Pralangga.org | Our Peacekeeping Journey

 
 
masthead

Our Stories: Experiences & Exposures

 

Articles

Welfare Cruise Monusco Staff

3 September 2010, 02:01 , by Lusyanto Januar

 

Recreation is part of our duty as an implementation of implementation of stress management. It aims at performing better at work

“Pablo, Bavon..yaka….viens, arrange this tables & chairs on the barge, apres this, Papa-papa Monusco come” (Pablo, Bavon, kemari, kemari, atur meja & kursi diatas barge, setelah ini bapak-bapak Monusco datang)”, suara Mayor Amrin memecah kesunyian pagi ini. Bahasa diatas kedengarannya mungkin aneh karena memang itu adalah bahasa campuran Linggala-Prancis-Inggris yang mungkin hanya dimengerti oleh awak kapal UN-07 dan pusher-pusher UN dibawah kendali Riverine section Kinshasa, Kongo. Riverine section Kinshasa sendiri memiliki tiga pusher yang dinamai UN-03, UN-07 & UN-11.

143

Terkadang ingin rasanya tertawa sendiri ketika berkomunikasi dengan awak lokal. Kita tidak mengerti bahasa Linggala dan mereka tidak mengerti bahasa inggris. Tak ayal, hanya bahasa isyarat tubuh yang lebih banyak digunakan dan pastinya bisa dimengerti diantara kita.

“ Moy..English problem”, itu yang selalu mereka katakan ketika meminta mereka melakukan sesuatu dalam bahasa inggris.

Salah satu kesulitan terbesar bagi kita yang tergabung dalam misi Monusco adalah kesulitan berkomunikasi dengan bahasa lokal “Linggala”. Jalan keluar terbaik adalah dengan menggunakan prinsip “Salah Paham” (Biarin deh ane ngomongnya salah yang penting ente pada paham).

Hari ini, diadakan Pagi ini, sesuai jadwal akan diadakan pelayaran rekreasi bagi seluruh staff Monusco yang berminat untuk berlayar menggunakan pusher & barge (tongkang) UN-07.

Jadi pantas jika pagi ini Mayor Amrin yang mendapat giliran mengkomandani UN-07 begitu sibuk untuk mengatur segala perlengkapan guna kelancaran acara tersebut. Dari mulai mengatur meja, kursi, sound system, acara selama perjalanan, door prize, makan siang dan perlengkapan penunjang lainnya. Bantuan pengawalan khusus diminta dari Ghana Batallion QRT (Quick Reaction Team) yang berjumlah 12 orang dengan harapan tidak akan terjadi masalah keamanan selama perjalanan. Meski perlu diketahui kalau pelayaran ini hanya menempuh jarak 25 KM dari Onatra Port Kinshasa ke daerah Kingkole dan bisa ditempuh selama kurang lebih 3 jam.

Mungkin bagi para Milobs Riverine, pelayaran ini adalah hal yang biasa karena sehari- hari memang bermarkas di atas Pusher dan sudah menjadi tugas milobs bahkan untuk berlayar menggunakan pusher & Barge. Namun tentu tidak demikian kejadiannya dengan para staff Monusco yang sehari-hari berkutat di kantor, lapangan atau patroli darat saja. Hal ini terbukti dari peminat yang ingin menikmati pelayaran ini meski harus membayar $ 20 per orang/kepala untuk bisa mengikuti kegiatan tersebut.

Pukul 08.00, satu -persatu personel Monusco mulai berdatangan. Kami sedikit terkejut melihat penampilan mereka yang sangat jauh berbeda dengan keseharian yang dilengkapi dengan seragam dan wajah serius. Yang ada pada hari itu hanyalah orang-orang dengan penampilan santai ala turis lengkap dengan kaca mata hitam, celana pendek selutut, kaos u can see, tas pinggang, celana jeans, sepatu gaul, sandal jepit dan wajah-wajah ceria bin sumringah yang terpancar. Tidak kurang dari 100 orang yang datang untuk mengikuti pelayaran ini. Diantara mereka yang bergabung, terlihat Col. Sun Zhi Qun, MLG (Military Liason Group) Monusco, Col. Vikrant Nayar, CMPO (Chief Military Personnel), Col. Fernando Tome (Chief Riverine HQ) dan masih banyak lagi pejabat-pejabat Monusco HQ lainnya.

Pukul 09.00, seluruh persiapan kegiatan selesai. Hal ini terlihat dari meja-kursi yang sudah tertata rapih, sound system berfungsi dengan baik, hadiah Door Prize siap, serta makanan dan minuman ringan yang terhidang teratur diatas meja. Tepat pukul 10.00, pusher bertolak dari Onatra Port. Lantunan musik regae melepas pelayaran ini. ”No woman..No cry..No..woman No cry”,suara Bob Marley terdengar merdu dari pengeras suara di barge UN-07 seakan ikut larut menikmati kemeriahan yang ada pagi ini. Para penumpang mulai bersorak riang, berjoget dan mengikuti irama regae yang mengalun merdu seiring laju kapal yang semakin lama menjauh ke tengah sungai.

12

“It’s Incredible..amazing, this is not the first time for me to go sailing by pusher. But this is beyond my imagination that I’m now sailing on the Congo River”, seorang Staff Monusco dari Pakistan begitu berapi-api mengekspresikan kegembiraan hatinya dapat mengikuti pelayaran ini kepada Mayor Amrin.

412

Keriuhan diatas Barge UN-07 semakin menjadi ketika acara door prize dimulai. Setiap peserta mendapatkan satu nomor undian ketika membeli tiket pelayaran ini. Walaupun hadiah door prize hanya berupa Wine, Chocolate, champagne dan beberapa souvenir tetapi acara ini tetap meriah dan penuh gelak tawa. Pada saat undian diadakan, ada dua orang peserta yang beruntung mendapatkan hadiah. Akan tetapi ketika diminta menunjukan kupon undiannya ternyata mereka tidak dapat menunjukan kuponnya. Tepat di hitungan ke sepuluh..seven, eight, nine, ten..hurayyy.. hilang sudah hadiah untuk kedua orang tersebut, salah satunya adalah MLG, Col. Sun Zhi Qun . We’re sorry Sir…. Dan pada saat itu pula panitia memberikan kenang-kenangan kepada CMPO yang akan mengakhiri masa tugasnya di Monusco

Satu setengah jam setelah kapal bertolak dari Onatra port, ada banyak nelayan diatas kapal mereka di bagian kiri-kanan pusher yang terheran-heran melihat riuh rendah kebisingan & kemeriahan diatas barge UN-07 ini. Satu mil setelahnya, terbentang luas daratan pasir putih Congo river , seakan melambai mengajak semua penumpang untuk berlari, bercanda menikmati tubuhnya. Untuk diketahui, antara bulan Juni hingga Desember, tinggi debit air Congo River mengalami surut sampai dengan 4 meter sehingga di beberapa bagian sungai dapat terlihat jelas hamparan pasir dan lumpur dasar sungai yang tidak dapat ditemui pada bulan Januari-Mei.

Beberapa orang mendatangi Mayor Amrin “Sang Komandan” agar pusher merapat/beaching di daratan pasir putih itu. Permintaan mereka dikabulkan dan Sang Komandan membelokan arah pusher menuju daratan tersebut. Dapat dibayangkan betapa gembiranya para penumpang mengetahui pusher akan beaching di daratan pasir putih. Pusher belum lagi merapat dengan sempurna, beberapa orang sudah berlompatan dari barge keatas pasir putih, mereka melompat seakan tak sabar untuk segera berlarian, bercanda dan menikmati hamparan pasir putih.

65

Diatas pasir putih para penumpang berlari, berfoto, berjoget, ataupun berbaring layaknya anak-anak yang sedang bermain di taman bermain. Para awak kapal pusher pun sibuk menyiapkan makan siang. Namun beberapa penumpang sudah menikmati menu makan siang hari ini yaitu “Shawarma”, makanan khas dari daerah Timur-tengah. Sharwarma ini adalah panganan yang berupa Chipati (sejenis roti) sebagai pembalutnya dengan sayuran, kentang, daging sapi/ayam , mayonnaise, saos tomat/cabe didalamnya.

Di saat yang bersamaan, Mayor Amrin sibuk mengatur para penumpang yang tertarik menggunakan speed Boat (UN-07A), “Gentleman..Please..be patient, everyone has their turn. Ladies first..please”. Mereka seperti anak kecil yang saling berebut dan tak mau kalah untuk mencoba menyusuri Congo river menggunakan speed Boat.

89

Entah berapa lama mereka menikmati hamparan pasir putih, mengendarai speed boat, makan siang dan melakukan berbagai aktivitas di daratan pasir putih. Entah berapa jam pula mereka seperti tak lelah bermain dan menikmati kegembiraan ini.

“ Ladies & Gentlemen,please come back to the pusher, we have to go back to Onatra Port. It’s already 14.00 we have to be there at 15.30”. Begitu bunyi pengumuman berikutnya. Tetapi seperti tidak mendengar atau memang pura-pura tidak mendengar, mereka tetap saja tidak beranjak dari tempatnya dan tetap bermain dan bercengkrama seakan mereka tidak ingin meninggalkan daratan itu. Akhirnya, dengan susah payah, pukul 14.45 seluruh penumpang dapat digiring masuk ke UN-07. “ Mecano, start Engine” Mayor Amrin memerintahkan salah seorang crew untuk menghidupkan mesin pusher untuk segera meninggalkan daratan pasir putih dan kembali ke Onatra Port Kinshasa.

Seperti halnya ketika kapal bertolak, para penumpang tak henti-hentinya tertawa, bersenda gurau dan berdansa mengikuti alunan lagu yang keluar dari pengeras suara dalam perjalanan kembali.” Tum paas aaye, yun muskuraaye, Tumne na jaane kya sapne dikhaaye…Ab to mera dil, jaage na sota hai,. Kya karoon haye… kuch kuch hota hai, Kya karoon haye… kuch kuch hota hai”. Itu suara yang terdengar di pusher.

Pukul 15.45 akhirnya pusher merapat kembali di Onatra Port Kinshasa. Usai sudah seluruh kegiatan pelayaran rekreasi hari ini, usai sudah segala keceriaan hari ini. Usai sudah segala letih-lelah para penumpang, crew dan Mayor Amrin tentunya (ntar malam saya pijetin Tor). Tergambar jelas keletihan dibalik kegembiraan yang dirasakan seluruh penumpang. Keletihan yang mungkin mereka rela ulangi lagi untuk pelayaran-pelayaran rekreasi berikutnya.

“Thank you all for participating in this cruise, see you next time in the other cruises” suara Mayor Amrin terdengar lirih melepas kepergian mereka.

Ta’ ada suatu yang aku harap,
Bukan pula sanjungan yang aku damba,
Hanya kibaran MERAH PUTIH yang aku ingin,
Harumkan wangimu disini …wahai IBU PERTIWI.

Lusyanto Januar

Major (S) Lusyanto Januar is an Indonesian Naval Officer currently serving as Team Leader of UN-07 Force HQ Riverine Section at MONUSCO. Born in Jakarta 07 January 1977, He was commissioned from Indonesian Naval Academy on 1998. He continued his study at Indonesian Naval Institute of Technology (STTAL) in which completed in 2006. To further improve his skills, he followed a number of trainings and courses, national and international. Among them were: Finance Administration Officer Course in 2001 in Bandung, Peace Support Operations for Instructor’s (PSOIC) in 2009 in Jakarta, and UNMO’s Course in 2009 in the Netherlands.

Detail Profile »

1  Comment

by Luigi Pralangga at 4 September 2010, 06:52

Staff Welfare Activities, emang udagh menjadi keharusan bagi mereka yang bertugas di mission.. kalau saja saya ada disana – mestinya kitabikin second trip lagi ya setelah pasukan lainnya itu pulang – trip khusus staff Indonesia aja ya, mas! :D

Salam hangat dari panasnya Kuwait City!

 

Add Your Comment

Use the form below to comment on this article. Show who you are with a Gravatar. Your email will not displayed or passed on to any third party. Comments may be edited prior to publication and inappropriate comments may be deleted

Your Name


E-mail


URL


Message


Textile Help




Subscribe to RSS

pralangga.org subscribe to feedburner

0 people subscribing to this blog

Enter your email address:

   

About

Welcome to Our Peacekeeping Journey, a website dedicated to the peacekeepers, the ones whose currently serving at United Nations Peacekeeping Missions, those who concluded the mission assignments, and those others whose line of work are in support of establishing peace wherever they are. This is our stories about our life. Read more ... »

Correspondent

Anggiat Napitupulu Was born in Jakarta and graduated from The Indonesian Military Academy 1997, ANGGIAT NAPITUPULU, SH has been serving the country in variety of situation as in posted areas until recent days. As an Army Military Police officer, firstly, I’d been...

Detail Profile »

View All ...»

 

Recent Stories

Peranan Pendamping Peacekeepers
Well, edisi yang satu ini kalau mau diurai mungkin baru akan habis 4 hari 5 malam, kok nanggung?. Kenapa nggak sekalian aja 7 hari 7 malam?. Jangan dong.. nanti nggak tidur lantas hari Senin-nya nggak bisa bangun untuk kerja. Anyhow, merujuk judul artikel kali ini, saya ingin mengulas sedikit akan peranan sang pendamping. Biasanya jarang dalam artikel ini dan sajian bacaan di warung sebelah saya mengulas perihal si Idung Pesek ini. Ya, “Idung Pesek” itulah sebutan romantis sang pendamping saya. Mungkin bagi rekans yang selama ini sempat mengikuti rentetan panjang sajian cerita di warung sebelah akan faham seperti apa wujud, kelakar dan personality traits si pendamping peacekeepers ini.
Luigi Pralangga , 7 days ago

Pemberdayaan kapasitas Police Adviser Kontingen Garuda Bhayangkara
Dalam memenuhi permintaan PBB, Polri perlu mempersiapkan personilnya secara maksimal, oleh karena itu selain dari kemampuan yang handal, perlu mengetahui apa saja yang diminta oleh PBB sebagai Stakeholder. Dari sekian banyak persyaratan yang diminta, Komandan Kontingen perlu membawa jumlah personil yang banyak. Dibandingkan Negara lain, personil Polri dalam Misi Perdamaian PBB tidaklah banyak.
Krishna Murti , 10 days ago

TNI bantu Levelling Camp Guatemala
Di samping tugas pokok Mengerjakan jalan antara Dungu-Duru, kepada United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo (MONUSCO), Satgas Kompi Zeni TNI Konga XX-I, khsusnya personel... »
Sulikan , 10 days ago

Indobatt latihan dengan Tentara Spanyol di Lebanon
Latihan melibatkan empat tim dari masing-masing Kompi dengan skenario penempatan dua tim sebagai Temporary Observation Postn (TmOP) sebagai ujung tombak pencari informasi, dan dua tim lainnya sebagai Permanen Observation Post (PmOP), masing-masing postn terdiri dari enam personel Indobat dan 2 personel dari Spanyol, tim TmOP bertugas sebagai ujung tombak dilapangan sebagai pencari informasi dengan menggunakan peralatan pendeteksi canggih yang dimiliki Spanyol.
Wandi Suwandi , 11 days ago

TNI Bantu Clearing Landasan Helipad di Dungu
(Dungu-Kongo, 19/01). Prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Kompi Zeni TNI Kontingen Garuda XX-I/MONUSCO dibawah pimpinan Letnan Kolonel Czi Sapto Widhi Nugroho selaku Komandan Satgas (Dansatgas) di samping tugas pokoknya memberi bantuan Zeni kepada Divisi Timur Brigade Ituri MONUSCO (Mission De L Organisation Des Nations Unies pour La Stabilization en Republique Demokratique du Congo) diantaranya mengerjakan jalan Dungu-Duru sepanjang 38 Km dan pemeliharaan Runway, juga melaksanakan clearing di sekitar landasan Helipad di Dungu agar tetap terjaga kebersihannya serta tidak mengganggu helly pada saat take off maupun landing, Rabu (18/1/2012).
Sulikan , 13 days ago

 

Recent Comments

frida jeane vera commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


Tjut Lita Lambeuso commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


dody muhtar commented on Peranan Pendamping Peacekeepers
a few seconds ago


Sameer commented on Makhluk Tuhan Paling Sexy di Nepal
a few seconds ago


sutiana commented on Tibet dan romantisme putus cinta
a few seconds ago