Meski suasana Idul Fitri sudah lumayan lama berlalu, namun bagi kita-kita yang berada jauh dari kampung halaman masih membekas seperti baru saja
kemarin lusa. Sebulan penuh menjalani ibadah puasa Ramadhan, tentunya sudahlah membekas pengalaman ramadhan bertahun-tahun lapanya dialamai saat di kampung halaman, mendengarkan suara takbir dari surau,atau masjid-masjid yang menggema keseluruh alam raya saat hari raya Idul Fitri tiba, sebuah suasana yang mampu membuat rambut kuduk ini berdiri merinding.
Bagi saya pribadi, bulan Ramadhan adalah bulan yang sarat makna dan limpahan pahala, dimana mutu/kualitas ibadah mesti senantiasa dipersungguh dan di-giat-kan, terutama ibadah lainya selain ibadah wajib, selain itu Hari Raya Idul Fitri adalah juga kesempatan bagi diri untuk bisa bertemu sanak-famili sekaligus dalam waktu bersamaan, menghantarkan salam silaturahim dan menjabat erat para kerabat yang tinggal di kota lain datang berkumpul yang belum tentu bisa bertemu sapa setahun sekali.
Namun kali ini [dan sebelumnya lebaran tahun 2004], kawan-kawan dari TNI yang bertugas sebagai Military Observer dan saya di Monrovia, karena masa tugas, mengharuskan diri berada di Liberia, dan tidak mudik kampung untuk merayakan Lebaran.
Selama bulan Ramadhan, kawan-kawan Milobs sangat berbaik hati untuk mengundang saya ke rumah mereka untuk bersantap buka puasa bersama dengan menu “combat ala carte” – apaan sih itu? Iyah combat ala carte artinya makanan siap saji khas Indonesian Peacekeepers.
Dengan bumbu ala kadarnya, semuanya terasa sedap/nikmat untuk level/standard peacekeeping mission. Segala keterbatasan bumbu dapur dan penyedap lainya dimana banyak tersedia di kampung, si masakan itu; rendang ala monrovia, tumis bayam bumbu loreng, balado telor cengek-raya (Maksudnya: sarat cabe rawit liberia), dan serba-neka hidangan santap malam berbuka puasa, sudah cukup membuat kenyang perut ini dan bahagia hati dibuatnya pada malam – malam itu.
Lebaran pun tiba, kami pergi untuk sholat Ied di Jordanian Battalion Mosque, di UNMIL Logistics Base, di bilangan Freezone.. disitulah saya merasakan kerinduan akan suasana indahnya berlebaran di kampung… sedih sekali hati ini terenyuh haru, seraya mengucap dalam hati memohon pada Alloh SWT agar kiranya pada Lebaran di tahun selanjutnya, insyallah bisa dilaksanakan bersama keluarga di kampung halaman.
Hidangan Idul Fitri pun sudah tersaji lengkap di Rumah Indonesian Peacekeepers di 18 Street, Sinkor Area – Monrovia, dimana kawan-kawan sudah sibuk mempersiapkan di saat malam takbiran. Opor Ayam, Sapi cah Cabai, Lontong jadi-jadian, kerupuk, dan dendeng goreng. Memang hidangan itu tidaklah secanggih menu-masakan yang biasanya ibu saya dan ibu mertua saya sajikan saat lebaran, namun itulah yang terbaik kita bisa lakukan bersama disini.. sembari diselingin obrolan-obrolan seputar masakan lebaran dari daerah asli asal masing-masing.
“Wah kalau di kampung saya, sudah pasti ada menu ini, itu, wess, pokoke gemah ripah long jinawi, dah!”
“Biasanya sih di rumah siap dengan satu panci besar opor ayam, sambel goreng ati, dan acar kuning.., itu sudah pasti nggak ketinggalan..”
“Ini orang-orang dirumah pasti sudah keliling ke para tetangga pada makan enak nih… “
..dan ungkapan/ekpresi serupa lainya dari kita masing-masing membicarakan dan membayangkan bagaimana indah dan nikmatnya melalui Hari Raya Idul Fitri di kampung halaman.
Hari Raya Idul Fitri di Liberia, tidaklah terasa ramai dirayakan dan dijalan-jalan terlihat satu atau dua kelompok orang yang berjalan dengan busana muslim khas Afrika yaitu para bapa-bapa yang memakai seperti baju daster mamak-mamak di kampung saya, dengan warna dan corak seragam sekeluarganya.. takbir pun tiada nyaris terdengar, sebab tidak banyak masjid di Monrovia, dan komunitas Muslim di Liberia sangatlah sedikit.
Esoknya, kami pun masuk kerja seperti biasa, dan menerima banyak email ucapan selamat hari raya idul Fitri dari keluarga dan kawan-kawan di tanah air. Tidak lama pun melintas seorang kawan baik saya, Om Rane Hafied, blogger dari Singapura dan berbaik hati meminta saya untuk berbagi kisah Berlebaran di negeri orang.
Terima kasih Om Rane atas kesempatan sharingnya di Radio International Singapore, edisi Lebaran, semoga cerita sharing Lebaran-nyabisa berkenan di hati para pemirsa-nya.
Recent Comments
a few seconds ago
a few seconds ago
a few seconds ago
a few seconds ago
a few seconds ago