Slogan didepan komputer saya ini (WELCOME TO AIR OPS PLANNER WHERE YOU“LL NEVER HEAR COME BACK AFTER LUNCH) memang sengaja saya buat bukan karena saya bangga terhadap kantor saya, namun sebenarnya itu adalah aksi protes saya terhadap mereka2 yang bekerja di area ARC maupun Super Camp yang ada di UNAMID (African Union/United Nations Hybrid operation in Darfur) ini. Sekedar informasi saja, UNAMID HQ yang berada di kota El fasher Darfur memiliki empat lokasi kantor terpisah: AMIS, CIVPOL, ARC dan Super Camp yang mana jarak AMIS/CIVPOL ke ARC/Super Camp kira-kira 4 Km. Kebetulan saya bekerja di lingkungan AMIS.
Cerita bermula ketika saya sebagai staff officer menggantikan pendahulu saya, Mayor Pnb Destianto yang sudah berhasil menjerumuskan saya kedalam lingkungan kerja di Air Operation UNAMID. Pertama kali datang ke dalam misi di UNAMID, usaha saya mengurus apapun di markas UNAMID yang ada di dua tempat yang sudah saya sebutkan diatas (ARC dan Super Camp) selalu saja tidak pernah selesai dalam sehari. Padahal menurut saya, jangankan sehari, 15 menit saja cukup untuk membubuhkan tanda tangan mereka. Namun yang terjadi disini memang diluar dugaan manusia normal. Mengapa hal ini terjadi?
Inilah jawaban yang sering dan selalu kami dengar. Pukul 9.00, saya ke kantor mereka untuk mengurus sesuatu dan mereka jawab: “Sorry he is not here please come back later”. Pukul 10 saya datang dan mereka jawab “ I’m just arrive, not ready for work please come back in an hour”. Pukul 11:30 saya kembali lagi dia bilang “come on it is almost lunch time please come back after lunch”. Pukul 15:00 saya kembali lagi dan tahu tidak apa yang mereka bilang : “come back tomorrow”.
Andaikan saja kedongkolan itu benar-benar termanifestasi menjadi penyakit gondok yang menyerang masyarakat kita yang kekurangan iodium, mungkin saya sudah di pulangkan kembali ke tanah air dan harus dilarikan ke RSPAD untuk operasi gondok 10 Kg. Kedongkolan itulah yang menyebabkan saya tidak akan mengurus sesuatu atau berhubungan dengan mereka yang bekerja disana kalau tidak benar-benar emergency, well bukannya rasis tapi kebanyakan yang suka ngomong “come back after lunch” atau “come back2” lainnya ya si penghuni negeri bau kelek itu.
Masalahnya, UNAMID sendiri belum memiliki sistem yang bagus untuk hal yang terkait dengan urusan administrasi. Semisal, untuk mengurus ID card saja, pengantar dibuat oleh kantor CMPO yang ada di area AMIS kemudian pengesahan tanda tangan harus dilakukan di kantor yang berada di Super camp dan kemudian untuk mendapatkan ID card kita harus ke kantor yang berada di ARC. Bisa dibayangkan, kalo saja tiap kantor selalu bilang “come back after lunch” butuh berapa hari kita mengurus sebuah ID yang bentuknya hanya sebesar kartu ATM. Dan itu belum lagi jarak yang harus ditempuh antar kantor tersebut.
“WELCOME TO UNAMID”
Cerita kedua berkisar tentang pengambilan gaji bulanan. Seharusnya ketika kita akan menerima gaji, wajah kita selalu berseri-seri karena akan menyambut datangnya Presiden Amerika Serikat Franklin, Lincoln, Hamilton cs kedalam dompet kita. Namun di UNAMID ini, hari pengambilan gaji adalah hari terlelah selama sebulan bekerja. Untuk mengambil gaji, kita harus antri dari mulai pukul 7 pagi atau kadang ada juga yang dari jam 6 pagi padahal bank buka pukul 9:30. Hal ini dilakukan agar kita mendapat giliran antri 10 terbesar (..ck..ck kayak terima raport aja pake 10 terbesar). Karena kalau kita datang telat sekitar kira-kira jam 8 saja, antrian sudah memanjang. Terlebih, kelakuan orang-orang bau kelek ini yang gak mau ngantri akan membuat penyakit dongkol tambah subur. Mereka ada yang berpura-pura bego lah ataupun ada yang memang sengaja menyelak. Hal yang sering dilakukan adalah yang berpura-pura bego itu tahu tahu sudah duduk di antrian depan. Dan sudah bisa ditebak, tiap hari selalu ada keributan di bank karena masalah ini.
Bank yang ada di El fasher ini mempekerjakan 2 orang customer service dan tiga orang teller untuk melayani ratusan nasabah tiap hari. Lucunya, ketika kita belum memiliki ATM, kita harus antri dulu ke loket customer service untuk menanyakan jumlah saldo kita dan baru setelah itu menulis cek untuk mengambil uang kita yang ada. Setelah pihak customer service menyetujui, kita harus mengantri lagi ke loket teller. Saya pernah menghitung berapa menit waktu yang dibutuhkan untuk mengambil uang di bank ketika kita sudah berhadapan dengan teller, 15 menit untuk sekali transaksi. Jadi bayangkan dengan hanya 3 teller yang bekerja, itu berarti dalam satu jam hanya bisa melayani 12 nasabah. Itu pun belum dihitung waktu mengantri di customer service dan di teller. Kebayang dong butuh waktu berapa jam untuk mengambil gaji?
Ternyata diskriminasi tidak terjadi pada manusia saja namun di UNAMID ini diskriminasi bisa terjadi pada kartu ATM. Butuh waktu kira-kira 3-9 bulan atau lebih untuk mendapatkan kartu sakti ini di UNAMID. Ketika kita sudah mendapatkan kartu ATM dari cabang El fasher, jangan berbesar hati dulu karena merasa kita tidak perlu lagi mengantri dan bisa melakukan pengambilan uang dimana saja. Ternyata kartu ATM yang dikeluarkan di El fasher tidak bisa digunakan di lain tempat. Jadi wajar saja kalau akan terjadi disintegrasi di Darfur ini, toh diskriminasi saja terjadi sampai ke level ATM. hehehe..
ONCE AGAIN WELCOME TO UNAMID
So bagi yang akan bertugas di UNAMID, siap siap menghadapi operasi gondok berkepanjangan..peace in Darfur !

Waaah… akhirnya tertulis juga nih kedongkolan-kedongkolan dalam berurusan sama para staf di Arc Compound, nanti kalau masih kurang bang akan saya print-kan ukuran besar slogan yang ada di pc abang itu trus saya tempel di APC saya saat patroli biar pada tau semuanya sekalian mendukung abang hehehehe….;)
Wahaha, setelah baca article ini memang benar2 bisa membuat gondok dengan prilaku mereka..!! hahaha tetap semangat bang sukses selalu..!!