Hampir genap satu tahun.. ya satu tahun, bayangkan.. waktu cepat sekali berlalu. Per bulan September nanti akan genap satu tahun masa tugas saya di Liberia. Sebuah negeri yang banyak orang katakan bahwa Liberia is the jewel of West Africa (Baca: adalah permata bagi Afrika Barat).
Mungkin pernyataan itu adalah benar, khususnya bagi mereka yang pernah merasakan atau berkunjung ke Liberia saat negeri ini sedang dalam pada masa kejayaan/keemasannya di era 80-an, dimana banyak orang menyebutnya sebagai pusat kebudayaan Afrika Barat. Banyak siswa asing yang pergi menuntut ilmu ke Liberia dan University of Liberia adalah termasuk tersohor mencetak lulusan mapan bagi regional ini, serta kemakmuran bumi serta kekayaan alam yang melimpah. Hingga saat itu, Liberia adalah salah satu tujuan sandar banyak kapal pesiar dari Amerika dan Eropa.
Melihat keseharian yang disaksikan kedua mata ini, nampaknya saya masih ragu dengan gambaran-gambaran diatas yang saya dengar dari para kolega staff nasional UNMIL dimana acapkali begitu antusias menceritakan bagaimana “Liberia – tempoe doeloe”. Kondisi Monrovia, secara keseluruhan dirasa stabil dan saya harus bilang bahwa saya cukup beruntung untuk bisa mendarat saat situasi di lapangan tidak seperti pada periode awal (mission start-up), sekitar tahun 2004 – 2005.
Setelah diterjemahkan beginilah kisah mereka:
“Von, kamu beruntung lho … kalau saja kamu tiba disini awal tahun 2005, wah sengsaranya minta ampun..!”
“Bener, lho.. mau cari rumah kontrakan susah!, Banyak bangunan berdiri, tapi tidak layak, lalu harus bergelut dengan urusan genset yang sering mogok, minyak solar genset yang sering di curi oleh penjaga malam atau malah si tukang gensetnya.. plus banyak perampokan yang mentargetkan para staff UNMIL asing..!”
dan banyak lagi cerita-cerita “seru“ lainya saya dengar dari beberapa kolega yang sudah beberapa tahun berada di lapangan. Dahi ini sering mengkerut dan kemudian tertawa kencang mendengar cerita pengalaman [menderita] mereka itu semua. Sekilas memang terdengar amat menarik dan gelak-tawa itu amat menghibur saat mendengar sebuah cerita bagaimana satu kawan harus berhemat air untuk mandi dengan menggunakan air mineral, lantaran air ledeng di hotel itu (ingat ya, ini Hotel!) keruh persis air comberan yang coklat itu.
Buat yang ngedengerin cerita pasti kocak-lucu, nah buat yang ngejalanin pengalaman itu, pastinya sih derita-nestapa!
“Listen, I had to use the mineral water for shower! and those things are expensive, so maximum I used 2 bottles of the 2 liter ones, where one and a half for shower and shampooing and the rest for tooth brushing!”
“Just could not do it, brushing my teeth with those brownish water and smells like.. yuck!” – kilas si bule cantik asal Kroasia itu.
Ya mungkin saya memang beruntung. Dan beberapa jepretan di bawah, bolehlah dikatakan gambaran seberapa beruntungnya mendapatkan Liberia sebagai penugasan misi peacekeeping saya yang pertama:

Beruntung: Punya kawan satu negara di daerah pasca-konflik begini

Beruntung: Punya pengawal pribadi yang setia menjaga keselamatan kita ;-)

Beruntung: Punya kesempatan senggang untuk piknik akhir pekan
Namun demikian, terlepas dari “Pretty pictures” diatas dan kondisi nyaman saat ini seperti mereka katakan itu, tetap saja:
“Bekerja di daerah pasca konflik dalam setting misi pemulihan perdamaian itu benar-benar stressfull!. ”
Selain beban kerja yang bisa dikatakan hampir 10 kali lipat dari pengalaman sebelumnya di Dili, Timor Leste, tidak ada sarana hiburan atau relaksasi bagi kita-kita kecuali pulang mudik kampung.
Mungkin saat dulu masih bertugas di WFP – Timor Leste , jarak antara Dili – Surabaya bisa dipastikan kurang dari 5 jam sudah sampai dan dalamnya kocek ini dirogoh tidaklah separah seperti mudik dari Liberia ke Indonesia, yang notabene untuk tiket penerbangan-nya pergi-pulang saja akan habis minimal US$ 1,500 sendiri. Nah, tidak bisa sering-sering mudik, khan?
Saat pertama kali tiba, dan melalui serangkaian induction training, yaitu semacam training orientasi lapangan dan situasi keamanan wajib dilalui oleh setiap ‘new arrivals’, dijelaskan salah satunya perihal ORB (Occupational Recuperation Break), sebuah jatah libur yang dikenal dengan istilah “Jatah libur yang sebaiknya dipergunakan bila tidak ingin gila“. Dalam hati, masak sih kalau nggak libur bisa jadi gila?. :-)
Ternyata sodara-sodara, selepas menjalani tugas rutin dan kehidupan di mission selama 6 bulan pertama, tingkat stress bekerja di mission memang benar-benar tinggi, dan tanda-tandanya bila kewarasan dan sensitivitas seorang staff mission itu sudah pada titik jenuhnya, antara lain:
1. Menunjukkan kartu IDnya setiap saat keluar/masuk restoran.
Memang, bagi kita yang bekerja di banyak kantor pada gedung-gedung besar itu, menunjukkan kartu ID pegawai saat keluar/masuk adalah keharusan dan saking rutin-nya kebiasaan itu, sudah otomatis buat kita untuk menunjukkannya saat menaiki tangga memasuki gedung. Nah, bagi mereka bekerja di mission yang sudah stress di stadium akut, maka sudah tidak bisa membedakannya lagi antara masuk kantor dan masuk restoran.
2. Emosi tinggi dan/atau sensitivitas menaik.
Kita faham bener bahwa bagi mereka yang memiliki kendaraan, servis berkala sudah menjadi keharusan, jika terlambat maka akan mulai terasa kalau si kendaraan agak terasa tidak nyaman dipakai. Mulai dari akselerasi kurang responsif, kalau berlanjut hingga terus bisa mengakibatkan mogok total, yaitu turun mesin (overhaul). Nah, sama dengan fleksibilitas psikis mereka yang bekerja di peacekeeping mission. Jika sudah saatnya jatuh tempo, maka pergunakanlah si ORB itu, bisa digabung dengan tabungan hari cuti, untuk pulang mudik atau sekedar berlibur keluar dari mission area untuk relaxing agar terhindar dari jobs-burnout. Jika rekan kerja disebelah saya, entah karena sesuatu menjadi terlihat mudah tersinggung atau marah, atau kadang tidak fokus, nah itulah tandanya bahwa dia sudah semestinya mengambil break ORB tadi.
3. Lupa tanggal dan hari
Bener juga sih, kadang kalau sudah bekerja kita suka lupa waktu, misal lupa bahwa ini sudah saatnya makan siang atau bahkan pulang. Nah, bekerja di peacekeeping mission seperti di Liberia dan beberapa daerah pasca konflik lainya, karena faktor isolasi karena pertimbangan keamanan, serta restriksi atau larangan lainya, membuat setiap hari menjadi monoton. Hari Senin, Sabtu dan Minggu nampak hanya memiliki perbedaan tipis atau malah tidak ada sama sekali. Maka tidak heran kalau banyak dari kita sudah lupa tanggal dan hari.
4. Sering berargumen dengan sanak-famili di telepon.
Hahaha.. ini dia yang sering sekali terlihat. Kalau bukan si staff yang bersangkutan yang terdengar sering ‘berkelahi’ di telepon atau malah sebaliknya, si pasangan di ujung samudra itu yang terdengar “nyap-nyap” di telepon. Memang hubungan atau relasi jarak jauh banyak memberikan cobaan yang bukan kepalang bagi mereka yang berada ditengah setting atau situasi demikian. Ibarat tanaman hias, relationship juga perlu perhatian dan sentuhan fisik agar dia tumbuh besar dan kuat.
Kayaknya, saya harus bilang bahwa saat ini, saya sudah setress berat dengan kerjaan dan pergi berlibur adalah sebuah keharusan yang mendesak. Masa bodo-lah dengan harga tiket penerbangan yang muahalnya minta ampun, karena pihak travel agent bilang bahwa tiket saya dipesan bertepatan dengan periode _’peak season’_dan liburan musim panas (Summer holidays).
Belajar dari pengalaman dan contoh kawan-kawan seperjuangan, nggak ada salahnya untuk tereak:
When my cup is full, then my cup is full..
if you still keep pouring me [with more work], I am going to spill it over..
Dan banyak lagi tanda-tanda lainya, mungkin kawan-kawan peacekeepers pada duty missions lainya atau rekan pembaca bisa dengan senang hati berbagi dan menambahkan tanda-tanda diatas?.


keren oy!
Hehehe…i think its a right thing to say ‘when my cup is full..then my cup is full…What a good advice :)
When we push our selves to have more works it will be overloaded…Being stress is really consuming. It consumes our heart and mind and even our body…
If we cannot handle it then the results are above :)
We become very very sensitive…
We are angry about certain things without reason,
Hahaha…what i am trying to say that its not good to be stress.
Take a break, free your self (listen to your favorite music or watch a movie), do things that you like to do, smile a lot, laugh a lot :) eat a lot and rest a lot (based on self experience).
Well, i think that is all for me. Please take a good care of your self guys..Be safe..Wish you all the best…
Ganbatte ne minna-san!!!
its nice to be one of peacekeeping family….GARUDAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!
Selamat berlibur yah, neng.. semoga kembali sehat dan dengan semangat baru!. Salam hangat buat keluarga di tanah air. :-)
Betul tuh Vonny, kalau udah stress betul, ya obatnya tidak lain adalah pulkam. Sekarang pasti sedang menikmati libur bersama keluarga dan sanak saudara.
Saya juga mau pulang nich. My cup is also full now. Gak peduli lagi harga tiket mahal, pokoknya harus pulang. Apalagi setelah membaca artike Vonny ini.
Harga tiket sekarang udah USD 1900-an Von. Terima kasih kepada Kang Luigi yang telah susah payah mengurus tiket saya, harus ngirim duit cash ke Accra (Ghana) pakai UN Flight, Nelpon staff Movcon Accra untuk ngambil tiket ke Emirates dan mengirimnya lagi ke Monrovia. Harganya pun dapat USD 1,800-an karena dipesan menjelang sebelum harga naik 1 Agustus.
salam pak. terimakasih dah mampir. wah blog nya rapi. berdisiplin tinggi keknya neeh :D
makanya kan mba, ada rest & relax buat pekerja humanitarian itu.. kalau ga, tekor karena harus bayar konseling :p