Correspondent Luigi PRALANGGA
Total 63 comments
Podcast Status No podcast here!
Features Email article link
Posted 646 days ago
technorati View blog reactions
post to del.icio.us
post to digg
post to ma.gnolia
<< Kondom kilat [akan] dijual di Afrika Selatan
Life in Liberia is not always a bed of pink rose petals >>
Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.
Full archive here
INDONESIA BISA……..
Salam ,
TjutHerlita.
JKT
by Tjut Lita Lambeuso in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Mas Irawadi,
Wah, BIPSOT sudah jauh berkembang ya….saya juga “Alumni” ...
by Ary Laksmana in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
MAs Irawady, salam kenal ya
Mas, bisa bikin kita jadi tau ...
by Yunita Dwiana P in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
Mas Irawadi,
Dengan giatnya persiapan serta pelatihan TNI baik pembekalan didalam ...
by Luigi Pralangga in Latihan bersama Peacekeeping di Bangladesh
seng sabar ya nduk….
by Mewal in Kehidupan yang berwarna: “Dari Reksya hingga Amjad”
Kang Luigi,
BRAVO!
Akhirnya ada juga artikel di jagat blogosphere ini ...
by nadia febina in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
setuju!!
jangan pernah menunggu waktu yang tepat. kerna waktu yang paling ...
by caroline in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Bang Luigi DKK,
Bethul, mari kita pupuk terus semangat kebangsaan kita ...
by Faesol in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Dear Kang Luigi,
I have nothing to say, saya juga ...
by Ngatiman Santoso in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Perubahan selalu terjadi.. mari mari kita gapai impian.. wujudkan negeri yang ...
by Jauhari in Indonesia bangkit: Pembangunan pilar-pilar itu
Family is important and that is why all of us are here, through the work that we are assigned to, we’re making ourselves to become a better parent, striving for the best for the family’s sake. I love the kids, and I can not wait to play together with them, just allow me right now to lay the ground-work for their future, and our future.
Kehidupan era global macam sekarang ini, dimana setiap individu dalam dunia kerja dituntut untuk bekerja dalam tingkat mobilitas yang tinggi. Tak heran bila kita banyak melihat salah satu prasyarat yang acapkali diminta dalam sebuah iklan lowongan kerja di banyak koran-koran atau pada sebuah job post di internet, kalimat-kalimat seperti ini mungkin cukup familiar terdengar:
“Bersedia di tempatkan di pedalaman dengan frekuensi bepergian ke berbagai pelosok”
“Willing to engage into frequent traveling”
“Posses no restriction to business-related traveling”
“No restriction to join mission assignments”
.. dan mungkin segudang istilah beken lainya yang singkatnya: “Kamu harus mau dan bisa ikut perjalanan dinas, meski itu ke pelosok hutan sana!”
Tiap organisasi atau perusahaan tentunya memiliki tujuan perjalanan yang berbeda, bergantung pada jenis bidang usaha si perusahaan itu dan mitra kerja atau urusan apa yang melatar-belakangi perjalanan dinas itu. Kadang saya dibuat merasa iri akan seorang kawan yang banyak lokasi tujuan perjalanan dinasnya adalah kota-kota besar mancanegara, sebutlah itu kota2 megapolis dunia, seperti Paris, Amsterdam, Rome, Vienna, Tokyo, Seoul, dan nama-nama beken yang selalu dalam deretan ramalan cuaca-nya CNN, dia sudah pasti pernah dan akan jalan-jalan kesana lagi (Kampret!), nah sementara gua, sejauh ini masih menclok dan hinggap di kota pada negara nggak begitu keren serta beken, dalam artian kota turis juga bukan, dan sarat bahaya serta lebih banyak perjorokan-dan-pemandangan yang bisa bikin mata ini terasa sepet, persis seperti kelilipan ulekan sambel!.
Sebutlah itu, Nyamei, Bujumbura, Accra, Monrovia, Lagos, Entebe… dan beberapa nama kota laiinya yang mungkin rada-rada asing di banyaktelinga kerabat saya di kampung. Sebutlah satu adik sepupu saya di Jakarta, pernah berkata: “Bujumbura? – Busyet dah, makanan apa itu? – Gua mah taunya – Bujubuneng!”
Memang, jaman bergeser dan mobilitas manusianya juga lebih tinggi, tak heran kalau banyak orang selalu berkata: “What a small world!” – sebenernya sih si World-nya itu tetep segini-segitu aja, hanya kampret-kampret yang mendiami “World” ini semakin tinggi pergerakannya.
Nah, fenomena mobilitas tinggi ini juga dibarengi dengan cakupan wilayah bisnis global, dimana kadang banyak pribadi diharuskan untuk bertugas jauh dari dimana keluarga mereka berada, entah dalam satu periode yang relatif singkat, atau berbulan-bulan atau malah sekalian untuk masa satu-dua tahun lamanya.
Global Business dan Global offices, atau istilah serupa lainya, seperti Global Operations – keren sih di telinga ini. Coba deh katakan ulangi lagi, Terasa gaya sekali, bukan?
Tergantung terhadap kuping dan penerimaan siapa, istilah tersebut akhirnya berdampak.
Seorang sahabat baik saya dikantor, beliau adalah Staff UNMIL asal dari Republik Tajikistan, berbaik hati untuk mengijinkan saya mengulas sedikit tentang diri-nya. Oke-lah kali ini saya mesti menulis selanjutnya dalam bahasa Inggris, sebab si kampret ini tentunya akan membaca tulisan yang satu ini…
« Kondom kilat [akan] dijual di Afrika Selatan Life in Liberia is not always a bed of pink rose petals »