuk mengambil air buat keperluan mereka. Dan sementara itu di bagian lainnya, para pekerja kantoran bebenah diri untuk segera menuju kantor masing-masing. Dan sekedar informasi aja, itu pompa air dirante lho kalo udah malam, kayaknya takut ada orang luar yang ikut ambil air di komunitas tersebut atau malah takut pompa air nya yang dicolong…ntar aku cek ya ke mereka.
Lokasi pompa air ini juga menjadi ajang bincang-bincang bagi warga sekitar pompa air sendiri dan juga arena canda ria anak anak yang ikut nimbrung di seputar pompa air ini. Kadang terdengar suara dengan volume besar tapi bukan berarti marah ya! Emang begitu dari sono nya udah enngak bisa diturunin volume-nya. Kurang lebih jam 8 kendaraan operasional jemputan sudah tiba di meeting point untuk membawa kami ke kantor. Sambil berlari kecil melewati jembatan indah, kami bergegas menuju tempat kendaraan tersebut di parkir.
Sepanjang perjalanan menuju kantor kami melewati jalan utama yaitu Tubman Boulevard. Dari taxi-taxi kuning dengan tanda mobil TX-nomor mobil, kendaraan pribadi dengan tanda nomor PC-nomor mobil, mobil bisnis BC, mobil UN, sepeda motor dan truk truk tangki minyak yang semua bergegas untuk sampai di tempat tujuan mereka masing masing.
Jam 8 pagi sudah terlihat ramai aktifitas di sekitar pasar tradisional, wow mereka sangat bersemangat di pagi hari, mungkin mereka pake prinsip nya orang Indonesia “kalo telat bangun rejekinya keburu dipatok ayam” hehehehe ada benarnya juga kalo dipikir. Kita di Indonesia jam berapa ya warung dan pasar buka dan ramai selain pasar subuh ? jam 10 kali ya.
Berikut adalah beberapa kebiasaan yang tertangkap selama 2 bulan ini.
Tulisan di belakang taksi
Yang menarik perhatianku awalnya adalah taksi dengan tulisan-tulisan yang inspiratif di bemper mobil bagian belakang. Kalo kawan-kawan ingin membayangkan, biasanya kita liat di belakang truk seperti yang paling terkenal yaitu “Kutunggu jandamu …..” hahahahaha.
Bayangin saja, mobil angkutan sedan kecil berwarna kuning ini bisa berpenumpang 6 orang, 1 dekat supir dan 4 umpel-umpelan di bagian belakang. Jangan bayangkan mobil baru, ini mobil-mobil ini adalah mobil lama yang mungkin nilai bukunya sudah nol (kata bahasanya akuntansi).
Namun dari semua umpel-umpelan diatas, jepretan yang ini dong parah banget!:
Yang kasian adalah kalau ada ibu-ibu bawa anaknya yang kecil, ya kepanasanlah dia. Bus-bus besar kayaknya diperuntukan oleh lembaga-lembaga pemerintahan / UN / universitas untuk mengangkut karyawannya. Belum lagi kalau si kendaraan ini moghok, bisa memacetkan jalan 10-2 km panjangnya!.
Setir sebelah kiri
Liberia adalah negara yang banyak mengakomodasi peraturan dari Amerika karena mereka adalah negara yang dibentuk oleh para budak yang dimerdekakan dan dipilangkan dari Amerika Serikat. Dan tidak heran kalo mereka (hmhm….) boleh dibilang fasih berbahasa Inggris. Eeiitss..! , tapi jangan salah, aku berjuang keras hari-hari awal untuk bisa mengerti apa yang mereka omongin dalam bahasa Inggris versi Liberia. Logatnya, itu lho.. nggak ngerti!
Salah dua nya lagi adalah peraturan dalam mengendarai mobil/truk. Posisi pengendara di Liberia adalah setir kiri, yang kadang atau bahkan sering membuat saya salah arah ketika membuka pintu untuk duduk di depan dekat sang supir. Mungkin karena sudah terbiasa di ASEAN yang notabene menggunakan setir kanan.
Satu hal yang aku sangat salut disini adalah walau belum melihat lampu merah, tapi lumayan teratur ketika macet terjadi meski tetap sering terdengar bunyi klakson di sana sini. Hal ini sangat berbeda jauh jika dibandingkan dengan kemacetan di suatu daerah perempatan di bilangan Asemka Jakarta Utara. Mobil antri dengan rapi walau polisi hanya ada di perempatan jalan. Terlebih, pengemudi di Liberia sangat menghormati pejalan kaki ketika menyeberangi jalan, selalu memberikan kesempatan kepada mereka untuk melewati barisan kendaraan pagi yang walaupun selalu dalam kondisi bergegas. Atau ada juga yang memberikan lampu dim 2 kali supaya mereka lewat. Saya sangat senang sekali melihat hal yang tentunya harus mereka pelihara sebagai suatu kebiasaaan yang baik ini. Hal ini juga dilakukan bukan hanya pada tempat penyeberangan jalan (sebenarnya cuman ada diperempatan), tapi juga ketika mereka menyeberang di tempat lain. Oiya masalah seat belt tetap sama kecuali si armada kuning banyak yang ga mau pake tuh seat belt.
Loper Koran
Pagi hari di Tubman Boulevard merupakan lahan pagi para penjual koran untuk menjajakan korannya. Mereka berusaha menawarkan korannya sambil berjalan dan berlari di tengah kemacetan jalan yang padat merayap dan bahkan ditengah hujan gerimis. Bila mereka harus berjualan di tengah hujan gerimis, koran akan dibungkus dengan plastik pembungkus supaya tidak basah. Sekali terlihat lembaran LD (Liberty – Liberian Dollar), sang loper koran sambil berlari mengiringi sebuah mobil yang mau membeli korannya dan mencari kembalian di dalam tas kecil kumalnya. Kalau rekan-rekan melihatnya, pasti akan berfikiran sama dengan saya yang melihat mereka tergolong gigih berlari (jangan-jangan mereka memang benar mantan pelari jarak jauh juga kali ya?).
Sampai setelah bertransaksi, si loper koran tadi menarik napas yang terengah – engah sambil menyusun kekuatan baru untuk berlari dan menawarkan koran pagi lainnya.
Koran-koran bagi langganan kantor biasanya dikirimkan sekitar jam 9 – 10 pagi. Koran di Liberia umumnya memuat berita seputar negara sendiri tentunya meski bisa dibilang kualitasnya masih harus mengejar kualitas koran di tanah air. Umumnya, berita yang ditulis cukup singkat dan hanya memuat intinya saja.
Semir Sepatu
Awalnya ga menyadari kalau itu si tukang sepatu karena liat dari kejauhan, tapi begitu mendekat baru sadar bahwa anak kecil yang duduk itu adalah tukang semir sepatu sementara si empunya sepatu tetap dengan melekat pada kakinya sambil menunggu si anak tersebut menyemir dan mengelap sepatu sang empunya.
Bisa jadi mereka takut sepatunya pada dibawa kabur kalau dilepas dan sang empunya sepatu bisa-bisa mau kalo jalannya nyeker takut dikira orang gila. Hihihihi
Kebiasaan mengunyah permen karet
Di kantor kami, sudah seperti sebuah kebiasaan jika kaum hawa bekerja sambil mengunyah permen karet sambil bekerja tanpa memperdulikan siapa yang ada di ruangan itu. Mereka dengan asyiknya mengunyah sambil mengeluarkan bunyi “ petak petok” ketika mereka sedang bekerja. Awalnya hal ini dirasa sangat menganggu. Terfikir betapa kampungan mereka ini dengan kebiasaan buruk tersebut. Lama kelamaan, aku jadi cuek bebek karena kalau dilihat dari Tentunya sangat terganggu awalnya, kok kampungan sekali sih, tapi lama kelamaan kupikir “alah sebodo teuing lah” emang kalo dari segi sopan santun Indonesia mah juara nya saingan ama juara korupsinya hahahaha.
Kebanyakan wanita disini lebih mengutamakan berganti gaya rambut dengan wig ketimbang memanjangkan rambutnya sendiri. Itulah mengapa kadang saya nggak kenal sama rekan kolega wanita di kantor – saban hari rambutnya gant-ganti terus!. Hari ini dia pake wig dengan tatanan: Pita-kaset-kusut (keriwil nggak puguh), besok lusa dia pake wig dengan gaya rambut: Bulu ayam hutan yang jabrik berdiri sana sini. Ampun deh!.
Ohya, ini dia satu yang unik – tatanan rambut gaya uler belang dan tali tambang:
Tentunya banyak hal yang dipantau ketika kita baru memasuki daerah baru, mulai dari cara bertegur sapa, cara mereka berpakaian, berbicara dan cara bekerja. Awalnya hal ini wajar-wajar saja, Aku ga peduli dengan hal itu, karena sudah disinggung oleh salah satu rekan dari Indonesia bahwa dia baru tau satu hal mengenai wanita Liberia pada umumnya memakai wig. Aku mulai mengamati mereka terutama bagian atas kepala nya…yaaa beeeneeer mereka umumnya pake wig, padahal tidak ada salahnya menurut aku mereka berambut pendek tapi mungkin karena sudah menjadi naluri seorang wanita untuk menjadi yang terdepan dalam hal rambut walau harus menggunakan rambut palsu dengan warna warni yang meriah. Aku sering melihat para kaum wanita Liberia yang menunggu armada kuning (baca :taxi) memiliki rambut kriwil yang bagus dan cantik, mungkin tergantung dari pada rasa percaya dirinya saja.
Tentunya hal ini juga berdampak pada bisnis salon kecantikan, tidak banyak ditemui (sepanjang yang aku liat ya) dibandingkan dengan di Indonesia tepatnya di kota-kota besar seperti Jakarta, Medan, Bandung, Surabaya dan kota besar lainnya. Belum dicoba cari tau apakah Liberia juga mengirimkan wakilnya di ajang pemilihan Miss Universe ataupun Miss World. hehehe Mungkin sudah menjadi pemandangan yang biasa di Liberia para kaum hawa memakai wig. Namun demikian, masih banyak kok yang terlihat manis dan cantik seperti mbakyu dibawah ini:
Tatanan busana: Tabrak Corak & Tabrak Warna
_Gubrak dot com_….. hehehe maksudnya bukan tabrakan dalam arti sesungguhnya tapi padu padan nya yang menurut aku sebagai seorang yang bukan pengamat mode, agak mengganggu pemadangan saat melihatnya…..sudah ada aku tulis juga sebelumnya di cerita awal, bagi yang belum membacanya silakan buka cerita yang satu —> INI
Terhadang di antara kerumunan orang yang menunggu armada taxi ada saja yang pake pakaian seperti mau ke pesta, rasanya ga mungkin aja ke pesta pagi – pagi dimana orang-orang sedang heboh mau berangkat kerja.

Typical Mbakyu mau berangkat kerja: Baju gonjreng dengan wig pastinya.
Susah membedakan mana mau ke pesta, atau ke sekolah, ke kantor atau pun ke gereja. Tapi aku yakin ada satu pertimbangan khusus mengapa mereka pake pakaian itu. So pasti dong…..hanya berpendapat kalo mereka berpakaian menyala dan tidak sama dengan warna kulit, adalah supaya mereka terlihat ketika melewati tempat tempat yang tidak begitu terang…..
Sampah
Hal yang satu ini seperti nya sudah menjadi masalah yang harus selalu ditangani dengan serius dimanapun di muka bumi ini. Bagi negara miskin ataupun negara berkembang hal ini belum menjadi prioritas utamanya mengingat dana yang dianggarkan belum begitu besar, sementara pemerintah masih berkutat dengan masalah lainnya. Syukur-syukur kalau alokasi dana untuk pendidikan anak dan generasi mudanya lebih besar. Rasanya akan sangat bermanfaat kalau pemerintah Liberia menfokuskan diri secara serius penanganan sampah yang bertebaran dibeberapa tempat dan juga di pinggir sungai yang mengalir di salah satu area kota Monrovia. Untuk saat ini hujan dari jam 6 sore sampai jam 5.30 pagi belum berpengaruh besar hanya di beberapa tempat yang memang rendah air dengan gampang tertampung untuk sementara waktu sampai matahari bersinar mengeringkannya.Tetapi ketika pemasalahan sampah dan drainase tidak dibenahi, hujan akan menjadi musuh terbesar disini, bisa bisa kota ini akan mengalami seperti apa yang dialami Jakarta beberapa tahun lalu di mana, hampir tidak ada tempat yang tidak dikatakan “banjir”. Kebiasaan masyarakatnya pun perlu di bangun kembali untuk lebih memahami penting nya membuat sampah ditempatnya. Sungai yang ada belum separah sungai yang mengalir di jalan Gunung Sahari, Jakarta disini bau sampah mengalir belum begitu mengganggu tapi akan seperti itu kalau tidak ditangani secara serius oleh pemerintah setempat. Perlu juga memberikan edukasi dan advokasi bagi masyarakat perkotaan.
Cuaca
Cuaca Monrovia atau Liberia pada umumnya sangat bersahabat tidak memerlukan waktu yang lama untuk menyesuaikan dengan cuaca setempat. Tapi mungkin sedikit bermasalah bagi pendatang dari negara dengan 4 musim. Beberapa rekan expat dari negara seperti Canada, Amerika dan negara lainnya menyukai cuaca seperti ini, tapi tentunya mereka juga rindu untuk waktu nya melihat salju yang turun dan dinginnya kayak es batu. Di Liberia sepanjang tahun hanya ada 2 musim yaitu musim hujan dan musim kering. Oiya, ini bulan Juli, dan saat ini adalah termasuk musim hujan dimana hampir setiap hari hujan terjadi lokal atau pun keseluruhan sebentar atau pun lama. Jadi sangat perlu untuk sedia payung dan jas hujan atau istilah nya “rain coat” atau “umbrella” (pake bahasa inggris dikit biar keren gituh …)
Laundry
Atau istilah anak kos nyuci baju. Biasanya guest house selalu menyediakan jasa penyucian baju bagi penghuni nya dan sekali cuci dan setrika, biasanya untuk seorang “caretaker” beberes dan cuci baju dibayar US$60-$75/bulan tergantung besarnya jumlah keluarga. Untuk permasalahan yang satu ini aku selalu membawa baju kotornya ke kantor untuk acara “cuci baju”. Kebetulan dikantor kami punya mesin cuci dan mesin pengering, jadi biasanya baju seminggu dibawa dan dicuci trus sorenya dibawa pulang dengan sudah kering kembali. Beda kalo yang ada di rumah tangga biasanya mereka nyuci dengan menggunakan tangan dan kucek abeeees. Untuk perkara yang satu ini cukup mudah, baju yang tidak perlu pengucekan lama , dimasukan ke dalam mesin cuci dan membutuhkan waktu 5 – 10 menit untuk 2 kali pembilasan dan untuk mengeringkan nya perlu sekitar 30 – 45 menit yang bisa ditinggalkan sambil mengerjakan tugas kantor lainnya. Semua kegiatan diatas tentunya bisa dilakukan kalau ada aliran listrik dari LEC (Liberian Electricity Corporation) – PLN nya sini , bukan yang berasal dari generator. So nyucinya nunggu ada aliran listrik dan kudu ngantri ama expat lain untuk urusan cuci mencuci. Listrik biasanya ada sekitar jam 3 an – sore. Pagi hari jarang sekali, biasanya kami menggunakan generator untuk aliran listrik.
Ngamuk kalau ketahuan difoto
Orang Liberia yang tinggal di Monrovia (kurang lebih 3 juta orang dari total seluruh penduduk Liberia yang 3,4 juta), tidak suka difoto oleh orang asing apalagi pake lampu blitz. Mungkin udah sadar hasilnya ga bakal bagus atau mungkin takut dipublikasikan untuk kepentingan dan keuntungan si tukang jepret makanya harus hati hati kalau mau nge-shot liat liat kondisi juga . Maksud aku disini adalah kalo motret diluar suatu kegiatan misalnya di luar kantor, jalan, pasar dan tempat umum lainnya.
Tapi berbeda dengan orang orang yang saya jumpai di daerah luar kota Monrovia, umumnya pengen difoto bahkan kadang rebutan. Apalagi anak kecil setelah di foto langsung bilang “le mi si…..” (Maksudnya: Let me see…) begitu kata si anak kecil waktu kunjungan saya ke Ganta field office.
Serba serbi Liberia ini semoga bisa menjadi sedikit memberi gambaran bagaimana negara ini menjalani kehidupan mereka, terlebih di masa konflik.

























oom ded..“jangan panggil aku cani” jadi mengingatkan gw tentang si kirik yang ogah dipanggil “pleki”…hehehehe
http://www.facebook.com/photo.php?pid=1372728&id=1064847157&ref=fbx_album
simak cerita “si kirik”..pizzzzzzzz man..
sistem “752 752” nya lebih parah dari angkot2 di bandung,
sampe ke bagasi-bagasi segala naiknya. ckckckc :‘D
Oom Adhit : berarti gue membuka lembaran lama cerita lo dong ?? hhehe ntar gue baca lagi deh .....thanks broDewi : itulah disini, jauh lebih bagus disana…..kalo transportasi nya mah, jangan banyak diharapkan …taxi aja mikir mikir mau naik nya….sampai sekarang belum pernah kepikir, mending diantar driver…..thanks ya….Dedddooottt……jauh amit sich nyasarnya???
Gimana ya nge-describe-nya, hmmmm…….le mi si (LOL), gokil,…. and great story.
So keep on writing yach, jadi gw bisa keikut petualangan eloe. Hehehe……
Photonya bagus2 Ded.
Dan jangan panggil aku “Cani”, panggil aku “Dedot”…hahaha
Sukses ya Ded. GBU
Ndruuuew…. kok kamu jadi pengamat mode gitu di Liberia? Jangan2 bentar lagi buka salon… hehehe… Anyway, have fun ya dear disana.. Cani baik2 yaa.. jangan nakal.. ditunggu cerita berikutnya.. yy
Cerita bagus!!!..btw, klo bu Zuriati, Adit, ato…balqis…ke liberia..pasti dipanggil..: indi…indi…ma anak-anak disana..he..he..